Menjaga Kesehatan Mental, Belajar Mencintai Diri Sendiri

Ilustrasi mipham unsplash KESEHATANMENTALDIRI

LINES (10/05) - Belajar mencintai diri sendiri lebih dikaitkan untuk menyadari pikiran dan perasaan, apa yang lebih diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dalam upaya agar dapat menerima keadaan, kondisi yang ada, atau situasi yang sedang dialami.

Dalam hal ini adalah menyadari alam pikiran dan perasaan sendiri walau seringkali membingungkan, karena perasaan itu harus sepenuhnya disadari serta tidak ditolak. Tentunya perasaan yang tidak ditambah dan dikurang, tidak berlebihan, terima apa adanya.

“Belajar memahami seperti ini tidak mudah,” kata dr.Andri seorang pakar psikosomatik dan ahli kejiwaan. Contohnya, ia menggambarkan, saat sedang menghadiri presentasi atau kajian yang materinya penting, seharusnya para peserta serius memperhatikan, mindful tidak memikirkan hal lain. Ketika tidak dilakukan artinya ada yang mengganggu pikiran peserta tersebut, mungkin tidak siap sehingga tidak mindful untuk materi presentasi.

“Perasaan dan pikiran tersebut ada, berlangsung, tapi nanti akan hilang. Itu yang perlu diperhatikan,” katanya lagi. Bagaimana setiap orang bisa lebih mindful, adalah dengan menjaga diri sendiri baik secara fisik dan mental. Meski bisa ada kemungkinan melakukan perbuatan yang merusak mental dan diri orang itu. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dengan berolahraga misalnya atau makan-makanan bergizi.

Perlu juga belajar relaksasi untuk mengurangi tekanan dalam pikiran. “Berikan waktu luang agar bersikap tenang, memperhatikan alur pernapasan,” kata dr. Andri.

Andri mengambil contoh dari seorang motivator Kanada-Amerika, Brian Tracy yang mengatakan, perlu adanya solitude time bagi diri sendiri, yakni misalnya seorang pria ketika pulang kerja, ia duduk di mobilnya sekitar 5-10 menit sebelum masuk rumah hanya untuk berdiam diri memperhatikan lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, ia memberi waktu pada pikiran dan tubuhnya untuk lebih tenang berpikir dan melangkah selanjutnya.

“Manusia akan lebih awas, lebih bijaksana menyikapi situasi dan kondisi. Keadaan itu juga membiarkan tubuh untuk lebih rileks,” kata Andri saat dijumpai pada kelas webinar miliknya tempo hari.

Cara lain untuk lebih mencintai diri sendiri selanjutnya adalah dengan membantu orang lain. “Hal ini juga berpengaruh membantu terapi mental kita. Jika tidak bisa berpikir positif, lakukan hal yang positif dulu. Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk orang lain,” paparnya.

Manusia juga perlu bertindak sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan. Hal yang saat ini sangat diperlukan untuk bersikap tetap tegar dan mampu menjalani hidup apa adanya. Walaupun tetap ada rasa jenuh akibat wabah pandemi Covid-19, mungkin awalnya dirasakan negatif, tidak menjadi masalah asal jangan terlalu lama rasa negatif itu.

Malah seharusnya bersyukur atas adanya wabah pandemic ini. Berpikir cukup untuk hanya memenuhi kebutuhan dasar. Ia menggambarkan dari teori Resilience, kemampuan manusia merasakan kepuasan dengan hidup yang sedang dijalani apa adanya, daya tahan menghadapi stres akan lebih tinggi.

Masa pembatasan wilayah karena Covid-19 ini adalah saat yang tepat untuk belajar terapi perilaku. Jika tidak bisa beradaptasi dengan baik tentunya akan cepat lelah lalu jadi stres. Menjaga dan membatasi diri juga perlu dilakukan.

Terkadang, seseorang selagi masih bisa melakukan suatu kegiatan meski tidak ingin, tapi karena ingin membahagiakan orang lain misalnya, maka biasanya tetap dilakukan. Maka perlu juga membatasi diri sebagai bentuk kenyamanan sehingga terhindar dari stres. Bila sedang tidak nyaman, kurangi kegiatan yang membuat lelah fisik dan mental. Contoh lainnya, melindungi diri dari hubungan beracun atau disebut toxic relationship, dalam bentuk hubungan apapun terhadap orang lain.

Memaafkan diri sendiri juga berpengaruh agar lebih menerima keadaan diri. Seringkali seseorang mencari kesalahan masa lalu, belum siap memaafkan dirinya, maka belum menyayangi diri sendiri. Yang harus diperhatikan adalah jika kita menyadari masa lalu punya kesalahan, apakah kita menginginkan perubahan bagi diri sendiri?

Andri menegaskan, “Hiduplah dengan memiliki tujuan.” Maksudnya, agar jangan menyerah, lakukan hal-hal yang bisa antisipasi permasalahan yang ada sekarang. “Karena dengan tujuan, hidup seseorang lebih baik. Atau jika tidak punya tujuan, buat sendiri tujuan yang kita mau. Apa yang bisa kita lakukan agar kita tetap fokus,” katanya.

Tetapkan tujuan, dengan tujuan terpenuhi akan tetap fokus, terkendali, hidup lebih baik. “Hal yang sering menghambat kebahagiaan bukan karena kita tidak tahu apa yang buat bahagia, tapi karena tidak melakukan apa pun untuk mencapainya,” pungkasnya mengakhiri.

Hidup lebih nyaman dengan sense of control terhadap diri sendiri. Sehingga setiap diri merasa cukup, tidak akan iri dengan orang lain. Tidak peduli dengan komentar orang lain, yang menurut mereka lebih bisa membuat bahagia.(*/lines)

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII