Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Hati tidak tiba-tiba menjadi batu. Ia mengeras pelan perlahan—seperti tanah yang lama tak tersentuh hujan. Awalnya hanya menunda. Lalu terbiasa. Lalu tidak merasa apa-apa.
Allah memberi peringatan yang sangat halus namun mengguncang: “ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini turun bukan kepada orang kafir. Ia turun kepada orang beriman. Artinya, hati seorang mukmin pun bisa mengeras.
Keras bukan berarti membangkang. Keras bisa berarti: salat, tapi tanpa rasa. Membaca Qur’an, tapi tanpa getar. Mendengar nasihat, tapi tanpa perubahan.
Sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata bahwa jarak antara keislaman mereka dan teguran ayat ini hanya empat tahun. Para sahabat pun diingatkan agar hati tidak membatu. Maka, bagaimana dengan kita yang telah bertahun-tahun jauh dari suasana wahyu?
Hati mengeras bukan karena kurang informasi. Ia mengeras karena terlalu banyak distraksi. Dunia hari ini membuat kita cepat tahu, tapi lambat merasa. Kita tahu ayat tentang sabar. Kita hafal hadits tentang ikhlas. Tapi hati tidak ikut bergerak.
Para Alim-Faqih pernah berkata, “Obat hati ada lima: membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, mengosongkan perut, qiyamullail, merendahkan diri – dzikir dan minta ampun – di waktu sahur, dan duduk bersama orang-orang shalih.” Perhatikan: mereka tidak menyebut “banyak informasi.” Mereka menyebut keheningan, lapar, malam, dan pergaulan baik. Karena hati dilembutkan oleh kesadaran, bukan oleh kebisingan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim) Segumpal daging kecil. Tapi menentukan seluruh arah hidup.
Ketika hati mulai keras, tanda-tandanya halus: Tidak lagi merasa bersalah. Tidak lagi tergerak oleh ayat. Tidak lagi takut kehilangan Allah. Dan yang paling berbahaya: merasa baik-baik saja.
Seorang Guru Bijak pernah menulis bahwa dosa kecil yang diremehkan dapat menutup hati sedikit demi sedikit, seperti debu yang menempel di cermin hingga akhirnya pantulan hilang.
Cermin itu tidak pecah. Ia hanya tertutup. Begitu pula hati. Maka jangan tunggu hati hancur untuk memperbaikinya. Bersihkan ia hari ini.
Menangislah meski dipaksa. Diamlah meski gelisah. Matikan layar lebih awal malam ini.
Hati butuh ruang untuk mendengar. Allah tidak jauh. Kitalah yang sering terlalu bising untuk mendengar dan merasakan panggilan-Nya.

