Hutang

 

Istri saya tipe orang yang benci hutang. Lebih baik sabar, menunggu sampai pada waktunya. Insya Allah akan kesampaian juga apa yang dibutuhkan.  Kalau tidak mampu ya sudah, mampunya seperti apa dinikmati saja. Keinginan yang diluar kemampuan disimpan saja dalam - dalam. Ia konsen dengan waktu, mau sekarang atau nanti toh hasilnya sama; memilikinya. Bedanya orang lain boleh duluan, dia puas kebagian belakangan. Prinsipnya kalau bisa hutang dihindari. Anti hutang. Hiduplah apa adanya. Nikmati kekiniannya.
Beda orang beda prinsip. Beberapa teman yang dulu akrab tiba – tiba saja menghilang. Pertanyaan pun mengemuka ke sanak - familinya, kemana kok lama tidak kelihatan? Jawabannya pun standar, lagi sibuk. Tetapi terasa ada yang mengganjal, karena sibuknya kok berkelanjutan. Sebulan dua bulan masih oke, lha kalau tiga bulan lebih gak nongol – nongol, pasti ada sesuatu. Habis sudah toleransi. Pencarian pun dilakukan. Hasilnya begitu mengejutkan ternyata mereka sedang terlibat hutang. Bahkan sudah tergolong parah. Karena tidak tepat waktu, sekarang mereka dikejar – kejar yang namanya debt collector setiap hari. Seolah mendapatkan pembenaran, Istri pun mengibarkan bendera kemenangan atas prinsipnya.
Teman pertama, master lulusan Jepang. Ia orang yang supel. Usahanya banyak. Prigel, walau perawakannya kecil. Cekatan. Kenalannya seabrek. Orang sak komplek mengenalnya. Di kantornya, golongan jabatan juga cukup tinggi. Dia satu – satunya orang yang punya mobil di lingkungan pengajian saat itu. Dan juga orang pertama pioneer jemputan anak sekolah dari komplek. Sebagai aghnia, kita berharap banyak darinya. Nggak tahu kenapa, bisa terjerumus ke dalam gemerlapnya hutang. Sampai akhirnya mobil, rumah, tanah dan harta benda ludes. Bukan itu saja, dia harus berlari – lari dari kejaran penagih utang. Waktu itu kita kebingungan, bagaimana cara menolongnya. Segala bantuan yang kita ajukan ternyata tak cukup. Semua tawaran tidak ada yang dipilihnya. Akhirnya demi keselamatan diri dan keluarganya, rela berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin itu yang terbaik. Daripada terus menebar janji bohong dan merusak sana – sini.
Teman kedua, pensiunan pegawai MA. Dengan pesangon dan perbekalan yang telah dipersiapkan, dia memulai usaha baru. Angkot. Ternyata usahanya tidak berkembang. Dan entah bagaimana saya tidak tahu pasti, akhirnya dia berpindah rumah berkali – kali walau masih satu komplek. Selidik punya selidik, terbelit kasus hutang juga. Yang lebih menyedihkan lagi, belum semua jelas, ajal sudah menjemput. Dan lagi – lagi mungkin itulah yang terbaik. Namun kabar tak sedap berhembus, kalau matinya tak wajar. Ada yang bilang bunuh diri. Ada yang bilang di santet pengutang. Naudzubillah. Semoga semua itu tidak benar. Orang ini termasuk awwalul mukminin, yang sudah kenyang asam – garam perjuangan. Sayang akhir hidupnya terbelit dengan hutang.
