Jokowi Minta Dukungan Ulama LDIIJAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo mengajak para tokoh ulama LDII terlibat secara aktif dalam kegiatan pembangunan Jakarta. Karena dukungan u... Liputan Media | Jumat, 29 Maret 2013 | Hits: 3468 | Comments Read more |
Media Sosial dan Upaya Rekonstruksi Modal SosialOleh: M. Hidayat Nahwi Rasul (Ketua DPP LDII dan Anggota Komisi Informasi Sul-Sel)Dalam sepekan terakhir ini, Kota Jakarta mengalami musibah banjir yang telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di jantung Ibukota tersebut. Korban pun berjatuhan. Tak sedikit pengungsi yang menempati kantong-kantong pengungsian dan membutuhkan bantuan. Penggalangan... Opini | Selasa, 5 Maret 2013 | Hits: 783 | Comments Read more |
Lebih Baik Menyalakan Lilin Dari Pada Memaki KegelapanJakarta : Prasetyo Soenaryo dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan sebagai direktur CICS (Centre for information and Culture Studies) di Jakarta, Selasa 30/10 dalam rangka rencana seminar pentingnya parenting bagi tumbuh kembang anak, ketika di tanya pandangannya mengenai pencabutan beberapa mata pelajaran di SD, sangat setuj... Opini | Selasa, 6 November 2012 | Hits: 3300 | Comments Read more |
Prof.Dr.Musliat, Prof.Dr.Ki Supriyoko
Saya ingin membahas mengenai sebuah
Keahlian apa yang lebih dulu bisa dikuasai oleh anak prasekolah, mengikat tali sepatu atau mengoperasikan iPhone? Untuk mendapatkan jawaban itu, perusahaan pembuat software keamanan AVG mensurvey 2.200 orang tua yang memiliki anak-anak.
Hasilnya sungguh mengejutkan. Dari ribuan orang tua yang memiliki anak-anak berusia sekitar 2 hingga 5 tahun, diketahui bahwa anak-anak lebih bisa menavigasikan piranti iPhone, bermain game dan browsing dibandingkan dengan keahlian dasar yang seharusnya mereka kuasai. AVG melakukan survey ini pada orang tua yang berbasis di wilayah berbeda yakni di Amerika, Kanada, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, Jepang, Australia dan New Zealand. Ini dia hasil detailnya.
Sebanyak 19% dari partisipan mengatakan bahwa anak-anak mereka mengetahui cara mengakses aplikasi smartphone. 58% lainnya mengatakan si buah hati bisa bermain game di komputer, kemudian seperempatnya memiliki kemampuan untuk membuka dan menjalankan browser. Bandingkan dengan hasil yang berikut di mana hanya 9% dari anak-anak balita yang bisa mengikat tali sepatu mereka dan 20% saja yang mampu berenang tanpa bantuan, dan 43% yang bisa naik sepeda.
Hasil lain yang tak kalah menariknya ialah saat AVG membagi partisipan ini berdasarkan negaranya. Sebesar 44% dari anak-anak Italia mampu mengoperasikan panggilan telpon. Mereka lebih ‘pandai’ jika dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dan dibesarkan di Amerika, prosentasenya yakni 25% saja. Namun jika dilihat dari gender, kemampuan yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan cenderung sama. AVG melaporkan bahwa sebanyak 29% perempuan mampu menelpon via ponsel, hanya selisih 1 persen dibandingkan dengan anak laki-laki yakni sebesar 28%. Untuk game di komputer, anak-anak perempuan juga mengungguli anak laki-laki yakni 59% dibanding 58%.
Mengetahui hasil survey di atas, AVG mengarisbawahi bahwa para orang tua sebaiknya memberi perhatian besar pada teknologi. Melalui pernyataan resminya, CEO AVG J.R. Smith mengatakan bahwa orang tua sebaiknya mampu mengedukasi anak-anaknya mengenai keamanan di dunia online sedari dini.
Keamanan online adalah hal yang jelas menjadi isu penting sekarang ini. Meski begitu, internet bukanlah musuh orang tua dan tempat ‘menyeramkan’ bagi anak-anak. Selama orang tua mampu mengedukasi anak-anaknya untuk mengontrol apa yang baik dan buruk, maka internet bisa menjadi teman yang ramah dan bermanfaat bagi perkembangan dan wawasan mereka.
Sumber: arstechnica
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|