Jakarta (18/2). LDII melakukan pengamatan hilal di berbagai titik dari wilayah barat hingga timur Indonesia melalui jajaran pengurus mulai tingkat DPP, DPW, hingga DPD.
Dalam Talkshow Ramadan yang disiarkan melalui kanal YouTube LDII TV pada Selasa (17/2/2026), Anggota Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII, Ust. Sunarli Abdul Muiz menyampaikan, berdasarkan data astronomi, posisi bulan pada 29 Syaban diprediksi masih berada di bawah ufuk.
“Berdasarkan data astronomi kemungkinan hilal belum bisa terlihat hari ini, namun demikian tetap kita menunggu dari hasil sidang isbat,” ujar Sunarli.
Meski secara astronomis hilal diperkirakan belum tampak, Sunarli menegaskan bahwa pelaksanaan rukyatul hilal tetap dilakukan sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa dalam satu bulan jumlah hari bisa 29 atau 30 hari, sehingga pengamatan hilal menjadi bagian penting dalam penentuan awal Ramadan.
Dalam menentukan awal Ramadan, LDII menggunakan metode inkanurrukyat. Metode tersebut mengombinasikan dua pendekatan utama, yakni hisab dan rukyat. Hisab merupakan perhitungan astronomis yang bersifat informatif, sementara rukyat adalah observasi langsung yang bersifat konfirmatif.
Sunarli menjelaskan bahwa perbedaan penentuan awal Ramadan atau ikhtilaf sangat mungkin terjadi karena perbedaan metode yang digunakan oleh masing-masing pihak. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut harus disikapi dengan saling menghormati. “Rukyat itu untuk memastikan bahwa hisabnya itu betul,” katanya.
Ia juga menjelaskan terkait kemungkinan perbedaan hasil pengamatan antarwilayah, bahwa berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), jika hilal sudah terlihat di wilayah timur, maka wilayah barat secara teori akan lebih mudah melihatnya karena pengaruh lengkungan bumi.
Sunarli menambahkan bahwa LDII merujuk pada hadis Nabi dengan mengombinasikan penggunaan hisab dan rukyat. “Data astronomi digunakan sebagai acuan awal, kemudian dilanjutkan dengan rukyatul hilal pada hari pengamatan,” ungkapnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, LDII juga terus menyempurnakan proses tersebut dengan memberikan pendidikan kepada para pengamat rukyatul hilal di berbagai provinsi serta melengkapi sarana pengamatan.
Dalam pelaksanaannya, LDII juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak berwenang, seperti BMKG dan tim hisab rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya dalam pelatihan ilmu falak bagi para praktisi rukyat.
Secara historis, praktik rukyatul hilal memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadits. Sunarli menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk berpuasa ketika melihat hilal sebagai tanda masuknya Ramadan dan berbuka ketika melihat hilal Syawal.
“Rasulullah SAW bersabda: Jika kalian sudah melihat hilal Ramadan, maka berpuasalah. Jika kalian sudah melihat hilal Syawal, maka berbukalah. Jika ia tertutup awan, maka perkirakanlah,” jelas Sunarli.
Menurutnya, pengamatan hilal tidak hanya bersifat ilmiah, tetapi juga memiliki nilai spiritual karena merupakan bagian dari ibadah yang berlandaskan Al-Qur’an dan hadis. “ketika semua tindakan didasarkan dari Quran Hadis maka itu menjadi sebuah ritual ibadah,” jelasnya.
Menjelang Ramadan, Sunarli juga mengajak umat Islam untuk mempersiapkan diri dengan baik. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan serta menargetkan lima kesuksesan Ramadan, yaitu sukses menjalankan puasa, sukses melaksanakan salat tarawih, sukses membaca Al-Qur’an, meraih lailatul qadar, dan menunaikan zakat fitrah. “Anggaplah Ramadan kali ini sebagai Ramadan terakhir bagi kita, sehingga kita dapat memaksimalkan ibadah,” katanya.
Sidang Isbat Ramadan 1447H
Sementara itu Kementerian Agama RI dalam sidang isbat pada Selasa, (17/2/2026) memutuskan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, (19/2/2026). Ketua Departemen Pendidikan, Keagamaan, dan Dakwah KH Aceng Karimullah menyampaikan, sidang isbat tersebut membuktikan kemunculan hilal di ufuk barat (tampak matahari).
“Sore ini (29 Sya’ban) menentukan apakah masih tanggal 30 Sya’ban atau sudah masuk 1 Ramadan, ternyata berdasarkan laporan pengamatan dari ujung wilayah Aceh hingga Jayapura sepakat hilal tidak tampak, artinya 1 Ramadan jatuh pada lusa,” ujarnya.
Tahun ini, tim Rukyatul Hilal LDII melaporkan dari 89 titik pantau dengan jumlah perukyat 430 orang yang juga bekerjasama dengan ormas Islam lainnya termasuk tim Kemenag yang memantau di 96 titik.
Berdasarkan paparan, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI masih berada di bawah ufuk, dengan rentang antara -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°). Sementara itu, sudut elongasi berada pada kisaran 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).
Artinya, secara hisab, posisi hilal di seluruh wilayah NKRI belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan MABIMS, yaitu tinggi hilal minimum tiga derajat dan sudut elongasi minimum 6,4 derajat.
“Dengan demikian, bukan hanya belum memenuhi kriteria imkan rukyat, tetapi secara astronomis hilal belum mungkin terlihat, sehingga secara hisab data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” urai Menag.