Teman ketiga, lebih pilu lagi. Gak kapok – kapok mengulangi hal yang sama. Ibarat keledai, terjeblos di lubang yang sama dua kali. Beberapa tahun yang lalu pernah terbelit hutang lewat godaan kartu kredit. Dengan perjuangan dan pertolonganNya akhirnya bisa keluar dari kemelut itu. Sekarang hal itu terulang lagi, walau dengan motif yang berbeda. Konon katanya niatnya untuk menolong orang yang berjasa ngajak ngaji dirinya. Lewat kartu kredit, dia sedot uang talangan. Dia bayari hutang orang tersebut. Urusan melunasi perkara nanti. Insya Allah, Allah pasti nolong. Dalilnya jelas, barangsiapa menolong saudaranya, Allah bersamanya. Sayang pertolonganNya tak kunjung tiba seperti yang pertama dan yang disangka. Sekarang sudah menghilang beberapa lama, menghindari seramnya tukang – tukang tagih galak dan judes. Yang tak segan main pukul dan paksa. Hutang menjadi penderitaan buat dia dan keluarganya untuk sementara.
Mau buat sungguhan, karena kebutuhan atau buat hura – hura, pada dasarnya hutang adalah sunah.  Boleh. Yang wajib, membayarnya. Mengembalikannya tepat waktu. Sesuai janjinya. Banyak orang yang tergiur dengan kemudahan ini. Alih – alih memikirkan kewajibannya, selagi masih bisa ngutang, kenapa tidak? Akhirnya hidup tidak menjadi indah, malah susah. Apalagi kehidupan modern ini. Hutang adalah gaya hidup. Tidak saja orang, negara pun berhutang sana – sini. Dan seperti inilah rasanya potret jaman sekarang ini. Maka tak heran kalau dulu Nabi Muhammad SAW mengingatkan, dengan sering berdoa minta perlindungan dari keberatan hutang dalam setiap sholatnya. Di dalam K. Sholah halaman 89, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah kenapa engkau banyak minta perlindungan dari keberatan hutang?” Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya ketika seseorang telah keberatan hutang, maka dia akan beralasan dengan kebohongan dan berjanji untuk tidak ditepati.” (Rowahu An-Nasa’i Juz 3 hal 56 – 57). Persis. Plek. Perilaku ketiga teman itu sebagaimana disebutkan Nabi SAW itu.
Maka, kemudian menjadi dilemma tersendiri dalam memberikan bantuan kepada orang-orang semacam ini. Sebenarnya mereka  kaya, pekerjaan tetap dan umum pun memandang hidupnya sudah enak. Sudah mapan. Rumah bagus, luas tanah di atas rata – rata. Tetapi karena kurang perhitungan dan kesembronoannya, terjerat dalam kubangan hutang. Bahasa aslinya kurang amanah, kurang hati – hati, kurang narimo dan sakdermo. Nasehat tidak kurang. Perkeling tidak pernah telat. Namanya juga orang, berlindung dibalik khilaf. Ya sudah. Mau apalagi. Sebagian berpendapat keberatan memberikan pinjaman. Karena yang jelas tidak akan balik. Ilang-ilangan. Sebagian yang lain berpendapat, sebaiknya diberikan hutangan. Alasannya, untuk menjawab pertanyaan Allah di akhirat nanti dan sebagai wujud solidaritas, kerukunan dan kekompakan. Apa yang kita ucapkan ketika nanti ditanya oleh Allah kenapa kamu tidak menolong saudaramu yang terbelit hutang itu? Dengan pemberian bantuan, maka terjawab sudah. Mbalik syukur, gak mbalik pun selamet. Dan jika nanti dia akan minta tolong lagi untuk sebuah pinjaman, kita bisa berdalih dengan pinjaman yang awal ini.
Sedih, pilu, gregetan dan geram. Namun apa daya, hidup harus terus berlanjut. Dan untuk itu selayaknya hadits berikut dicamkan. Dari Uqbah bin Amir ra., bahwasanya dia telah mendengar Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian membuat takut diri kalian sendiri setelah kedamaian (kenyamanannya). Mereka bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Yaitu hutang.” (Rowahu Ahmad, Abu Ya’la, al-Hakim dan al-Baihaqi)
Bagaimana sekarang? Mau ngutang, apa ngutangi?
cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan, boleh jadi itu bukan sebuah kebetulan :)
Mohon maaf kalau ada yang kene'an tidak bermaksud demikian...
Oleh : Faizunal Abdillah

