Liputan Media

Jokowi Minta Dukungan Ulama LDII

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo mengajak para tokoh ulama LDII terlibat secara aktif dalam kegiatan pembangunan Jakarta. Karena dukungan u...

Liputan Media | Jumat, 29 Maret 2013 | Hits: 3722 | Comments

Read more
Follow us on Twitter

Opini 

Media Sosial dan Upaya Rekonstruksi Modal Sosial

Oleh: M. Hidayat Nahwi Rasul (Ketua DPP LDII dan Anggota Komisi Informasi Sul-Sel)Dalam sepekan terakhir ini, Kota Jakarta mengalami musibah banjir yang telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di jantung Ibukota tersebut. Korban pun berjatuhan. Tak sedikit pengungsi yang menempati kantong-kantong pengungsian dan membutuhkan bantuan. Penggalangan...

Opini | Selasa, 5 Maret 2013 | Hits: 829 | Comments

Read more

Lebih Baik Menyalakan Lilin Dari Pada Memaki Kegelapan

Jakarta : Prasetyo Soenaryo dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan sebagai direktur CICS (Centre for information and Culture Studies)  di Jakarta, Selasa 30/10 dalam rangka rencana seminar pentingnya parenting bagi tumbuh kembang anak, ketika di tanya pandangannya mengenai pencabutan beberapa mata pelajaran di SD, sangat setuj...

Opini | Selasa, 6 November 2012 | Hits: 3433 | Comments

Read more
More in: Opini
Penilaian Pengunjung: / 10
KurangTerbaik 

ImageSat, Oct 3, 2009 at 4:52 PM
From Bambang Jasnanto < Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya >

Ini kabar dari Uda Gita yang ditulis di facebooknya (kebetulan beliau sudah ada akses):

 Kami dari Jakarta dan baru sampai di Bandara Minangkabau jam 3 an siang. Langsung naik taksi dan sampai di rumah sekitar jam setengah-limaan. Setelah selesai sholat dan baru mau beres-beres bongkar barang itulah mulai bergoyang buminya, tepatnya jam 17:16. Kami sadar itu adalah gempa (karena sudah biasa) tetapi tidak seperti biasanya kali ini goncangannya sangat keras sampai kami tak bisa berdiri tegak sehingga susah untuk bergegas keluar rumah. Pada awalnya hanya berbunyi desiran kemudian menjadi bergemuruh. Yang kami takutkan waktu itu adalah kalau sampai rumah atau dindingnya runtuh. Ketika Aku, istriku dan anak laki-lakiku sudah di luar rumah, anak perempuanku masih tinggal di dalam. Rupanya dia masih mencari kerudungnya, sampai aku berteriak keluar saja secepatnya karena darurat. Kami berkumpul di tanah lapang di depan rumah. Penghuni rumah di perumahan juga berhamburan ke jalan. Dari luar kelihatan kalau atap genteng banyak yang bergeser sehingga ada celah-celah di antaranya dan ada pula beberapa yang  jatuh. Rumah kami tak ada yang retak besar. Aku juga segera memindahkan mobil dari depan garasi ke tanah lapang mengikuti yang lainnya.

Setelah beberapa sa’at baru kami berani masuk rumah. Sepeda di dalam rumah yang bertumbangan. Rak-rak dan meja yang berhamburan isinya keluar. Untung tidak ada kerusakan yang berarti. Listrik mati dan jaringan telepon selular juga putus. Untung telepon rumah (0751 72491) dan flexi (0751 7713000masih jalan. Langsung aku telepon Mami di Jakarta memberitahukan bahwa baru saja ada gempa sangat keras menimpa Padang dan kami, Alhamdulillah tidak apa-apa. Segera aku minta Mami memonitor berita gempa tersebut di TV kalau-kalau ada potensi tsunami seperti di Aceh. Aku juga menelepon tante yang tinggal di Lubuk Buaya dan sepupu di Air Tawar menanyakan keadaan mereka. Karena mereka tinggal lebih dekat ke Pantai aku juga beritahukan kepada mereka supaya waspada kalau sampai terjadi tsunami. Kalau bisa segera saja mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke rumah kami yang cukup tinggi (80 meter dpl) dan jauh (15 km) dari pantai.
Beberapa sa’at kemudian, Mami menelepon memberitahukan bahwa gempa yang terjadi tak berpotensi tsunami walaupun dengan magnitude 7.6 RS dan sumbernya tak jauh dari Padang, di laut tetapi cukup dalam. Listrik masih mati, radio-radio di kota Padang juga terhenti siarannya. Kami mendengarkan radio yang ada di mobil yang beberapa sa’at kemudian baru bisa menangkap siaran RRI yang memberitahukan keadaan rusak sangat parah di pusat kota (downtown). Sumber berita lain adalah dari Mamiku di Jakarta yang terus memonitor di TV dan menelepon kami ke Padang.
Menjelang maghrib, kami kami coba berkeliling di sekitar perumahan. Ada empat rumah yang keadaannya cukup parah walaupun belum ambruk tetapi sudah tak layak ditinggali karena berbahaya. Kebanyakan dindingnya roboh dan tiang utamanya yang patah. Beberapa rumah gentengnya berjatuhan ke tanah sehingga atapnya bolong.
Karena perumahan kami terletak di tempat yang relativ aman dari tsunami, maka banyak kerabat yang mengungsi ke tempat kami. Lapangan di depan rumah penuh dengan mobil yang di parkir, di jalanan di dalam kompleks juga. Orang-orang berkumpul dengan membentangkan tikar di lapangan dan di jalan.
Malamnya hujan sehingga orang-orang terpaksa masuk ke rumah walaupun merasa belum aman kalau-kalau ada gempa susulan. Kami disibukkan dengan mengepel dan menyiapkan ember-ember penampung tempat-tempat yang bocor.
Alhamdulillah, malam itu kami bisa tidur dengan baik. Kami mungkin masuk yang paling beruntung dibandingkan dengan saudara-saudara kita, anak-anak yang masih terperangkap di bawah reruntuhan dan masih belum diketahui keadaannya. Atau juga dibandingkan dengan saudara-saudara kita di daerah lain yang terkena gempa yang belum bisa berhubungan keluar karena jalur komunikasi dan tranportasi yang terputus. Semoga keadaan cepat membaik.
Terimakasih kepada semuanya yang sudah menanyakan keadaan kami, perhatian, concern dan khawatir keadaan kami.

Sumber ;http://www.ccldii.blogspot.com

Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Catatan: Webmaster/pengelola website LDII tidak membalas tulisan yang dikirimkan lewat komentar.
Jika ingin bertanya, silakan menghubungi kami dari halaman Contact Us / Hubungi Kami