Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Surat Al-Baqarah ditutup bukan dengan perintah baru, bukan pula dengan ancaman yang mengguncang, melainkan dengan sebuah ayat yang terasa seperti pelukan bagi jiwa yang bersih dan letih. Setelah rentetan hukum, kisah umat terdahulu, dan penegasan identitas iman, Allah menutup surat terpanjang dalam Al-Qur’an dengan kalimat yang sangat indah lagi sangat manusiawi.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Dengan tegas Allah menjelaskan bahwa;“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat ini menegaskan bahwa agama bukan proyek penyiksaan, melainkan jalan penyelamatan. Allah tidak sedang menguji manusia untuk menjatuhkannya, tetapi untuk mengangkatnya—dengan ukuran yang tepat. Beban hidup, kewajiban agama, bahkan ujian batin, semuanya berada dalam lingkup kemampuan yang telah ditakar oleh Zat Yang Maha Mengetahui isi jiwa.
Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini adalah bukti sempurnanya rahmat Allah dalam syariat. Tidak ada satu pun kewajiban agama kecuali disertai kemampuan. Maka ketika kemampuan itu hilang, kewajiban pun diringankan atau gugur. Dari ayat inilah para ulama menetapkan kemudahan bagi orang sakit, musafir, orang yang lupa, dan mereka yang berada dalam keadaan darurat. Islam tidak memaksa seseorang berdiri ketika ia tak sanggup berdiri, dan tidak menuntut puasa ketika tubuh tak mampu menahannya.
Ayat ini juga mengajarkan keadilan yang sangat personal. Allah berfirman: “Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.” Setiap jiwa berdiri sendiri. Tidak ada pahala turunan, tidak ada dosa warisan. Imam Al-Qurthubi رحمه الله menyebut ayat ini sebagai ashl fi raf‘il haraj —pokok penghapusan kesulitan dalam hukum Islam. Menurut beliau, Allah tidak mewajibkan sesuatu yang mustahil secara akal maupun kebiasaan. Karena itu, setiap pemahaman agama yang melahirkan kesempitan ekstrem perlu ditinjau kembali, sebab ia bertentangan dengan ruh ayat ini.
Di sinilah Islam membedakan diri dari keberagamaan yang kaku. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله pernah berkata, “Allah mengutus Muhammad ﷺ bukan untuk menyulitkan manusia, tetapi untuk membimbing mereka dengan kelembutan.” Maka sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama bukanlah tanda kesalehan, melainkan kegagalan memahami tujuan syariat. Menariknya, ayat ini tidak berhenti pada penegasan hukum. Ia beralih menjadi doa—doa yang diajarkan Allah sendiri kepada manusia. Seakan Allah ingin berkata: beginilah cara seorang hamba berbicara kepada Tuhannya ketika lemah.
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” Kalimat ini adalah pengakuan jujur atas kodrat manusia. Kita pelupa, sering keliru, dan tak selalu mampu menjaga konsistensi. Ibnu Taimiyah رحمه الله menjelaskan bahwa doa ini adalah dalil diangkatnya hukuman dari kesalahan karena lupa dan tidak sengaja bagi umat ini, sebagaimana ditegaskan pula dalam hadits shahih: Allah memaafkan umat Muhammad dari kesalahan, kelupaan, dan keterpaksaan. Ini bukan lisensi untuk meremehkan dosa, tetapi pintu harapan agar manusia tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Doa itu berlanjut: “Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.” Ayat ini menyimpan kesadaran sejarah. Umat-umat terdahulu memiliki syariat yang lebih berat sebagai konsekuensi pembangkangan mereka. Umat ini—umat Nabi Muhammad ﷺ—diberi keringanan bukan karena lebih kuat, tetapi karena lebih rapuh. Nabi ﷺ bersabda bahwa agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya. Kemudahan bukan tanda pelemahan iman, melainkan tanda kasih sayang Tuhan.
Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله meletakkan kaidah penting yang lahir dari ayat ini: kewajiban bergantung pada kemampuan, dan kemampuan diukur menurut kebiasaan manusia, bukan idealisme yang tak berpijak pada realitas. Karena itu, niat memiliki posisi sentral dalam Islam. Allah menilai usaha, bukan kesempurnaan hasil.
Puncak ayat ini adalah permohonan paling mendasar manusia: “Ampunilah kami, rahmatilah kami, dan tolonglah kami.” Ampunan untuk masa lalu, rahmat untuk hari ini, dan pertolongan untuk masa depan. Imam Al-Ghazali رحمه الله memandang ayat ini sebagai obat bagi jiwa yang diliputi was-was. Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, beliau menegaskan bahwa Allah tidak menuntut kesempurnaan malaikat dari manusia. Yang dituntut adalah kejujuran untuk kembali. Lelah dalam iman tidak membatalkan iman; yang membatalkan adalah berhenti berharap kepada Allah.
Dan ayat ini ditutup dengan pengakuan tauhid yang tenang: “Engkaulah Pelindung kami.” Bukan harta, bukan jabatan, bukan manusia. Ketika semua sandaran runtuh, seorang mukmin tahu ke mana harus bersandar. Surat Al-Baqarah pun ditutup dengan keyakinan bahwa hidup ini—dengan seluruh bebannya—tidak berjalan tanpa pengawasan dan kasih sayang.
Ayat terakhir ini mengajarkan bahwa iman bukan tentang selalu kuat, melainkan tentang selalu kembali. Bahwa Allah tidak meminta manusia menjadi sempurna, tetapi berjalan dengan jujur, sejauh yang ia mampu, sambil bersandar kepada-Nya. Dan selama seorang hamba masih berdoa, ia belum pernah benar-benar kalah. Inilah ayat jaminan yang Allah berikan untuk kita manusia. Beribadah semampunya. Salah, keliru, lupa tidak disiksa. Jadi berbahagialah.