nasehat hutangIstri saya tipe orang yang benci hutang. Lebih baik sabar, menunggu sampai pada waktunya. Insya Allah akan kesampaian juga apa yang dibutuhkan. Kalau tidak mampu ya sudah, mampunya seperti apa dinikmati saja. Keinginan yang diluar kemampuan disimpan saja dalam - dalam. Ia konsen dengan waktu, mau sekarang atau nanti toh hasilnya sama; memilikinya.

Bedanya orang lain boleh duluan, dia puas kebagian belakangan. Prinsipnya kalau bisa hutang dihindari. Anti hutang. Hiduplah apa adanya. Nikmati kekiniannya.

 

Beda orang beda prinsip. Beberapa teman yang dulu akrab tiba – tiba saja menghilang. Pertanyaan pun mengemuka ke sanak - familinya, kemana kok lama tidak kelihatan? Jawabannya pun standar, lagi sibuk. Tetapi terasa ada yang mengganjal, karena sibuknya kok berkelanjutan. Sebulan dua bulan masih oke, lha kalau tiga bulan lebih gak nongol – nongol, pasti ada sesuatu. Habis sudah toleransi. Pencarian pun dilakukan. Hasilnya begitu mengejutkan ternyata mereka sedang terlibat hutang. Bahkan sudah tergolong parah. Karena tidak tepat waktu, sekarang mereka dikejar – kejar yang namanya debt collector setiap hari. Seolah mendapatkan pembenaran, Istri pun mengibarkan bendera kemenangan atas prinsipnya.

Teman pertama, master lulusan Jepang. Ia orang yang supel. Usahanya banyak. Prigel, walau perawakannya kecil. Cekatan. Kenalannya seabrek. Orang sak komplek mengenalnya. Di kantornya, golongan jabatan juga cukup tinggi. Dia satu – satunya orang yang punya mobil di lingkungan pengajian saat itu. Dan juga orang pertama pioneer jemputan anak sekolah dari komplek. Sebagai aghnia, kita berharap banyak darinya. Nggak tahu kenapa, bisa terjerumus ke dalam gemerlapnya hutang. Sampai akhirnya mobil, rumah, tanah dan harta benda ludes. Bukan itu saja, dia harus berlari – lari dari kejaran penagih utang. Waktu itu kita kebingungan, bagaimana cara menolongnya. Segala bantuan yang kita ajukan ternyata tak cukup. Semua tawaran tidak ada yang dipilihnya. Akhirnya demi keselamatan diri dan keluarganya, rela berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin itu yang terbaik. Daripada terus menebar janji bohong dan merusak sana – sini.

Teman kedua, pensiunan pegawai MA. Dengan pesangon dan perbekalan yang telah dipersiapkan, dia memulai usaha baru. Angkot. Ternyata usahanya tidak berkembang. Dan entah bagaimana saya tidak tahu pasti, akhirnya dia berpindah rumah berkali – kali walau masih satu komplek. Selidik punya selidik, terbelit kasus hutang juga. Yang lebih menyedihkan lagi, belum semua jelas, ajal sudah menjemput. Dan lagi – lagi mungkin itulah yang terbaik. Namun kabar tak sedap berhembus, kalau matinya tak wajar. Ada yang bilang bunuh diri. Ada yang bilang di santet pengutang. Naudzubillah. Semoga semua itu tidak benar. Orang ini termasuk awwalul mukminin, yang sudah kenyang asam – garam perjuangan. Sayang akhir hidupnya terbelit dengan hutang.

Teman ketiga, lebih pilu lagi. Gak kapok – kapok mengulangi hal yang sama. Ibarat keledai, terjeblos di lubang yang sama dua kali. Beberapa tahun yang lalu pernah terbelit hutang lewat godaan kartu kredit. Dengan perjuangan dan pertolonganNya akhirnya bisa keluar dari kemelut itu. Sekarang hal itu terulang lagi, walau dengan motif yang berbeda. Konon katanya niatnya untuk menolong orang yang berjasa ngajak ngaji dirinya. Lewat kartu kredit, dia sedot uang talangan. Dia bayari hutang orang tersebut. Urusan melunasi perkara nanti. Insya Allah, Allah pasti nolong. Dalilnya jelas, barangsiapa menolong saudaranya, Allah bersamanya. Sayang pertolonganNya tak kunjung tiba seperti yang pertama dan yang disangka. Sekarang sudah menghilang beberapa lama, menghindari seramnya tukang – tukang tagih galak dan judes. Yang tak segan main pukul dan paksa. Hutang menjadi penderitaan buat dia dan keluarganya untuk sementara.

