Jakarta (9/4). Penguatan budaya dan pendidikan menjadi dua pilar utama dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks. Hal tersebut mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan kebudayaan merupakan fondasi karakter sekaligus kekuatan strategis bangsa dalam membangun masa depan. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar menjadi episentrum kebudayaan dunia melalui kekuatan soft power.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga driving force untuk membentuk masa depan bangsa. Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa yang disebut sebagai megadiversity,” ujarnya.
Ia memaparkan, Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, ribuan warisan budaya tak benda, serta ratusan cagar budaya nasional. Kekayaan ini, menurutnya, menjadi modal besar untuk membangun pengaruh global melalui budaya, sebagaimana dilakukan negara lain seperti Amerika Serikat dengan Hollywood, India dengan Bollywood, dan Korea Selatan dengan gelombang Korean Wave.
“Indonesia perlu memiliki gelombang budaya sendiri agar dikenal dunia. Ini adalah amanat konstitusi sebagaimana tercantum dalam Pasal 32 UUD 1945, bahwa negara harus memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia,” tegasnya.
Fadli Zon juga menyoroti bahwa Indonesia bukan hanya nation state, tetapi juga civilization state dengan sejarah panjang peradaban. Hal ini dibuktikan melalui berbagai temuan arkeologis, termasuk lukisan purba tertua di dunia di Sulawesi serta jejak masuknya Islam yang diperkirakan sudah terjadi sejak abad ke-7 Masehi.
Menurutnya, kekayaan budaya tersebut harus dikelola sebagai kekuatan strategis, tidak hanya dalam aspek identitas, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, “Melalui diplomasi budaya, promosi, dan kolaborasi internasional, budaya harus menjadi engine of growth. Kita bisa menjadi pusat kebudayaan dunia,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, ia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang membentuk Kementerian Kebudayaan sebagai lembaga mandiri, sebagai bentuk komitmen terhadap pelindungan dan pengembangan budaya nasional.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menyoroti pentingnya reformasi pendidikan dalam menghadapi tantangan global dan nasional. Ia menegaskan komitmen pemerintah melalui visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
“Kesenjangan pendidikan masih menjadi tantangan besar. Banyak anak Indonesia belum mendapatkan akses pendidikan yang layak, baik karena faktor ekonomi, geografis, maupun sosial,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah menjalankan program revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan, serta digitalisasi pembelajaran melalui distribusi perangkat interactive flat panel (IFP). Hingga saat ini, sebanyak 288 ribu paket telah disalurkan, dengan target seluruh sekolah di Indonesia terjangkau pada 2029.
Selain infrastruktur, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya penguatan karakter generasi muda melalui program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Program ini mencakup pembiasaan hidup disiplin, sehat, religius, serta aktif dalam belajar dan bermasyarakat.
Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap fenomena generasi muda saat ini yang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kecanduan media sosial, perundungan daring, hingga krisis kepercayaan diri dan spiritualitas, “Banyak generasi muda mengalami kecemasan, bahkan kehilangan arah. Ini menjadi tantangan serius yang harus kita jawab bersama,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa ditangani pemerintah semata, melainkan membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Penguatan karakter dan cinta tanah air harus melibatkan semua pihak, termasuk ormas keagamaan,” tambahnya.
Baik Fadli Zon maupun Abdul Mu’ti sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global. Budaya berperan sebagai perekat bangsa, sementara pendidikan menjadi fondasi dalam mencetak generasi unggul. Melalui sinergi tersebut, diharapkan Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah dinamika global, tetapi juga tampil sebagai bangsa yang berdaya saing tinggi dengan identitas budaya yang kuat serta sumber daya manusia yang berkualitas.












