• Wide screen resolution
  • Narrow screen resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
Dibalik Awan Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 4
KurangTerbaik 
Rabu, 27 Januari 2010 09:12

Ketika terbang bersama pesawat di udara, saya suka memperhatikan kumpulan awan yang berada di balik jendela. Awan – awan itu begitu indah menyapa. Kalau selama ini hanya sering melihat kondisinya dari bawah, dimana awan terlihat menggantung seakan mau runtuh, maka terlihat berbeda ketika kita menembus dan berada di atasnya. Awan itu terhampar luas bagai permadani. Kadang rata berlapis – lapis, serasa ingin sekali berlari menginjak - injaknya. Ada yang bergerombol besar. Ada yang berkumpul kecil. Seperti salju. Ada yang lembut seperti kapas.

Kadang bertumpuk dan bertingkat. Seribu kesan yang berbeda setiap kali berada di balik awan. Bahkan kadang menakutkan, ketika tiba – tiba pesawat menembus gerombolan awan tebal dan hitam.Berangkat dari ketaktahuan, lama – kelamaan menjadi sedikit tahu salah satu misteri Ilahi. Dulu yang hanya bisa memandang awan dengan mendongakkan kepala, sekarang bisa berlama – lama menunduk melihatnya. Kemajuan telah membawa manusia kepada tingkat peradaban yang lebih tinggi. Seakan banyak hal yang terkuak, sebagai buah dari usaha dan perkenan Yang Kuasa. Namun dari semua itu jangan pernah kehilangan hikmah dari setiap perkembangan yang ada. Sebab rugi ketika kita hanya mendapatkan kesenangan, tetapi kehilangan hal penting: hikmah dan pelajaran di dalamnya.Kegiatan bolak – balik naik pesawat ini mengingatkan saya sebuah dalil di dalam surat Al-An’am ayat 125 ;

Allah berfirman;Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Awal – awal saya mengaji di LDII, dalil ini sering didengungkan sebagai parameter awal kesungguhan dalam beribadah. Barangsiapa yang entengan, ringan kaki, senang, semangat, ringan tangan dalam melaksanakan amal sholih beribadah, insya Allah itu sebagian tanda Allah berkenan memberikan pertolongan dan petunjukNya. Namun sebaliknya, jika ada tanda – tanda malas, sempit, rupek, aras-arasan, itu adalah tanda yang perlu digarisbawahi agar jangan sampai menjadi tanda kejelasan akan hilangnya hidayah itu dari kita. Disuruh datang mengaji terasa berat. Ada yang nggandoli. Beribu alasan seperti diajak naik ke langit. Mendaki langit ke tujuh. Dingin dan beku. Masih terngiang rasanya nasehat para ustadz penyampai itu di telinga. Tak lekang oleh waktu.
Sekarang orang mulai bisa mendaki langit, walau hanya sebatas dalam pesawat. Gunung – gunung yang tinggi pun telah dijelajahi. Umumnya sampai ketinggian 10 km di atas permukaan laut. Bahkan sudah ada yang mendarat di bulan. Dan ada juga yang berada di luar angkasa untuk beberapa saat kemudian. Hal itu tidak serta merta menggugurkan dalil di atas. Sebab walau mereka bisa mendakinya, tetapi hanya terbatas. Limited persons. Banyak yang belum mampu, kenyataannya. Dan satu hal lagi bahwa pendakian langit itu dilakukan dengan resiko yang tinggi. Kesulitan yang besar. Bahaya yang setiap saat mengancam. Sudah banyak korban yang menjadi taruhannya. Dalam catatan penerbangan, tercatat bahwa banyak terjadi kecelakaan pesawat itu saat lepas landas – take off. Terbelah kala gagal mendaki. Meledak saat meluncur ke udara. Jadi masih menjadi sebuah kesulitan besar ketika seseorang akan meninggalkan bumi, naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Ini catatan penting, bahwa ada bahaya dan resiko yang tinggi yang harus kita hadapi agar mendapat hidayah dengan memeluk islam. Lebih dari sekedar bahaya naik ke langit, tetapi terhindar dari bahaya siksa neraka. Hal ini perlu diketahui agar kita benar – benar paham, berhati – hati agar selamat melewati semua hadangan dan rintangan, cobaan dan mushibah, sehingga hati kita benar- benar lapang - ngeplong - dalam menjalankan syariat agama. Berlapang dada. Gembira – ria. Meniti setiap jengkal peribadatan sebagai bagian dari mensyukuri petunjukNya.. Semangat, seperti kegembiraan saya di atas awan menikmati barisan mega di balik jendela pesawat “garuda”.

Oleh: Ustazd Faizunal Abdillah


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
Comments (5)
  • zakaria (kepulauan riau, tanju  - kapan diambil gambar itu
    lalu ustaz kira- kira kapan ambil gambarnya, kok bisa seperti itu indahnya kekuasaan Allah.MasyaAllah, Maha Besar ternyata kekuasaan Allah.
  • iin marlina  - minta gading mangu ..
    :D assalamualaikum ,
    saya anak gading,saya pengen banget pondok yangsaya tempati ini bisa masuk web ini.sekaligus mengajak anak2 jamaah untuk mondok!mengingat jaman yang semakin rusak.kita harus memiliki ilmmu yang banyak! agar tidak terpengaruh. saya senang ,dengan adanya web ini saya bisa mengetahui keadaan jamaah lainnya. sekian wassalamualaikum. alhamdulillah jaza kumullohu khoiro.
  • jabrik  - Maha Luas
    apa yang ada didunia sungguh Maha Indah, setetes tangis haru menyelimuti hati dan selimutinya, ketika Nama Nya terlantun dengan merdunya, hati ini bergetar dan tak terasa tangis teteskan embunnya, adakah yang sempurna dari raga yang berlumpur dosa ini, adakah penolong bagi jiwa yang tak ada tempat berpijak selain berharap pada Allah??? Ya Allah ciptaan indah Mu sungguh Maha Luas dan tak kan mampu aku yang berkemampuan terbatas ini menghitungnya
  • Sudiyanta  - Usulan
    Saya usul agar ada website khusus untuk sekolah di Gadingmangu, sehingga bagi yang akan sekolah di sana ada sedikit gambaran.Anak saya pernah berkeinginan melanjutkan ke SMU Gadingmangu.
  • nurjan  - Pencerahan iman
    Pencerahan yang indah dan dapat menambah keimanan saya. aljzkh.
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 

Who's Online

Terdapat 16 Tamu online
KisahKisah Penghuni Surga Terakhir

article thumbnail

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?


Article Yang Lain

Statistik

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday216
mod_vvisit_counterYesterday2090
mod_vvisit_counterThis week4738
mod_vvisit_counterLast week15095
mod_vvisit_counterThis month32451
mod_vvisit_counterLast month69925
mod_vvisit_counterAll days626760

Terdapat: 4 Tamu, 12 bots online
Your IP: 38.107.191.97
 , 
Today: Mar 16, 2010