Bahagia (lagi)

Setelah kita tahu bahwa letak kebahagiaan itu ada di dalam (hati), selanjutnya yang harus dilakukan adalah memulai perjalanan ke dalam hati diri kita masing - masing. Namun sebelumnya simaklah pesan mantan Sekjen PBB, Dag Hammersjold, yang banyak melakukan perjalanan antarnegara dan antarbenua. Dia mengatakan; ''Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri kita sendiri.'' Kalau di bahasa kita ada pepatah; Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi kuman di seberang lautan nampak. Ada lagi pepatah mengatakan; Buruk muka cermin dibelah. Atau kata bijak yang lain; Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput rumah sendiri. Ini menunjukkan bahwa memang untuk masuk dan melihat diri sendiri secara utuh itu sangat berat – tantangannya, dan dibutuhkan perjuangan yang panjang, baik menurut ukuran waktu dan lika – liku jalan yang harus ditempuh. Terlebih jika tidak mendapatkan bimbingan dari orang yang tepat dan petunjuk pelaksanaan yang jelas, oh niscaya gagal keprathal di tengah jalan, bahkan ketika baru memulainya.
Untuk memulai perjalanan ke dalam hati prinsip pertama yang harus disadari adalah bahwa semua amal yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Ingatlah firman Allah dalam Surat Fushilat ayat 46 :Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) berat atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.
Kita berbuat baik hasilnya akan kita petik nanti. Sebaliknnya jika kita berbuat jelek, maka hasilnya juga kita yang akan menuai nanti. Adapun orang lain ikut merasakan kebaikan yang kita perbuat, itu hanyalah efek samping. Bisa juga dikatakan sebagai lebihan atau cermin. Yang terpenting adalah bahwa hati kita merasakan kepuasan ketika kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Hati merasa bahagia sebab kita bisa menyenangkan orang lain. Kebahagian mereka adalah kebahagiaan kita sebab kita hanya sebagai perantara saja. Tak lebih. Yang kita lihat adalah apa yang akan dirasakan hati kita. Tidak terbalik, kita malah mengharapkan balasan darinya. Atau merasa sombong dengan kebaikannya. Kalau bukan karena saya, oh pasti......... Karakter (lembah manah) seperti di atas akan didukung apabila kita bisa memiliki paradigma menjadi, bukan memiliki dalam keseluruhan hidup ini.
Dalam kehidupan ada dua paradigma. Pertama, golongan "Memiliki", dan kedua aliran "Menjadi". Paradigma "Memiliki" dianut oleh kebanyakan orang.  Disini ukuran kesuksesan adalah apa yang kita miliki. Manusia dinilai dan menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki : harta, rumah, kendaraan, jabatan, pangkat, dan sebagainya. Paradigma Menjadi adalah paradigma yang melihat seseorang berdasarkan kualitas kemanusiaannya. Disini yang penting bukanlah apa yang kita miliki tetapi karakter kita, kepribadian dan pertumbuhan diri kita sendiri. Orang dengan paradigma Menjadi bukannya tak memiliki barang apapun. Ia juga memiliki sesuatu dan mencintai sesuatu itu, tetapi ada batasnya: ''Sesungguhnya dunia ini hijau dan manis, maka barang siapa yang mendapatkannya dengan baik, niscaya akan diberkati. Tapi, siapa yang mendapatkannya dengan cara berlebih-lebihan, niscaya tidak diberkati. Seperti layaknya orang yang makan dan makan, tanpa pernah merasa kenyang.''

Bedanya, ia tak terikat dan tergantung dengan sesuatu itu. Ia sadar bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat dengan mencari ke dalam dirinya. Ia sadar bahwa apa yang dimilikinya hanyalah pinjaman yang suatu ketika akan kembali kepada pemiliknya yang sejati. Karena itu kehilangan sesuatu baginya bukanlah kehilangan segalanya. Jangan lupa, manusia disebut sebagai Human Being dan bukan Human Having!

Paradigma "Memiliki" mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, manusia takkan bahagia, karena akan selalu merasa kekurangan. Manusia terus dipacu untuk memiliki lebih banyak lagi. Manusia yakin akan bahagia bila semua keinginan Manusia terpenuhi. Padahal keinginan inilah yang membuat Manusia tegang dan frustasi. Manusia tak bahagia karena lebih memusatkan diri pada segala sesuatu yang tidak Manusia miliki dan bukannya pada apa yang telah Manusia miliki.

Kedua, paradigma memiliki akan membuat Manusia dihantui ketakutan. Manusia takut kehilangan apa yang telah Manusia peroleh dengan susah payah. Bayangkan orang yang berani bersikap kritis. Coba beri ia jabatan. Biasanya keberanian dan daya kritisnya akan menurun. Mengapa? Karena kini ia sibuk dengan jabatannya. Ia sibuk melakukan apapun juga supaya jabatannya tak hilang. Ada guyonan, apa bedanya pejabat dengan guru? Kalau guru menyampaikan materi dalam presentasi dilakukan dengan posisi berdiri, sedangkan pejabat jika menyampaikan materi dilakukan dengan duduk. Mau tahu kenapa? Sebab takut hilang kursinya kalau ditinggal berdiri. Ketakutan kehilangan kekuasaan ini sebenarnya jauh lebih berbahaya ketimbang kekuasaan itu sendiri!

Ketiga, hidup kita akan stagnan. Terpenuhinya keinginan manusia paling-paling hanya membawa kesenangan sesaat. Begitu manusia memiliki sesuatu, penghargaan manusia pada sesuatu itu biasanya berkurang. Seorang lelaki tertarik  pada seorang gadis cantik, kemudian menikahinya. Lantas, apa lagi? Ini beda dengan paradigma "Menjadi". Manusia tetap bisa meningkatkan kualitas diri  menjadi suami yang makin baik dari waktu ke waktu. Paradigma "Menjadi" memang tak ada batasnya.

Jadi, mari kita sadari bersama bahwa langkah awal untuk bahagia adalah menyadari bahwa semua tindakan yang akan kita lakukan akan kembali bermuara pada diri kita masing - masing.

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - gendis

    Assalamualaikum wr wb.... :D semakin hr gendis semakin suka n sayang banget sm nasehat2 n cerita2 di website ini....membuat semangat kerja gendis di kantor bertambah,membuat diriku yg jauh dr negara Indo semakin semangat tuk mengaji biarpun via NET, semakin membuat ndiz kangen kampung halaman.<br />cerita2 ini adalah nasehat2 ku.<br />ijin njih ..setiap cerita n nasehat gendis copi ..gendis jadikn file..setiap pulang kerja kl tdk ada ngaji di NET gendis baca ulang.dulu gendis sering x beli buku2 cerita2 yg pelan tp pasti mmpengaruhiku.<br />Aljkmro semoga Allah paring ASLB

    0 Like
Powered by Komento
FaLang translation system by Faboba