Pentingnya Ketahanan Pangan di Era Pandemi dan Pasca Pandemi Covid-19

diskusiketahananpangan1

Jakarta (20/5) - LDII menggelar acara diskusi terkait situasi ketahanan pangan yang harus dihadapi kedepannya bagi Indonesia baik di era pandemi virus corona (Covid-19), dan pasca pandemi, Jumat lalu (15/5). Pasalnya, pandemi Covid-19 telah menyebabkan ketidakpastian global. 

“Pertanyaan utama para pengambil kebijakan di masa pandemi Covid-19, seberapa lama pandemi berlangsung. Dari beberapa ahli di dalam negeri maupun pengamatan saya kesimpulannya tidak jelas. Ada yang optimis dan ada yang pesimis. Negara-negara besar pun tidak dapat memprediksi ini,” ujar Kemal Taruc anggota Dewan Pakar DPP LDII, sekaligus penasehat kebijakan publik yang pembicara hari itu.

Upaya menghadapi pandemi, Indonesia tengah berusaha melandaikan tingkat penularan dan angka kematian yang mengikutinya. Beberapa skenario sifatnya masih spekulatif, karena tidak ada dasar ilmiah dan data yang akurat.

Kemal Taruc berujar hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia bahkan negara maju seperti Jepang dan Jerman pun tidak memiliki data yang akurat soal penduduknya.

“Jangan salahkan Indonesia, karena negara Jerman, Jepang dan negara lain pun tidak punya data yang akurat. Kecuali negara Singapura, karena dia hanya mengurusi kota kecil, jadi dimungkinkan memiliki data yang akurat,” lanjutnya.

Dengan situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) banyak orang terdampak ekonominya yang juga akan berdampak pada kesejahteraan dan ketahanan pangan di Indonesia. Hal ini diprediksi memicu timbulnya masalah sosial.

Salah satu akibat pandemi Covid-19 ini adalah putusnya mata rantai pasokan pangan. Walaupun pemerintah mengkonfirmasi status pangan di Indonesia masih aman, karena masih punya stok, namun penduduk Indonesia memiliki pola konsumtif.

Konsumsi beras penduduk Indonesia melebihi produksi, sehingga membutuhkan impor dari negara lain seperti Vietnam. Namun, pada masa ini negara lain pun mendahulukan yang ada di dalam negerinya dulu.

“Bisa saja (impor) tapi pasti membutuhkan cost antar barang yang lebih tinggi, sehingga harga beras juga lebih tinggi. Kalaupun harga disubsidi, yang beli juga sedang tidak punya penghasilan. Sehingga permasalahan ini menjadi kompleks dan saling terkait,” lanjutnya.

Melihat permasalahan ini, DPP LDII membuat skema ketahanan pangan di dalam organisasi. Program pangan LDII sebagai salah satu inovasi untuk mewujudkan ketahanan pangan disituasi pandemi bahkan paska pandemi Covid-19.

Kemal Taruc menjelaskan skema ketahanan pangan dalam organsiasi ada pada ranah produksi dan distribusi, karena itu menjadi perhatian utama.

“Di produksi kita bisa lebih melihat dari sisi pertanian kota yang lebih mengarah ke sayuran dan pertanian desa yang mengarah ke kebutuhan pokok seperti beras dan lain-lain, juga sayuran sebagai lauk pauk seperti ikan dan sebagainya," ujarnya menjelaskan.

Tidak hanya produksi, ketahanan pangan juga termasuk distribusi dimana ada lumbung desa sebagai tempat menyimpan makanan pokok. Lalu juga ada usaha tani atau bisa disebut Usaha Bersama (UB) di organisasi yang menghubungkan pihak produsen dan konsumen.

“Kalau kita punya sistem ini di organisasi, Insya Allah kita punya berupa sistem ketahanan pangan publik mini,” imbuhnya.(laras/lines)

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia

Informasi resmi dari DPP LDII melalui internet hanya disampaikan dari website resmi LDII - www.ldii.or.id. Informasi di media lain seperti wikipedia, blog, dll, yang menggunakan nama LDII belum tentu merupakan tulisan pengurus LDII maupun warga LDII.

GABUNG MAILINGLIST LDII