Ijuk dan Wanita

Widya mengatakan tegas pada saya, “ini bukan hidup yang saya inginkan. Saya gak nyangka hidup saya akan seperti ini”
Lalu matanya berkaca-kaca tapi senyumnya masih menghiasi  penuturannya. “saya ingin seperti teteh, bisa kerja lagi seperti dulu.  Sebelum nikah, saya sempet kerja di bank, di laboratorium pabrik. Saya perlu status saya bekerja, teh… selama ini saya memang kerja, bantu nyuci di rumah orang, nyetrika di rumah orang, mijitin orang, dll. Tapi saya ingin kerja yang sebenarnya….”

“kamu betah di sini?”

“Gak teh, saya gak betah, saya jauh dari keluarga besar… tapi kalo saya pulang kampung, saya pasti gak bisa ngaji lagi”, akhirnya pertahanan Widya jebol dan dia menangis sesegukan.

Saya prihatin, dan sejujurnya… saya tidak bisa membayangkan jika saya hidup seperti Widya. Dengan 3 anak yang masih harus dibesarkannya, Widya bertahan dalam “belas kasihan” orang lain demi mempertahankan apa yang diyakininya.


Bukan pada tempatnya bila kita menghujat Widya sebagai wanita yang tidak bersyukur akan apa yang diperolehnya selama ini.  “Belas Kasihan” yang saya kemukakan bisa jadi akan berubah terminology-nya dengan kata pertolongan, kekompakan, ketulusan dan amal sholih bagi sebagian kita yang selama ini menanggung hidup Widya beserta anak-anaknya.  Saya yakin 100%, Insya Allah, Widya tidak bermaksud ngaleulengit apa yang diberikan Allah lewat orang-orang di sekelilingnya.  Tidak mudah memperoleh tempat tinggal dan bernaung sebagai Janda mati tanpa pekerjaan dan hidup di lingkungan mesjid dengan beragam permasalahannya.

Tapi statement “saya ingin punya status bekerja” menggelitik saya untuk berpikir jauh tentang apa yang dirasakan dan dipikirkannya.  Ini bukan masalah arogansi, ini bukan masalah status social, ini bukan masalah perlu penghasilan lebih besar karena toh bila pada akhirnya Widya harus bekerja 9 to 5 kelak, tidak ada jaminan penghasilannya akan lebih baik dari income yang diperolehnya selama ini.

Ini cuma masalah diri. Widya seorang “Diri” yang memerlukan pengakuan dari Dirinya sendiri tentang keberadaannya.  Tentang keyakinannya pada kemampuannya untuk tetap tegar menghadapi hidupnya… tidak seperti wanita kebanyakan di lingkungan kita, Widya melepaskan pikiran untuk mencari solusi permasalahan hidupnya dengan mencari suami baru dan menggantungkan hidupnya pada seorang laki-laki.  Dan saya yakin, bukan semata-mata “kesetiaannya” pada almarhum suaminya sehingga dia masih menjanda hingga kini… tapi ketegarannya lebih membuat Widya focus mengatasi persoalan hidup yang sangat berat seperti itu.

Widya hanya memerlukan sebuah kesempatan baru untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dan memotivasi anak-anaknya untuk tetap pancang menghadapi hidup.  Widya perlu sebuah pekerjaan, untuk membuat kepalanya tegak, untuk menaikkan harga dirinya sehingga kelak, pada saatnya nanti, Widya bisa diperkenalkan sebagai sosok “tanpa belas kasihan” orang lain pada calon-calon menantunya.

Widya memerlukan sebuah pekerjaan untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia ada…..

Dan saya terus berpikir …. Ada berapa Widya lagi di lingkungan kita?

Percayalah, harga diri seorang wanita tidak hanya diibaratkan arogansinya dalam menghadapai kesetaraan gender seperti yang selama ini dikuatirkan oleh kita.  Harga diri seorang wanita adalah cermin kemampuan, keanggunan dan kekuatan seorang wanita untuk menghadapi persoalan hidupnya, keluarganya, anak-anaknya dan tentu saja juga keyakinan dan agamanya.  Tidak akan pernah seseorang melangkah dengan pasti bila dia tidak yakin berapa harga yang dimilikinya…juga bila kita sedang mempertahankan keimanan kita…..

*Widya berjanji, dia akan tetap membersihkan dan membenahi mesjid walaupun bila dia berkesempatan untuk pergi bekerja seperti yang diinginkannya*

Oleh: Ranie Dewiyanti

 

Widya mengatakan tegas pada saya, “ini bukan hidup yang saya inginkan. Saya gak nyangka hidup saya akan seperti ini”
Lalu matanya berkaca-kaca tapi senyumnya masih menghiasi  penuturannya. “saya ingin seperti teteh, bisa kerja lagi seperti dulu.  Sebelum nikah, saya sempet kerja di bank, di laboratorium pabrik. Saya perlu status saya bekerja, teh… selama ini saya memang kerja, bantu nyuci di rumah orang, nyetrika di rumah orang, mijitin orang, dll. Tapi saya ingin kerja yang sebenarnya….”

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • Guest - syamsul (achunk)

    its goood

    0 Like
  • :D bagus untuk dinasehatkan<br />

    0 Like
  • Guest - Ranie

    :D Thx all, ajzkh. Just made some contemplation to all of us.. Cheers, smg Allah senantiasa melimphkan kebarokan buat kita semua. Amiin

    0 Like
  • nice post...Hidup penuh misteri dan perjuangan..semoga Widya dan widya2 yang lain tetap tegar dan mempertahankan keimanannya, serta Alloh memberi ASLBB...aamiin.<br />yoppy.irawan.blogdetik.com<br />yoppyirawan.com

    0 Like
  • Guest - abdurohman

    ini adalah gambaran nyata yg ada dilingkungan kita dan mungkin tanpa kita sadari kita telah melupakan hal itu....mudah2n kita bisa lebih perduli dengan hal2 seperti itu....Ajkh atas tulisan nya.....

    0 Like

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII