Secuil Kenangan Setitik Harapan Dari Pulau-Pulau Terluar

Edwin Sumiroza, DPD LDII Serang - Banten

Dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran kebangsaan bagi para pemuda Indonesia yang diwakili oleh 350 peserta dari seluruh komponen bangsa di adakannya Pelayaran  "Lokakarya Nasional II Tahun 2007 tentang Ketahanan Nasional Masyarakat di Pulau-pulau Terluar Melalui Peningkatan Kewaspadaan Nasional"
Lokakarya ini dilakukan diatas KRI Makassar milik TNI AL yang berlayar dari Jakarta, Makassar, Tarakan, Karang Unarang Ambalat, Nunukan Balikpapan dan berakhir di Surabaya. Pelayaran dimulai pada 11 Agustus bertolak dari Tg Priok Jakarta dan berakhir pada 22 Agustus 2007 di Tg Perak, Surabaya.

Panitia kegiatan ini adalah Departemen Dalam Negeri (DIRJEN KESBANGPOL) dan TNI AL. Kegiatan ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum terhadap arti penting Ketahanan nasional masyarakat khususnya di pulau pulau terluar.
Partisipasi peserta berasal dari berbagai institusi dan profesi seluruh Indonesia, jumlah peserta dibatasi sesuai dengan kapasitas angkut KRI,  tercatat 300 orang yang diundang dan mengikuti pelayaran.

Para peserta mendapatkan materi seputar pemahaman bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Dunia. Indonesia adalah negara kepulauan yang keamanan sangat ditentukan oleh keberadaan lautnya.  Dengan kekuatan TNI AL yang jauh dari cukup sangat dibutuhkan partisipasi seluruh rakyat Indonesia untuk berperan menjaga keutuhan NKRI. Namun dengan kondisi kesejahteraan rakyat di pulau pulau terluar dan perbatasan yang sangat memprihatinkan, harapan tersebut sangatlah sulit diwujudkan. Untuk itu pembangunan kesejahteraan rakyatpun harus segera dilakukan dengan cara  yang cepat dan tepat mengingat gangguan keamanan tidak pernah berhenti mengancam keutuhan dan kedaulatan NKRI. Sebuah visi pembangunan  yang dilupakan bangsa Indonesia selama ini adalah dasar pembangunan sebagai negara kepulauan  yang memiliki kekayaan  laut sangat besar dan belum tergali dengnan maksimal.

Hal ini terjadi karena perjalanan sejarah bangsa Indonesia selama masa penjajahan telah terjadi pergeseran kultur dari bangsa bahari ke bangsa agraris. Sumber Daya Manusia (SDM) visi kelautannya masih rendah, potensi ekonomi dilaut belum digarap secara maksimal, serta tidak belajar dari pengalaman bangsa-bangsa besar di dunia yang ekonominya maju karena mereka memiliki visi kelautan. Keseluruhan potensi laut yang terdiri dari beberapa sektor jika dioptimalkan akan mencapai ratusan trilyun pertahun.  Jumlah ini sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehingga kita akan terbebas dari belenggu hutang yang semakin meningkat serta berakibat cukup banyak masyarakat kita yang masih keterbelakangan dan miskin.

Dengan demikian kesadaran geografis dapat digunakan sebagai solusi pemecahan persoalan mendasar Bangsa Indonesia saat ini dalam mendukung pembangunan kelautan Indonesia kedepan agar rakyat dan bangsa semakin sejahtera dengan jaminan keamanan sesuai yang kita harapkan. Inilah yang menjadikan salah satu rekomendasi Lokakarya yang akan diberikan kepada pemerintah baik Daerah maupun Pusat.

Kegiatan lain yang diikuti oleh peserta selain lokakarya, adalah singgah dibeberapa pelabuhan dan kota perbatasan. Disana peserta secara sepintas melihat langsung kondisi sosial masyarakatnya. Beberapa perwakilan masyarakat di perbatasan ada yang berkesempatan naik ke KRI dan bahkan ikut serta dalam pelayaran sampai akhir tujuan di Surabaya. Selain berbagi cerita dan pengalaman yang berguna bagi melahirkan rekomendasi Lokakarya, peserta dari perbatasan  bersama sama mengikuti kegiatan senibudaya yang menyadarkan seluruh peserta lain  betapa indahnya keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Dan puncaknya tepat pada 17 Agustus 2007, dilaksanakan upacara bendera memperingati Kemerdekaan RI. KRI Makassar lego jangkar di perairan Karang Unarang, Ambalat, upacara dilaksanakan di geladak heli yang luas dan diikuti seluruh peserta dan panitia lokakarya. Selain itu, Bendera Merah Putih berhasil juga dikibarkan diatas suar Karang Unarang.

