Pulau Sabu merupakan pulau terluar dengan mayoritas pemeluk Protestan. Di pulau itu warga LDII, Agus Sulistiawan menjadi penggerak pertanian lokal dan memperkuat toleransi dengan budi luhur.
Pulau Sabu permata indah di ujung timur terluar Indonesia, yang berbatasan dengan Australia. Di wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur itu, Agus Sulistiawan (48 tahun) warga LDII asal Tulungagung, Jawa Timur, mengadu nasib, sebagai wiraswatawan kuliner sekaligus bertani.
Pulau Sabu sebagaiman wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya, merupakan savana yang eksotis. Padang rumput menghampar menghiasi perbukitan kapur. Di situlah Agus berdiri menjalani takdirnya.
Sebelum menjejakkan kaki di Pulau Sabu, kehidupan Agus di kampungnya sudah terbilang mapan. Ia memiliki rutinitas yang padat: pagi hari ia habiskan di sawah, selanjutnya berjualan mie ayam, dan sore harinya ia mengajar pengajian cabe rawit — pengajian anak-anak di lingkungan LDII. Namun, satu tawaran dari temannya pada tahun 2015 cukup menggoda hasratnya untuk merantau. Kawannya melihat peluang besar di Pulau Sabu karena belum banyak usaha kuliner seperti mie ayam atau bakso.
Hanya saja, meninggalkan istri dan keluarganya merupakan tantangan terberat. Bahkan, menimbulkan pertanyaan dari kerabatnya, “Wah ngapain jauh-jauh, sekarang kan kamu udah cukup buat apa merantau,” kenangnya. Namun, dalam hatinya, ia memiliki niat yang kuat. Ia ingin meningkatkan ekonomi keluarga dan yang terpenting, ada panggilan berdakwah di sana.
Saat tiba di Pulau Sabu, kesan pertama yang ia rasakan adalah kesepian. “Gimana ya? Sangat sepi sekali di sini,” ujarnya, membayangkan perbedaan jauh dengan kampung halamannya. Keraguan sempat menghinggapinya setelah dua hari semenjak kedatangannya, namun nasihat dari sesama perantau Jawa menguatkannya, “Mas coba aja nanti insya Allah, kalau sudah mencoba, pasti tahu hasilnya”. Berbekal pengalaman membuat mie ayam, ia memulai usaha dengan menyewa kios di dalam Pasar Rakyat Nagata Seba, dan dalam waktu satu minggu, warungnya sudah mulai ramai.
Amarah Dibalas dengan Budi Luhur
Bisnis mie ayam milik Agus telah berkembang pesat. Kiosnya yang semula hanya satu, bertambah menjadi dua kedai. Namun, cobaan datang pada Desember 2016. Seorang perantau asal Bogor, Jawa Barat, memasuki sebuah sekolah dasar dan secara tiba-tiba melukai beberapa murid dengan senjata tajam. Berita mengenai kekerasan itu segera menyebar, memicu aksi balasan kepada perantau. Kepanikan pun melanda para pendatang. Bahkan, pelaku yang ditahan di Polsek Sabu Barat dihabisi massa.
Dampak dari tragedi ini meluas. Warung-warung milik para perantau asal Jawa di pasar menjadi sasaran perusakan. Kios mie ayam milik Agus yang berlokasi di Pasar, tak luput dari sasaran amuk massa. Selain itu, warga juga mengintimidasi para perantau dari Pulau Jawa yang berlokasi di dekat Pelabuhan Seba.
Aguspun selamat dari apokalipso itu. Ia justru mendapatkan perlindungan dari masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Ikatan persahabatan, dan kebaikan yang terjalin sehari-hari dengan para tetangga mampu menyelamatkannya.
Sikapnya yang ramah, gemar menolong, dan kebiasaannya berbuat baik kepada sesama ternyata membuahkan hasil. Ia sering membantu warga sekitar yang kesusahan, seperti memberikan bensin atau membantu mendorong motor yang mogok — inilah praktik budi luhur yang Agus lakukan.
