Jombang (22/2). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ecopesantren dan Sekolah Adiwiyata yang digelar di Pondok Pesantren Gadingmangu pada Kamis (12/2/2026). Tujuan bimtek tersebut untuk mengintegrasikan nilai-nilai kepedulian lingkungan ke dalam ekosistem pesantren secara menyeluruh.
“Tantangan lingkungan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Untuk itu pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai kunci utama dalam menangani krisis sampah,” jelas perwakilan DLH Jombang, Deny Ari Sandi.
Ia menjelaskan sinergi antara pemerintah dan institusi pendidikan seperti pondok pesantren seperti Ponpes Gadingmangu, akan menciptakan dampak yang signifikan bagi keberlanjutan lingkungan di Jombang.
Sementara itu, Ketua DPW Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) Jawa Timur, Ika Maftuhah Mustiqowati yang juga hadir sebagai narasumber, memaparkan sejumlah indikator utama untuk mewujudkan Ecopesantren yang ideal.
“Fokus utamanya meliputi pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan serta penguatan Integrasi Fiqih Lingkungan, yang diharapkan mampu mengubah pola pikir santri dalam memandang pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah,” jelasnya.
Ia menjelaskan selain aspek kognitif, pesantren juga diharapkan dapat menghasilkan produk maupun jasa yang ramah lingkungan. Menurutnya transformasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada teori, namun termanifestasi dalam gaya hidup sehari-hari di lingkungan pondok, “Dengan demikian, pesantren dapat bertransformasi menjadi pusat edukasi lingkungan yang mampu menjadi teladan bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Selain itu, Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, menyatakan kesiapan penuh pihaknya dalam mendukung kebijakan pemerintah. Ia menegaskan bahwa isu lingkungan telah menjadi bagian dari denyut nadi aktivitas di Gadingmangu, “Komitmen ini kami buktikan dengan berbagai aksi nyata yang telah berjalan, mulai dari sistem pemilahan hingga pengurangan volume sampah secara terstruktur,” jelasnya.
Firdaus menjelaskan bahwa Ponpes Gadingmangu telah menerapkan teknologi tepat guna dalam pengelolaan limbah, seperti budidaya maggot dan pembuatan eco-enzyme, “Tidak hanya berhenti pada pengolahan sampah, pesantren ini juga mulai merambah ke sektor energi terbarukan sebagai langkah konkret menuju kemandirian energi yang bersih. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren mampu menjadi pelopor gerakan hijau di tingkat lokal,” tutupnya.

