Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada hari-hari ketika dada terasa sempit. Tugas menumpuk. Harapan orang lain bertambah. Masalah datang tanpa jeda. Dan kita bertanya dalam hati: Mengapa terasa seberat ini? Allah berfirman: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Ayat ini bukan ancaman. Ia adalah penjelasan. Hidup memang berat. Berat bukan tanda Allah jauh. Berat adalah bagian dari desain kehidupan. Kadang kita lelah bukan karena kurang iman, tetapi karena kita manusia.
Rasulullah ﷺ pun pernah merasakan duka yang dalam—tahun wafatnya Khadijah dan Abu Thalib dikenal sebagai ‘Amul Huzn, tahun kesedihan. Bahkan beliau berdoa dengan suara yang begitu manusiawi: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku…” (HR. Thabrani) Nabi pun mengadu.
Berat tidak salah. Yang berbahaya adalah merasa memikulnya sendirian. Allah berjanji: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6) Bukan setelah kesulitan. Tetapi bersama. Artinya, dalam beban itu sudah ada jalan keluar yang belum kita lihat. Dalam sempit itu sudah ada kelapangan yang sedang Allah siapkan.
Umar ibn al-Khattab pernah berkata, “Jika kesulitan masuk melalui satu pintu, kemudahan akan masuk melalui dua pintu.” Namun kemudahan sering tidak terlihat karena hati kita fokus pada beratnya, bukan pada penyertaan Allah. Para Alim – Faqih berkata, “Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah pergi, esok yang belum tentu ada, dan hari ini yang sedang kau jalani.”
Beban sering membesar karena kita memikirkan semuanya sekaligus: Masalah hari ini. Kekhawatiran esok. Penyesalan kemarin. Padahal Allah hanya membebani kita dengan satu hari: hari ini. Ketika dunia terasa berat, mungkin bukan dunianya yang terlalu besar. Akan tetapi hati kita yang lupa bersandar.
Sang Guru Bijak pernah berkata bahwa di dunia ini ada “surga” yang siapa tidak memasukinya, ia tidak akan merasakan surga akhirat—yaitu ketenangan karena dekat dengan Allah.
Ketenangan bukan berarti tanpa masalah. Ketenangan berarti tahu kepada siapa kita bersandar. Jika hari ini terasa berat, jangan langsung mencari pelarian. Carilah sandaran. Sujudlah lebih lama. Diamlah lebih dalam. Kurangi keluhan, perbanyak doa.
Kadang Allah tidak mengangkat beban itu. Dia menguatkan punggungmu. Dan ketika engkau menoleh ke belakang beberapa tahun dari sekarang, mungkin engkau akan menyadari: Beban itulah yang membentukmu. Kesulitan itulah yang mendewasakanmu. Air mata itulah yang melembutkan hatimu.
Berat bukan akhir. Ia adalah proses pematangan.












