Kupang (18/2). DPW LDII Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Asrama Kitabul Khutbah yang diikuti 30 dai dari 18 kabupaten dan kota se-NTT. Program untuk meningkatkan kapasitas dai ini dipusatkan di Masjid Raudhatul Jannah pada 9-14 Februari 2026.
Asrama Kitabul Khutbah dibuka Dewan Penasihat DPW LDII NTT KH Gatot Subiyanto. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dai memiliki posisi strategis sebagai pembimbing umat, sehingga tidak cukup hanya bermodal semangat dan niat baik, “Khutbah dan dakwah harus disampaikan dengan kesiapan yang matang, runtut, mudah dipahami, serta memiliki landasan keilmuan yang kuat,” kata Gatot pada Senin (9/2/2026).
Menurutnya, pesan keislaman yang disampaikan secara sistematis dan menyejukkan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat yang beragam latar belakangnya. Gatot menegaskan, Asrama Kitabul Khutbah bukan sekadar agenda seremonial atau rutinitas tahunan, “Program ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan LDII untuk menjaga kualitas dakwah agar tetap relevan di tengah dinamika sosial yang terus berubah,” ujar Gatot.
Asrama Kitabul Khutbah tingkat provinsi ini merupakan tindak lanjut langsung dari program nasional DPP LDII. Di tingkat pusat, DPP LDII telah merumuskan dan menyusun himpunan materi khutbah nasional yang menjadi rujukan bersama bagi para dai dan khotib LDII di seluruh Indonesia.
Materi tersebut disusun secara sistematis, berlandaskan Al Quran dan Al Hadist, serta disesuaikan dengan tantangan dan realitas kehidupan masyarakat masa kini. Tujuannya jelas: menciptakan keselarasan pesan dakwah dari pusat hingga daerah, tanpa kehilangan konteks lokal.
Gatot mengatkan, Asrama Kitabul Khutbah ini merupakan langkah strategis dalam penguatan sumber daya manusia bidang dakwah. “Dengan rujukan materi yang seragam dari pusat dan pelaksanaan berjenjang hingga daerah, dakwah diharapkan berjalan selaras, terarah, dan memberi kontribusi bagi pembinaan umat Islam di NTT,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pelatihan, Asrama Kitabul Khutbah menjadi simbol komitmen LDII dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan dakwah. “Para peserta diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh, menjadi agen dakwah yang profesional, berakhlak mulia, serta mampu memberi teladan di tengah kehidupan bermasyarakat,” harap Gatot.
Pengajar Asrama Kitabul Khutbah merupakan dua dai asal NTT yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan di tingkat pusat, yakni Ustadz Adnan Abdillah dan Ustadz Malik Nur Ali. Keduanya berperan sebagai jembatan transfer ilmu, memastikan materi nasional dapat dipahami, diolah, dan diterapkan secara efektif oleh para peserta di NTT.
Gatot menambahkan, pendekatan ini sejalan dengan arahan Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, yang selama ini menekankan pentingnya profesionalisme dalam berdakwah. Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan bahwa dai dan khotib memegang amanah besar dalam membimbing umat.
“Dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi bagaimana pesan itu mampu meningkatkan keimanan, membentuk akhlak, dan menjaga persatuan umat,” ujar KH Chriswanto dalam salah satu pernyataan resminya terkait program dakwah nasional LDII.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam pelaksanaan Asrama Kitabul Khutbah di NTT. Para peserta tidak hanya dibekali materi, tetapi juga diajak memahami metode penyampaian yang argumentatif, santun, dan sesuai kebutuhan jamaah.
Selama enam hari, para dai mengikuti pembinaan intensif yang tidak hanya berfokus pada isi khutbah, tetapi juga cara menyampaikan pesan keislaman secara efektif di era modern. “LDII NTT berharap program ini mampu melahirkan dai yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga mampu menjadi penyejuk di tengah masyarakat,” pungkas Gatot.

