Surabaya (4/2). Jelang pelatihan jurnalistik dan literasi digital, Departemen Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPP LDII dan Biro KIM DPW LDII Jawa Timur menghadiri undangan dialog di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur. Dialog berformat podcast tersebut dipandu Pranata Humas Ahli Pertama Dinas Kominfo Jawa Timur, Sa’adah Hafidz, yang dihelat pada Selasa (3/2/2026).
“Dalam skala nasional, kami memulai kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital sejak 2007, yang saat itu bernama Departemen Komunikasi dan Informatika. Untuk melaksanakan Gerakan Internet Sehat atau GIS,” ujar Ketua Departemen KIM DPP LDII, Ludhy Cahyana.
Departemen KIM memandang GIS sangat penting, untuk mengantisipasi bila media sosial berubah menjadi ruang publik yang membahayakan masyarakat, “Saat itu media sosial yang populer masih Facebook dan hanya digunakan untuk silaturrahim. Namun Pemilu Amerika Serikat pada 2008 yang dimenangi Barack Obama dengan menggunakan media sosial, lalu Pilkada DKI Jakarta pada 2012, membuktikan Facebook bisa menjadi alat kampanye hitam,” ungkap Ludhy.
Sejak saat itu, DPP LDII mulai memikirkan situs dan media sosial resmi organisasi. Kemudian dipertajam dengan pendirian LDII News Network pada 10 November 2013, sebagai kantor berita DPP LDII, “Kami menerbitkan 300 lebih berita per bulan, 400 produksi media sosial, dan 60 produksi media sosial. Kami juga membentuk koordinator wilayah untuk memantau pemberitaan di situs-situd resmi organisasi dari level provinsi hingga kabupaten,” paparnya.
Pelatihan jurnalistik, sebagaimana yang akan dilaksanakan di DPW LDII Jawa Timur, menurut Ludhy merupakan bagian penguatan pemberitaan sekaligus kaderisasi. Senada dengan Ludhy Cahyana, Ketua Biro KIM LDII Jawa Timur Sofyan Gani mengatakan, pelatihan jurnalistik merupakan agenda tahunan untuk meningkatkan kualitas pemberitaan LDII di Jawa Timur.
Sofyan menegaskan, literasi digital bagi LDII bukan hanya pelatihan jurnalistik namun juga pemahaman terhadap media sosial, “Agar warga kami makin bijak menggunakan media sosial, sekaligus memproduksi konten yang tidak asal viral. Untuk itu kami sejak 2024 sudah bekerja sama mengenai literasi digital dengan Dinas Kominfo Jawa Timur,” tutur Sofyan.
Dengan memahami jurnalistik dan menulis sesuai fakta, Sofyan berharap warga LDII selalu mengecek dan ricek fakta. Sekaligus lebih memanfaatkan media sosial untuk hal yang positif, salah satunya dengan memperkokoh kerukunan dalam hidup beragama, “Jangan sampai media sosial justru menjadi alat pemecah belah,” tegasnya.
Sofyan mengatakan, pelatihan jurnalistik LDII Jawa Timur akan dilaksanakan pada 7 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta. Utusan dari setiap DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur sebanyak empat orang, “Mereka adalah anak-anak muda yang dalam kesehariannya akrab dengan media sosial. Merekalah nantinya yang membantu publikasi LDII di kotanya. Sekaligus mengajarkan literasi media sosial kepada kawan-kawannya,” ungkap Sofyan.
DPP dan DPW LDII berharap, warga LDII khususnya dan masyarakat semakin bijak menyikapi media sosial. Jangan sampai terjebak dengan fakta yang berdasarkan persepsi atau opini, namun tidak pernah mengecek fakta tersebut, “Literasi digital bukan hanya mengerti dan memahami, tapi sekaligus membuat konten yang berdampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas Sofyan.