Pelayaran berakhir di Surabaya pada 21 Agustus 2007, seluruh peserta turun di pelabuhan Tanjung Perak dan kembali kedaerah asal. Lokakarya telah selesai dengan beberapa rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah, selain itu yang lebih penting adalah semangat peserta yang membara dan diwujudkan dengan dibentuknya sebuah aliansi peduli pulau pulau terluar NKRI. Lokakarya memang selesai Namun segudang pekerjaan besar menanti didepan mata. Hanya bisa dijawab dengan bersatu padu  bahu membahunya  seluruh komponen bangsa sehingga pekerjaan besar tersebut bisa menjadi ringan dilaksanakan. Think Big,  but Start with small step and humanity natural!!!


MANDI KHATULISTIWA

Malam itu KRI Makassar membawa seluruh penumpang dan ABK melintasi garis lintang 0, atau khatulistiwa. Seluruh penumpang yang terlelap tidur dikejutkan dengan matinya seluruh lampu penerangan dan diikuti suara laki laki di speaker yang menggelegar : “Hua ha ha ha, KRI MAKASSAR, mana komandan mu, saya peringatkan bahwa kamu telah lancang melewati batas khatulistiwa dengan muatan kecoa dan tikus tikus darat busuk!, kalau tidak ingin aku tenggelamkan, kumpulkan seluruh kecoa dan tikus tikus itu digeladak besok pagi! Hua ha ha…..

Tentunya seluruh penumpang sangat terkejut dan panik, tidak terpikir kalau dikapal perang milik TNI ini akan ada orang berani iseng  melakukan ancaman aneh. Apalagi dengan mematikan lampu penerangan. Ini pasti ulah mahluk halus atau jin penghuni lautan. Kemudian speaker berbunyi lagi dengan ancaman yang sama diikuti  lolongan lolongan serta jeritan jeritan mengerikan.

Peserta lokakarya ada juga yang berusaha berlari keluar kamar dengan meraba raba lantai dek, bahkan peserta yang berhasil menemukan handphonenya dengan sinar LCDnya  segera berlari ke tempat pelampung penyelamat dan terjadi rebutan dengan beberapa peserta lain, sedangkan peserta yang terlalu panic tidak mampu berbuat apaun selain pasrah dan berdoa dilantai. Ada juga peserta yang berusaha tenang dan menenangkan peserta lain yang panik, dan mengingatkan bahwa ini kapal TNI pasti kejadian ini bisa segera diatasi. Dan benar saja sesaat kemudian lampu penerangan kembali hidup dan terlihat jelas peserta peserta panic sudah lengkap dengan pelampung dan bahkan yang tidak mendapat pelampung ada yang membawa bantal. Peserta kembali kekamar dan tidak ada yang berani keluar kamar. Namun tidak ada penjelasan apapun dari speaker kapal. Berbagai pertanyaan dikepala para peserta tidak bisa terjawab dan akhirnya memilih bersiaga sampai terdengar adzan subuh. Namun banyak juga yang kembali terlelap dan tidak mendengar apapun.

