Jokowi Minta Dukungan Ulama LDIIJAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo mengajak para tokoh ulama LDII terlibat secara aktif dalam kegiatan pembangunan Jakarta. Karena dukungan u... Liputan Media | Jumat, 29 Maret 2013 | Hits: 5197 | Comments Read more |
Media Sosial dan Upaya Rekonstruksi Modal SosialOleh: M. Hidayat Nahwi Rasul (Ketua DPP LDII dan Anggota Komisi Informasi Sul-Sel)Dalam sepekan terakhir ini, Kota Jakarta mengalami musibah banjir yang telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di jantung Ibukota tersebut. Korban pun berjatuhan. Tak sedikit pengungsi yang menempati kantong-kantong pengungsian dan membutuhkan bantuan. Penggalangan... Opini | Selasa, 5 Maret 2013 | Hits: 1033 | Comments Read more |
Lebih Baik Menyalakan Lilin Dari Pada Memaki KegelapanJakarta : Prasetyo Soenaryo dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan sebagai direktur CICS (Centre for information and Culture Studies) di Jakarta, Selasa 30/10 dalam rangka rencana seminar pentingnya parenting bagi tumbuh kembang anak, ketika di tanya pandangannya mengenai pencabutan beberapa mata pelajaran di SD, sangat setuj... Opini | Selasa, 6 November 2012 | Hits: 4036 | Comments Read more |
Prof.Dr.Musliat, Prof.Dr.Ki Supriyoko
Saya ingin membahas mengenai sebuah

JAKARTA (Pos Kota) – Wakil Menteri Hukum dan HAM Danny Indrayana membantah Indonesia akan menjadi negara gagal. Sebab banyak kemajuan yang telah dicapai tapi kurangnya pemberitaan tentang perbaikan yang telah dicapai pemerintah sehingga ada yang berpendapat Indonesia akan menjadi negara gagal.
Itu disampaikan Danny saat berbicara pada Diskusi Kebangsaan Menumbuhkan Kesadaran HAM dan Mewujudkan HAM yang Berkeadilan di kantor DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jakarta, Selasa. Acara itu, dibuka Ketua Umum LDII Abdul Syam.
Danny mencontohkan tentang adanya penilaian, bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia jalan di tempat. “Itu tidak benar dan pendapat itu tidak adil karena di era pemerintahan sekarang mantan menteri dan kepala daerah yang ditahan,” papar dia. Ia mengakui pendapat bahwa pemerintah gagal dalam memberantas korupsi tidak terlepas karena faktor pemberitaan media massa yang terus memberitakan masalah korupsi, sehingga ada kesan praktik korupsi semakin banyak.
“Padahal dulu korupsi juga banyak hanya tidak ada pemberitaan karena tidak adanya kebebasan pers, sehingga ada kesan bahwa praktik korupsinya pada era sebelumnya tidak ada. Saya mempunyai asumsi dulu korupsi lebih banyak tapi tidak terberitakan seperti sekarang.,” katanya.
Ia mengatakan sebetulnya kalau kita melihat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) untuk negara-negara ASEAN saja sejak Tahun 2004-2010, IPK Indonesia mengalami kemajuan, yaitu dalam enama tahun ada kenaikan 0,8 poin, angka seperti itu memang terkesan kecil tapi tetap angka itu harus diapreasiasi, bahwa ada kecenderungan perbaikan dalam upaya pemberantasan korupsi.

Dikatakannya, banyak di antara kita yang melihat tentang keberhasilan China dalam pemberantasan korupsi dengan cara menerapkan hukuman mati terhadap koruptor.“Apakah di China korupsi sedikit, tidak juga karena ada teman saya yang pernah tinggal di China ternyat pelaku korupsi yang dihukum mati itu adalah lawan politik penguasa,” papar Danny.
Ketua Umum LDII Prof Dr Abdul Syam bahwa kita agar tetap optimis dalam membangun bangsa, kita agar banyak mengeluh. “Kita harus mengakui adanya perbaikan atau kemajuan yang telah dicapai pemerintah sekarang tetap harus kita mensyukuri,” kata Abdul Syam. (johara/dms)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|