Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Keikhlasan adalah buah yang tidak tumbuh di tanah yang lunak. Ia memerlukan guncangan, tekanan, dan keheningan panjang. Karena itu, para alim-faqih terdahulu tidak pernah melihat rasa sakit dan penyakit sebagai gangguan semata, melainkan sebagai madrasah batin. Mereka memahami bahwa sebelum hati benar-benar berserah, ia sering kali harus dilembutkan oleh rasa sakit. Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan, penderitaan, dan diguncang…” (QS Al-Baqarah:214)
Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: “Ujian itu ada dua: ujian kelapangan dan ujian kesempitan. Yang paling sedikit berhasil melaluinya adalah ujian kelapangan.” Ucapan ini mengandung isyarat penting: sakit dan kesempitan justru lebih sering membuka pintu kesadaran dibanding kesehatan dan kelapangan. Dalam sakit, manusia berhenti bersandar pada kekuatannya sendiri. Di situlah benih keikhlasan mulai tumbuh.
Para sahabat juga tidak memandang penyakit sebagai tanda murka Allah. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata: “Janganlah engkau membenci musibah, karena boleh jadi di dalamnya Allah menumbuhkan bagimu derajat yang tidak akan engkau capai dengan amalmu.” Penyakit, dalam pandangan ini, bukanlah hukuman, melainkan jalan pintas menuju kedewasaan ruhani. Ia menjadi bel suci yang memanggil manusia untuk berubah—bukan sekadar sembuh, tetapi bertumbuh.
Ibnu Atha’illah As-Sakandari رحمه الله menyingkap makna ini dengan sangat dalam: “Terkadang Allah membukakan bagimu pintu taat, namun tidak membukakan pintu penerimaan. Dan terkadang Allah menimpakan ujian kepadamu, lalu menjadikannya sebab penerimaan.” Berapa banyak orang sehat yang lalai, dan berapa banyak orang sakit yang justru hatinya hidup. Penyakit, jika dibaca dengan jernih, dapat menjadi malaikat menyamar—datang tanpa permisi, namun membawa pesan keselamatan.
Langkah awal dalam menyikapi penyakit, sebagaimana dipahami para sahabat dan para alim-faqih terdahulu, adalah mengenali larangannya. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Penyakit adalah bentuk hisab awal. Ia menegur pola hidup, cara berpikir, dan sikap batin. Ketika larangan penyakit ditaati—tidak berlebih, tidak memaksa, tidak keras—maka tubuh dan jiwa mulai berdamai.
Namun para sahabat dan para alim-faqih terdahulu tidak berhenti pada dimensi fisik. Mereka membaca pesan spiritual di balik setiap luka. Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia jadikan musibah sebagai nasihat baginya.” Penyakit jantung dipahami sebagai ajakan untuk membersihkan cinta. Penyakit lisan sebagai peringatan agar kata-kata dijaga. Gangguan pada langkah sebagai tanda agar arah hidup ditinjau ulang. Semua ini sejalan dengan ucapan Imam al-Ghazali رحمه الله: “Anggota tubuh adalah tentara hati. Jika hati rusak, kerusakan itu akan tampak pada tubuh.” Karena itu, perjalanan menyembuhkan diri menurut para sahabat dan para alim-faqih terdahulu bukanlah perjalanan memusuhi diri. Justru sebaliknya. Mereka mengajarkan rifq—kelembutan kepada diri sendiri. Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه berkata: “Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang hendak menimpanya, sedangkan orang lalai melihatnya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.”
Kesadaran ini melahirkan sikap rendah hati di hadapan penyakit, bukan pemberontakan. Penyakit diterima sebagai sahabat yang mengingatkan, bukan musuh yang harus dimaki. Nabi Ayyub عليه السلام, teladan kesabaran, tidak berdoa agar penyakitnya segera diangkat, melainkan berkata: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83) Para alim-faqih terdahulu memahami doa ini sebagai puncak keikhlasan: menyebut luka, tanpa menuduh; mengadu, tanpa menuntut.
Maka pada akhirnya, mereka sampai pada satu kesimpulan agung: rasa sakit bukan ancaman, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk pulang, meluruskan niat, dan menanggalkan kesombongan halus yang sering menempel saat sehat. Seperti kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله: “Musibah mematahkan kesombongan dan membuka pintu kehinaan kepada Allah. Dan kehinaan (baca: penghambaan) itulah inti ibadah.” Dan sudahkah kita ikhlas hina?