Mau buat sungguhan, karena kebutuhan atau buat hura – hura, pada dasarnya hutang adalah sunah.  Boleh. Yang wajib, membayarnya. Mengembalikannya tepat waktu. Sesuai janjinya. Banyak orang yang tergiur dengan kemudahan ini. Alih – alih memikirkan kewajibannya, selagi masih bisa ngutang, kenapa tidak? Akhirnya hidup tidak menjadi indah, malah susah. Apalagi kehidupan modern ini. Hutang adalah gaya hidup. Tidak saja orang, negara pun berhutang sana – sini. Dan seperti inilah rasanya potret jaman sekarang ini. Maka tak heran kalau dulu Nabi Muhammad SAW mengingatkan, dengan sering berdoa minta perlindungan dari keberatan hutang dalam setiap sholatnya. Di dalam K. Sholah halaman 89, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah kenapa engkau banyak minta perlindungan dari keberatan hutang?” Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya ketika seseorang telah keberatan hutang, maka dia akan beralasan dengan kebohongan dan berjanji untuk tidak ditepati.” (Rowahu An-Nasa’i Juz 3 hal 56 – 57). Persis. Plek. Perilaku ketiga teman itu sebagaimana disebutkan Nabi SAW itu.

Maka, kemudian menjadi dilemma tersendiri dalam memberikan bantuan kepada orang-orang semacam ini. Sebenarnya mereka  kaya, pekerjaan tetap dan umum pun memandang hidupnya sudah enak. Sudah mapan. Rumah bagus, luas tanah di atas rata – rata. Tetapi karena kurang perhitungan dan kesembronoannya, terjerat dalam kubangan hutang. Bahasa aslinya kurang amanah, kurang hati – hati, kurang narimo dan sakdermo. Nasehat tidak kurang. Perkeling tidak pernah telat. Namanya juga orang, berlindung dibalik khilaf. Ya sudah. Mau apalagi. Sebagian berpendapat keberatan memberikan pinjaman. Karena yang jelas tidak akan balik. Ilang-ilangan. Sebagian yang lain berpendapat, sebaiknya diberikan hutangan. Alasannya, untuk menjawab pertanyaan Allah di akhirat nanti dan sebagai wujud solidaritas, kerukunan dan kekompakan. Apa yang kita ucapkan ketika nanti ditanya oleh Allah kenapa kamu tidak menolong saudaramu yang terbelit hutang itu? Dengan pemberian bantuan, maka terjawab sudah. Mbalik syukur, gak mbalik pun selamet. Dan jika nanti dia akan minta tolong lagi untuk sebuah pinjaman, kita bisa berdalih dengan pinjaman yang awal ini.

Sedih, pilu, gregetan dan geram. Namun apa daya, hidup harus terus berlanjut. Dan untuk itu selayaknya hadits berikut dicamkan. Dari Uqbah bin Amir ra., bahwasanya dia telah mendengar Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian membuat takut diri kalian sendiri setelah kedamaian (kenyamanannya). Mereka bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Yaitu hutang.” (Rowahu Ahmad, Abu Ya’la, al-Hakim dan al-Baihaqi)

Bagaimana sekarang? Mau ngutang, apa ngutangi?

Cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada kesamaan, boleh jadi itu bukan sebuah kebetulan. Mohon maaf kalau ada yang kene'an tidak bermaksud demikian... :)

Oleh : Faizunal Abdillah

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - gina

    saya baru saja punya niatan untuk membuat kartu kredit, langsung mengkeret baca nasehat hutang ini. Insya Allah akan saya tertibkan doa perlindungan dari keberatan hutangnya.

    0 Like
  • Guest - Nurhasim

    wah merinding membacanya, walau pak ustad mengatakan cerita fiktif, tp sy merasa kesulitan membedakannya dengan fakta di sekitar kita.<br /><br />Barokallohu buat pak ustad brsama keluarga smg sehat...

    0 Like
  • Guest - iponk tysan

    hy,,,

    0 Like
Powered by Komento
FaLang translation system by Faboba