Madinah (8/5). Selain memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, jemaah haji Indonesia yang berada di Madinah juga dapat mengunjungi destinasi edukatif yang menyajikan perjalanan hidup Rasulullah SAW secara interaktif, yakni Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam.
Museum yang berlokasi tak jauh dari Masjid Nabawi, tepatnya di sekitar gerbang 307, menghadirkan pengalaman belajar sejarah Islam dengan pendekatan teknologi modern, mulai dari layar interaktif, replika tiga dimensi, hingga teknologi virtual reality yang memungkinkan pengunjung seolah menyaksikan langsung kehidupan di masa Rasulullah.
Tempat ini dikenal dengan nama Pameran dan Museum Internasional Biografi Nabi dan Peradaban Islam, yang berada di bawah naungan Muslim World League.
Pemandu museum, Muhammad Adz Dzahabie menjelaskan, museum tersebut dibangun sebagai sarana edukasi untuk mengenalkan kembali sosok Rasulullah SAW kepada umat Islam maupun masyarakat dunia.
“Museum ini secara khusus membahas kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pengunjung akan diajak mengenal perjalanan hidup Rasulullah, mulai dari kehidupan pribadi beliau hingga kondisi Kota Madinah pada masa kenabian,” ujarnya.
Museum ini terbagi ke dalam dua area utama. Area pertama menampilkan biografi Rasulullah SAW, mulai dari silsilah keluarga, ciri fisik, pakaian, perlengkapan rumah tangga, hingga pola kehidupan sehari-hari Rasulullah.
Sementara area kedua membawa pengunjung menyusuri suasana Kota Madinah di masa Rasulullah, termasuk visualisasi Masjid Nabawi serta kamar Rasulullah SAW yang ditampilkan melalui teknologi virtual reality.
“Di sini ada berbagai layar interaktif dengan tema berbeda. Pengunjung juga bisa melihat gambaran Madinah di masa Rasulullah, Masjid Nabawi, hingga kamar Rasulullah secara visual dan detail,” jelas Adz Dzahabie.
Salah satu daya tarik museum ini adalah teknologi “magic box” yang menampilkan perabotan rumah tangga dan suasana kehidupan pada zaman Rasulullah. Ada pula ruang panorama yang memperlihatkan desain rumah Nabi secara detail, mulai dari bentuk atap, pintu, tempat penyimpanan air, hingga area makam yang berdampingan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Untuk memudahkan pengunjung internasional, museum menyediakan layanan pemanduan dalam berbagai bahasa, termasuk Arab, Inggris, Indonesia, Urdu, Turki, Rusia, dan Prancis.
Menurut Adz Dzahabie, museum ini merupakan hasil riset panjang yang telah dilakukan para peneliti selama hampir dua dekade, dengan referensi utama berasal dari Al-Quran, hadis, serta kajian sejarah Islam. “Tujuan utama museum ini adalah mengenalkan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi umat Islam dan seluruh manusia,” katanya.
Ia menambahkan, mempelajari sejarah hidup Rasulullah bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga menjadi bekal untuk meneladani akhlak, kepemimpinan, dan nilai-nilai kehidupan Rasulullah. “Sebagai umat muslim, kita perlu mempelajari kehidupan Rasulullah SAW agar dapat meneladani akhlak dan jejak perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

