Oleh Aceng Karimullah
Umat Islam patut bersyukur kepada Allah SWT karena insyaAllah akan kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Bulan penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat yang selalu dinanti oleh kaum beriman. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan berharga ini. Banyak di antara keluarga, sahabat, dan kerabat kita yang pada Ramadan tahun lalu masih bersama, namun kini telah dipanggil oleh Allah SWT.
Karena itu, patut kita panjatkan doa agar Allah SWT memanjangkan umur, memberikan kesehatan, serta kekuatan lahir dan batin sehingga kita mampu menjalani Ramadan hingga akhir dan memetik hikmah serta keberkahannya.
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang siapa manusia yang paling beruntung. Beliau menjawab bahwa manusia yang paling beruntung adalah orang yang diberi umur panjang dan mampu mengisi umurnya dengan kebaikan demi kebaikan. Maka, sisa umur yang Allah titipkan—entah berapa lama lagi—hendaknya diisi dengan amal saleh dan ibadah yang bernilai di sisi-Nya.
Dalam menyambut Ramadan, umat Islam hendaknya memiliki perencanaan dan tekad agar dapat meraih kesuksesan dalam berpuasa dan beribadah. Selama ini, sering kita temui kriteria sukses puasa yang sederhana, sebagaimana yang dipahami anak-anak: puasa sebulan penuh tanpa batal dianggap sudah berhasil. Namun, kriteria tersebut belum cukup bagi orang dewasa.
Rasulullah SAW mengingatkan melalui sabdanya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.”
Hadis ini menjadi peringatan bahwa puasa yang dilakukan tanpa keimanan dan ketakwaan dapat kehilangan nilainya di sisi Allah SWT. Seseorang bisa saja berpuasa penuh selama sebulan, namun tidak memperoleh pahala karena tidak menjaga sikap, lisan, pendengaran, dan perbuatannya dari dosa dan maksiat.
Oleh sebab itu, kesuksesan puasa bagi orang dewasa bukan hanya terletak pada tuntasnya hari-hari puasa, tetapi pada kualitas ibadah yang disertai iman, takwa, serta kesungguhan menjaga diri dari segala hal yang dapat mengurangi atau menghapus pahala puasa.
Hal yang sama berlaku dalam pelaksanaan salat tarawih. Banyak orang merasa telah sukses karena tidak pernah absen tarawih. Padahal Rasulullah SAW juga mengingatkan:
وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang melaksanakan salat malam, namun ia tidak mendapatkan apa-apa selain begadang.”
Hadis ini mengajarkan bahwa tarawih yang tidak disertai kekhusyukan, ketertiban, dan penghayatan bisa kehilangan nilai di sisi Allah SWT. Tarawih seharusnya dilaksanakan dengan tertib, khusyuk, penuh kesungguhan, serta menjaga adab dan ketenangan di dalam masjid, termasuk mengondisikan anak-anak agar tidak mengganggu jamaah lainnya.
Allah SWT menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang melaksanakan salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala. Janji ini hendaknya menjadi motivasi untuk memperbaiki kualitas tarawih, bukan sekadar mengejar jumlah kehadiran.
Dengan demikian, keberhasilan Ramadan tidak diukur dengan standar sederhana, tetapi dengan nilai ibadah yang benar-benar diterima di sisi Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk meraih kesuksesan puasa dan tarawih yang hakiki, serta menjadikan Ramadan sebagai sarana peningkatan iman dan takwa. (Nisa)
Tayang juga di youtube LDII TV (20 Februari 2026):

