Jakarta (17/12). DPP LDII menggelar sarasehan kebangsaan, yang menghadirkan pembicara kunci Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Fadli Zon. Dalam sambutannya, ia menegaskan umat Islam di Indonesia memiliki peran strategis dalam pemajuan kebudayaan, meliputi seni atau tradisi, dan juga karakter yang membentuk peradaban.
Peradaban besar Indonesia, kata Fadli Zon, tak pernah lepas dari kontribusi umat Islam dari berdirinya kerajaan Islam, kesultanan, hingga tumbuhnya pusat ilmu seperti pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang membentuk generasi intelektual dan pemimpin bangsa.
“Umat Islam sedang berperan aktif menumbuhkan kebudayaan dan peradaban yang mencerahkan dan membanggakan,” ujarnya yang saat itu menyampaikan sambutan pada Selasa (16/12) di Kantor LDII, Jakarta.
Fadli Zon mengutip Alqur’an surat Al-Hujurat ayat 13, manusia diciptakan Allah, dalam kondisi beragam suku dan bangsa agar saling mengenal, “Keberagaman adalah sunatullah yang kita yakini dalam filosofi Bhinneka Tunggal Ika, apalagi kita negara yang beragam secara budaya, mega diversity,” ujarnya.
Indonesia secara sosiokultural merupakan negara yang memiliki kekayaan besar, negara yang bermodal besar, 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah yang mewakili 10 persen dari bahasa dunia. “Negara ini juga mencatatkan banyak warisan budaya 2.727 budaya tak benda nasional dari 37.000 objek pemajuan kebudayaan seluruh Indonesia,” kata Fadli.
Keberagaman tersebut merupakan jati diri bangsa Indonesia yang diwadahi Pancasila. Dengan dsar negara itulah, bangsa Indonesia mampu menghadapi tantangan globalisasi, perpecahan sosial, konflik, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, “Kita dituntut kembali pada jati diri bangsa berupa Pancasila,” ujarnya.

Pancasila merupakan panduan hidup berbangsa bukan sekedar konsensus politik. Pancasila menjadi panduan moral dan nilai hidup bersama. “Merawat Pancasila, berarti menghidupkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, dalam kehidupan nyata baik kebijakan publik, bersosial, maupun praktek agama. Dalam konteks inilah Islam Wasathiyah berperan strategis,” kata Fadli.
Ia juga mengajak para peserta Sarasehan Kebangsaan menumbuhkan semangat Pancasila, Islam Wasathiyah serta menjaga kebhinnekaan sebagai pondasi persatuan. “Dengan menjadikan sejarah sumber pembelajaran, budaya sebagai perekat, binding power dari kehidupan berbangsa, saya meyakini Indonesia menjadi bangsa berkeadilan, bermartabat, menuju keadilan sosial bangsa Indonesia,” katanya.
Senada dengan Fadli Zon, Ketua DPP LDII Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Prof. Singgih Tri Sulistiyono menyampaikan negara saat ini berkomitmen mengenai kebudayaan. Bahwa budaya adalah ruang temu bersama, yang diharapkan menjadi sumber toleransi, gotong royong untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada kesempatan tersebut, Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistiyono mengatakan Sarasehan Kebangsaan menjadi momentum strategis, untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, ulama, masyarakat, sekaligus sebagai ikhtiar kolektif membangun Indonesia berakhlak dan berilmu.
Dalam acara itu, Singgih mengatakan identitas nasional tengah melawan algoritma dan kepentingan pasar bebas, sehingga kaum muda banyak dipengaruhi medsos ketimbang pendidikan. Lalu, ia melanjutkan, memudarnya rasa senasib atau nasionalisme sudah mengalami perbedaan. “Karena itu perlu ada narasi baru yang perlu mengikat kebersamaan bangsa,” kata Singgih.
Historiografi yang terbatas, para sejarawan atau guru dalam menyampaikan masih kaku, sehingga program penulisan sejarah yang baru, akan menjadi bahan ajar untuk menggantikan materi pelajaran sejarah sebelumnya, “Masa lampau jika tidak utuh, maka generasi muda akan kehilangan memori kolektif. Karena itu penulisan sejarah ini menjadi penting,” kata dia.