Beberapa peserta menjalankan ibadah sholat subuh dengan berjama’ah dan belum sempat berbincang bincang mengenai kejadian semalam, lampu penerangan kembali mati.Kemudian suara speaker terdengar lagi : Tikus tikus dan kecoa kecoa!! Keluar keluar!! Ayo naik ke geladak heli!! Beberapa pintu terbuka dan dari balik kegelapan keluar beberapa laki laki bertopeng berbadan  besar memakai baju rombeng hitam dan memukul mukul simbal dan genderang menggiring peserta dari semua tempat ke geladak heli. Bagi peserta yang masih terlelap bukan main kagetnya dan dalam pakaian seadanya semua digiring kegeladak dikumpulkan dengan peserta peserta lain yang sudah sampai duluan dalam keadaan menggigil karena angin laut cukup kencang, selain peserta lokakarya para panitia dan pembicarapun tidak luput dari giringan ini,  namun tidak terlihat para ABK dan perwira KRI MAKASAR. Para peserta mulai menduga bahwa ini adalah sebuah acara yang digagas oleh KRI MAKASSAR. Sesaat kemudian para penjaga yang berkostum bajak laut dan betopeng ini menyemprotkan air laut dengan kencang ke barisan peserta dan panitia, dan satu persatu peserta digiring kedepan barisan untuk dibaptis dengan diguyur oli kapal dan dipaksa meminum ramuan pahit secara bergantian. Pembaptisan dilakukan oleh Dewa dan Dewi Neptunus yang tiba tiba muncul dan Dewa Dewi berkostum bak dewa dewi asli serta duduk seperti raja, seluruh peserta yang selesai minum jamu pahit tadi diharuskan sungkem padanya.  Tidak ada yang luput dari pembaptisan ini, walhasil dengan kondisi basah kuyup dan cemong para peserta  merunduk runduk sungkem kedepan dewa dewi barulah bisa membersihkan diri. Setelah itu barulah Komandan KRI keluar dan menjelaskan bahwa acara ini adalah MANDI KHATULISTIWA dan merupakan tradisi para pelaut seluruh dunia, hanya dilakukan sekali bagi penumpang kapal yang pertama kali melewati garis khatulistiwa. Peserta dan panitia lokakarya memang sudah mengarungi lautan selama satu minggu, tidak terasa semangat dan kebersamaan berhasil dibangun dengan solid semua mendapatkan sertifikat khusus setelah acara ini selesai. Mandi khatulistiwa yang merupakan tradisi pelaut dunia namun  sangat asing di Indonesia, negara kepulauan terbesar didunia.


POSTER EDUKASI LINGKUNGAN BAGI MASYARAKAT DAN SEKOLAH DI PULAU TERLUAR

LDII adalah salah satu ormas keagamaan yang turut serta menjadi peserta. Edwin Sumiroza dari Departemen Pendidikan Pelatihan ditugaskan mengikuti acara ini dengan pesan khusus yang perlu disampaikan  selain untuk “share” dengan peserta lokakarya lain juga untuk  masyarakat di pulau pulau terluar yang akan disinggahi. Pesan pesan ini berbentuk Poster, buku dan CD, kesemuanya diharapkan dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam memahami pentingnya kelestarian ekosisitem bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. 30 poster dan beberapa CD dan buku habis disumbangkan kepada peserta perwakilan sekolah / guru guru, para pecinta alam, pramuka dan LSM LSM lingkungan. Poster CD dan Buku buku yang disumbangkan LDII adalah kontribusi LSM lingkungan antara lain YAYASAN TERANGI, YAYASAN CINTA ALAM INDONESIA dll. Harapannya mengajak agar bangsa ini dapat bersyukur pada Allah, Tuhan Semesta Alam yang telah menganugrahi dengan limpahan kekayaan sumber daya alam didalam  bentuk syukur yang nyata, yaitu dapat memelihara dan melestarikan kekayaan alam ini supaya bisa dimanfaatkan secara terus menerus dan akhirnya dapat diwariskan kepada anak cucu bangsa ini.


KETUA UMUM ALIANSI AMBALAT

Pada malam terakhir pelayaran,  panitia mengadakan pemilihan umum untuk memilih ketua aliansi. Aliansi yang terdiri dari beberapa peserta yang mewakili organisasi peserta lokakarya. Tujuannya aliansi ini membantu pemerintah memberikan kajian dan rekomendasi dalam beberapa kegiatan dalam kerangka Peningkatan Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Nasional. Beberapa peserta melakukan pencalonan diri dan wakil wakilnya untuk menjadi Ketua mum. Dan Edwin Sumiroza peserta dari LDII terpilih menjadi Ketua Umum Aliansi. Dukungan dan harapan seluruh peserta yang menjadi anggota aliansi kini diamanatkan untuk segera diwujudkan. Dideklerasikan bahwa sesuatu akan segera dilakukan dengan nyata di pulau terluar NKRI. Nunukan dipilih sebagai sasaran pertamanya, mudah mudahan amanat ini bisa dilaksanakan dan mendapat dukungan dari seluruh komponen peserta dan dapat berguna bagi bangsa ini. Wait and see...

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found

Menuju
logo rakernas10-11 Oktober 2018

Alamat Surat

DPP LDII
Jl. Tentara Pelajar No. 28
Patal Senayan 12210
Jakarta Selatan
Telp. 021-57992547, 0811 860 4544
Fax 021-57992950

dpw-se-indonesia