Jakarta (12/1). Indonesia memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional dan Gerakan Menanam Satu Juta Pohon setiap tanggal 10 Januari. Momentum peringatan hari tersebut, DPP LDII menyoroti ancaman serius yang diakibatkan dari kerusakan lingkungan.
Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII Siham Afatta menegaskan pentingnya peran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
“Di tingkat tapak (masyarakat umum yang bersentuhan dengan persoalan lingkungan, ed), warga LDII merupakan bagian dari masyarakat Indonesia, yang secara kolektif juga harus memiliki andil terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya,” ujar Siham Afatta, Sabtu (10/1/2025).
Siham mengatakan, dampak kerusakan lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Tidak sedikit juga warga LDII yang hidup dalam komunitas masyarakat terkena musibah, yang akar masalahnya berawal dari degradasi lingkungan yang akut, “Mulai gangguan kesehatan sebab polusi udara, banjir dan longsor sebab penggundulan hutan, tercemarnya tanah dan air sebab sampah dan limbah plastik, dan lain sebagainya. Saya, anda, warga LDII, kita semua merasakannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini dunia telah memasuki era antroposen, yaitu masa ketika aktivitas manusia secara kolektif mampu mengubah kondisi alam secara drastis. DPP LDII memandang kerusakan lingkungan adalah ancaman eksistensial yang dapat menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk menghambat tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045.
Siham mengatakan, jika menilik rencana pembangunan jangka panjang negara, semangat Asta Cita untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan makmur memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi lingkungan hidup. Kerusakan alam, misalnya, dapat mengancam ketahanan pangan nasional serta menghambat pemanfaatan potensi energi terbarukan dalam jangka panjang, “Semakin rentannya Indonesia terhadap krisis iklim, seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, meningkatkan resiko bagi pembangunan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Oleh karena itu, pelestarian lingkungan hidup harus menjadi komitmen kolektif seluruh elemen bangsa. Upaya ini merupakan bentuk pengabdian yang berorientasi lintas generasi. LDII memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menikmati sumber daya alam yang lestari dan lingkungan yang sehat.
LDII memiliki komitmen kuat dalam pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai program. Di 2026 dan kedepan, yang terus berlanjut di antaranya seperti penanaman pohon, penerapan pola hidup sehat, lingkungan ibadah (pesantren, masjid, dan rumah) mandiri mengelola sampah, gerakan minimalisasi sampah dan pemanfaatan ulang sampah atau zero waste, serta pembinaan dan inisiasi baru Program Kampung Iklim (ProKlim) oleh Warga LDII.
Program-program tersebut merupakan bagian dari literasi lingkungan yang diberikan LDII kepada bangsa dan negara. Sekaligus, menjadi salah satu prioritas utama organisasi yang dijalankan oleh seluruh warga dan pengurus LDII.
Selain itu, LDII mengembangkan konsep dakwah ekologi, yakni dakwah yang menekankan aksi nyata dan implementatif untuk mencegah serta mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Sejak dicanangkan pada tahun 2007 hingga pendataan internal LDII di 2022 lalu, warga LDII telah menanam sekitar 3.5 juta pohon dengan estimasi tingkat kematian hanya 7 persen. Pendataan berjalan saat ini mengestimasi LDII telah menanam hampir 10 juta pohon.
Di 2025 lalu, penanaman kolaboratif ribuan bibit dari pemerintah terus berjalan. “Semisal di Kalimantan Timur, Tengah, dan wilayah lainnya warga (LDII) menanam di lahan bekas tambang, demikian juga di Malang, Jawa Timur. Meskipun jauh dari cukup, husnudzonbillah, geliat para champion lokal Warga LDII dan masyarakat yakin tidak akan surut.“
“Tentunya, pengabdian ini juga bagian dari wujud konkrit umat beragama dimana pelestarian alam bagian bagian tak terpisah dari ibadah dan tanggung jawab keagamaan umat Islam,” pungkas Siham.