Saat kerusuha, para tetangga menjaganya, “Mas jangan keluar, Mas jangan jualan dulu, sementara ini Mas di dalam saja dulu,” pinta para tetangganya ketika kerusuhan terjadi. Setelah kondisi mulai mereda dan terkendali, Agus memutuskan untuk pulang ke Tulungagung, sekira satu bulan — dari setelah Natal hingga awal Tahun Baru, untuk menenangkan diri.
Namun kepercayaan masyarakat terhadapnya yang sangat besar, membuatnya ingin kembali. Ia mengingat ketika membantu warga menyediakan hidangan halal untuk hajatan kampung. Toleransi dan kebersamaan itu seperti memanggilnya untuk kembali.
Sekembalinya ke Sabu, Agus tidak lagi berdagang di pasar karena kondisi kiosnya yang rusak dan mulai terkendala pasokan air bersih. Ia memindahkan usahanya di rumah kontrakannya, dengan membuka ‘Rumah Makan Nata Jawa 2’. Hingga kini, ia tidak hanya menjual mie ayam, tetapi juga mengembangkan menu dengan nasi ayam, bakso, kue-kuean, dan gorengan.
Selain kuliner, ia peluang lain: pertanian. Ia melihat banyaknya lahan kosong di Sabu dan harga komoditas yang sangat tinggi. “Harga lombok (cabai). nggak pernah turun dari Rp30.000 dan cenderung di atas Rp50.000,” ungkapnya. Begitu pula tomat, harganya tidak pernah turun dari pertama kali ia tanam.
Berbekal pengalamannya bertani, ia mencoba menanam tomat dan semangka. Awalnya ia sempat gagal karena tidak memahami iklim lokal dan kapan waktu musim hujan, tetapi ia terus belajar bermodalkan tutorial dari video YouTube. Ia juga menemukan racikan pupuk semi organiknya sendiri, hingga menerapkan metode irigisi tetes. Usahanya berkembang hingga berhasil menggarap dua kebun seluas 2 hektare di atas lahan sewaan.
Kesuksesan ini bahkan menarik perhatian Bupati Krisman Riwu Kore. Saat panen raya tomat, Bupati sangat kagum dan memintanya untuk terus memotivasi masyarakat, “Teruslah memberikan contoh, ternyata tanah Sabu itu nggak kalah dengan tanah yang di Jawa,” ujarnya mengulang pesan Bupati.
Melihat kesuksesan tersebut. Krisman menghadiahi sebuah rumah bibit yang berlokasi di sekitar kebun. Nursery tersebut dilengkapi berbagai peralatan penunjang pertanian seperti mesin sprayer air untuk menyiram pupuk.
Kerja keras Agus membuahkan hasil yang manis. Bisnis dan pertanian yang terus berkembang bukan lain dengan melibatkan bantuan keluarga. Hingga saat ini, Mereka telah berhasil membuka dua cabang warung baru dengan omset harian dari warung utamanya hingga mencapai Rp2-3 juta.
Salah satu yang membuat Agus mencintai Pulau Sabu karena toleransi warganya. Dinukil dari website resmi Kabupaten Sabu Raijua, pada 2016, penganut agama Islam hanya 0,95 persen. Tapi toleransi di pulau itu sangat tinggi.
Sebagai contoh, dalam acara pesta pernikahan, warga muslim diberi perlakuan khusus. Mereka ditempatkan di lokasi terpisah dengan juru masak dan peralatan tersendiri, untuk memastikan hidangan yang disajikan sepenuhnya halal.
Begitu pula saat syukuran setelah pemakaman, warga muslim disiapkan tempat khusus untuk menjalankan sholat. Bahkan, pada saat Hari Raya Idul Kurban dan Hari Raya Idul Fitri, panitia tidak melupakan nonmuslim. Mereka menyiapkan daging khusus untuk dibagikan kepada nonmuslim, sementara kepolisian dan dinas setempat ikut turut serta dalam pengamanan.
“Alhamdulillah di sini aman, beribadah bisa lancar tanpa kendala sama sekali,” pungkasnya. Baginya, di mana pun seseorang berada, yang terpenting adalah berniat ingin ibadah. Kisah Agus Sulistiawan adalah bukti bahwa tekad yang kuat, karakter yang luhur, dan semangat pantang menyerah, dan mengutamakan ibadah mengantarkan keberkahan. (Faishal Muhammad Dzulfiqar)