Oleh Wilnan Fatahillah
Dalam tubuh manusia ada penyakit ganas. Bukan virus bukan juga bakteri. Begitu ganasnya hingga membuat hidup seseorang terasa sesak. Bahkan menjadi pembunuh yang mematikan. Penyakit itu bernama Hasad, si ‘Iri Hati’ yang durjana. Hati-hati jika merasa sesak melihat tetangga membeli mobil baru. Teman naik pangkat. Sejawat pendidikannya lebih tinggi. Istrinya kolega lebih cantik. Mitra lebih mapan hidupnya. Hati-hati, itulah bibit hasad.
Iri hati diibaratkan Api dan Kayu Bakar. Api tidak butuh waktu lama untuk menghanguskan tumpukan kayu. Begitu juga dengki sekali ia menyala di hati, pahala shalat, puasa, zakat, bahkan sholat tahajud sampai lutut gemetar, ‘hangus’ dalam sekejap.
Kayu yang habis terbakar hanya menyisakan abu yang tidak berguna. Orang yang iri hati, di akhirat mungkin kaget melihat buku amalnya kosong, hanya tersisa ‘abu’. Tidak berlebihan jika iri hati dijuluki “Sang Pemakan Amal”.
Coba kita renungkan. Dahulu anak adam bernama Qobil, iri hati kepada Habil. Istri Habil lebih cantik daripada istrinya. Cinta dan paras menjadi pemantik api dengki yang mematikan. Ia merasa keadilan itu ketika mendapatkan apa yang dia mau, bukan apa yang Allah tetapkan. Ia kehilangan surga bukan karena kurang ibadah, tapi karena hatinya terbakar oleh iri hati. Gelap mata membuatnya membunuh saudaranya itu. Sebuah tragedi pembunuhan pertama di dunia. Ia memikul dosa abadi. Setiap kali pembunuhan terjadi, dosa ditimpakan kepadanya hingga hari akhir. Sedahsyat itulah penyakit iri hari, begitu mematikan hingga melenyapkan amalan. Rasulullah SAW mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Jauhilah oleh kalian hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).
Tukang becak tidak iri hati disalip Lamborghini. Ia iri hati jika yang menyalipnya kawan sesama tukang becak. Itulah cara mudah bagi syaitan menjerumuskan manusia ke neraka. Melalui lingkungan terdekatnya. Orang terdekatnya. Teman satu profesi. Kolega, mitra, bahkan saudara yang menemani hidupnya. Jika hati mulai terasa mulai panas oleh percikan iri, sadarlah. Siram dengan air penawar. Ingat rezeki sudah ada takarannya. Rezeki orang lain tidak akan mengurangi jatahmu. Rezekimu tidak akan pernah tertukar. Dunia hanyalah perhiasan, apa yang kau irikan? Harta? Jabatan? Semua itu kain kafan yang tidak punya saku. Syukuri pada apa yang Allah berikan untukmu, sekecil apapun itu. Jangan sibuk menghitung nikmat di tangan orang lain. Sementara lupa memandang nikmat yang ada di tangan sendiri. Jangan sesekali protes “Ya Allah, Engkau salah alamat! Harusnya nikmat itu untukku, bukan untuk dia!” Subhanallah…
Al-Quran mengajarkan kita untuk berdoa:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَآمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian (ghill) dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Saatnya bersihkan cermin hati. Jangan biarkan ia buram oleh debu kedengkian. Jangan senang melihat orang susah, Susah Melihat orang Senang (SMS). Jangan merasa lebih layak mendapatkan apa yang didapat orang lain. Jangan mencari celah menjatuhkan nikmat yang diterima orang lain. Karena kebahagiaan sejati bukan seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa lapang dada kita menerima ketetapan Ilahi. Pada akhirnya, hidup yang paling indah adalah ketika kita mampu tersenyum tulus melihat orang lain bahagia. Karena saat itulah, pintu-pintu keberkahan langit terbuka lebar menjemput doa-doa kita sendiri.
*) Dr. H. Wilnan Fatahillah, S.H.I, M.H, M.M, adalah anggota Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII

