Padang (2/1). Penggerak Pembina Generus (PPG) Padang di bawah naungan DPD LDII Kota Padang menghelat pelatihan Diklat Kurikulum Taman Pendidikan Al Quran (TPQ). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Miftahul Huda KPIK, Padang, Sumatra Barat pada Sabtu, (31/1/2026).
Pelatihan tersebut bertujuan untuk memperkuat kapasitas para guru TPQ, khususnya dalam mengelola kelas pengajian generasi muda agar lebih efektif dan mencapai target usia pembelajaran.
Pelatihan menghadirkan Ust. Yulianto Nugroho dari Bidang Kurikulum PPG sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya peran guru dalam merancang pembelajaran harian, bulanan, dan semester untuk melihat perkembangan target materi santrinya.
“Dengan mulai menertibkan administrasi pembelajaran, menjalankan evaluasi, dan melibatkan orang tua dalam proses pengajaran, maka target kealiman dan kefaqihan generus akan dapat dicapai,” ujarnya.
Menurut Nugroho, pengajaran harus selalu memiliki alat ukurnya berupa kurikulum. Dalam menerapkan kurikulum, para guru TPQ harus bisa membuat rencana kegiatan belajar mengajar dan mengumpulkan bahan ajar berdasarkan kurikulum tersebut. Dengan harapan target pembelajarannya dapat tercapai.
“Target besar pendidikan keagamaan anak didik kita melalui TPQ adalah kealiman dan kefaqihan agama. Untuk mencapainya, ustaz dan ustazah harus menitikberatkan pada perangkat pembelajaran yang tepat, terukur, dan sesuai dengan kurikulum TPQ-nya,” jelas Nugroho yang merupakan Wakil Ketua DPD LDII Kota Padang itu.
Selain kurikulum dan buku bahan ajar, materi pelatihan mencakup strategi komprehensif dalam manajemen kelas, mulai dari perencanaan pembelajaran, pengaturan ruang kelas, komunikasi efektif, hingga pengelolaan waktu secara efisien.
Para peserta juga dibekali berbagai tip praktis untuk menangani perilaku santri, memanfaatkan sumber daya pembelajaran, dan menyusun kegiatan yang menarik. Sekretaris PPG, Rohmat Syahrin, dalam kesempatan itu turut menekankan bahwa guru perlu memiliki rencana pembelajaran yang matang dan menjalankannya dengan konsisten. Setelah itu, penting bagi guru untuk melakukan evaluasi dan refleksi demi peningkatan kualitas mengajar.
“Seorang guru hendaknya menyiapkan amunisi sebelum masuk kelas, yaitu rencana pembelajaran dan bahan ajarnya. Selain itu, metode pembelajaran yang dipilih turut menentukan apakah materi yang disampaikan dapat diterima peserta didik atau tidak,” ujarnya.
Tak hanya menekankan strategi satu arah, pelatihan ini juga mendorong terbangunnya suasana pembelajaran yang partisipati, “Lingkungan belajar yang kondusif diyakini dapat meningkatkan motivasi santri untuk terus menimba ilmu, tidak hanya dalam kerangka keagamaan, tetapi juga dalam pengembangan karakter. Materi yang biasanya banyak diajarkan melalui metode ceramah perlu ditingkatkan menjadi *student centered*, di mana anak kita adalah pusat pembelajaran di kelasnya,” tuturnya.
Rohmat menambahkan diklat kurikulum ini perlu dilakukan secara berkelanjutan agar para guru dapat terus menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, karakteristik siswa, serta model dan gaya pembelajaran yang efektif. “Harapannya, kegiatan pembelajaran di TPQ masing-masing bisa benar-benar bermanfaat. Selain kurikulum, ke depannya perlu disiapkan juga diklat manajemen kelas dan membangun suasana kelas yang kondusif untuk menciptakan pembelajaran yang berkesan,” tutupnya. (rohmat/nisa)










