Kegagalan bukan akhir, tapi awal dari perjalanan juara. Eka Yulianto sang juara dunia pencak silat membuktikan, mental tangguh dan doa lebih menentukan daripada medali semata.
Sorak tepuk tangan memenuhi ruangan saat Eka Yulianto berdiri di atas panggung Generus Festival (Genfest) dalam rangkaian Munas X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) 2026. Namun, di balik sosok atlet nasional yang kini dielu-elukan, tersimpan kisah panjang yang tidak selalu gemilang—bahkan dimulai dari kegagalan.
Ia tidak langsung bicara tentang kemenangan. Justru, Eka membuka kisahnya dari mimpi yang kandas. “Saya dulu ingin jadi pemain bola,” ujarnya pelan.
Nama-nama seleksi seperti Suratin dan Persikasi pernah ia datangi dengan penuh harap. Namun hasilnya sama: gagal. Berkali-kali. Bukan karena ia merasa kurang mampu, tetapi ada hal-hal di luar kendalinya. Di titik itu, banyak orang mungkin berhenti. Tapi tidak bagi Eka.
Kegagalan itu justru menjadi pintu yang tak pernah ia rencanakan.
Lulus SMA pada 2004, dengan restu orang tua, ia meninggalkan kampung halamannya di Bekasi menuju Kediri, Jawa Timur. Di sana, ia mondok di pesantren, sekaligus mulai menekuni dunia pencak silat. Di perguruan Persinas ASAD, ia bertemu pelatih yang kelak mengubah hidupnya: Antong Samijo.
Latihan demi latihan dijalani dalam sunyi. Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan. Hanya keringat, disiplin, dan keyakinan.
Hingga akhirnya, pada 2007, titik terang itu muncul.
Juara 1 Piala Gubernur Jawa Barat. Gelar atlet terbaik. Lalu pintu-pintu lain terbuka: Pelatda Jawa Barat, Sirkuit Nasional, Kejuaraan Nasional IPSI. Dari satu podium ke podium lain, namanya mulai dikenal.
Namun, jalan menuju puncak ternyata tidak selalu menanjak.
Cedera datang. Bahkan patah tulang pernah menghampirinya. Di titik itu, keraguan sempat muncul—sesuatu yang jarang terlihat dari seorang juara. “Saya sempat ragu,” akunya.
Tapi lagi-lagi, ia memilih melangkah. Dalam kondisi yang belum pulih sepenuhnya, ia tetap bertanding. Bukan tanpa rasa sakit, bukan tanpa takut. Hanya satu yang ia pegang saat itu: doa. “Saya cuma bisa bilang, ‘Ya Allah bantu saya’,” tuturnya.
Perlahan, hasil mulai menjawab perjuangan itu. Ia menembus level internasional—kejuaraan Asia, turnamen di Belgia, hingga kompetisi dunia. Nama Indonesia dibawanya melintasi batas negara, mengharumkan perguruan silat tanah air.
Prestasi itu tidak hanya menghadirkan medali, tetapi juga membuka jalan hidup lain. Beasiswa pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, lanjut S2 di Universitas Pendidikan Indonesia, hingga akhirnya mengabdi sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Namun menariknya, di tengah semua pencapaian itu, Eka tidak menutup kisahnya dengan euforia kemenangan.
Ia justru kembali ke awal—pada proses yang sering kali tidak terlihat. “Kalau ditanya kunci, ya bukan cuma latihan. Tapi mental dan doa,” ujarnya.
Di hadapan para generasi muda yang memenuhi ruangan, ia tidak menjanjikan kesuksesan instan. Tidak juga menawarkan jalan pintas. Pesannya justru sederhana, hampir terdengar biasa. “Mulai saja dulu. Juara atau tidak, itu urusan nanti.”
Kalimat itu mungkin tidak terdengar dramatis. Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
Karena dari perjalanan seorang Eka Yulianto, publik belajar bahwa mental juara tidak lahir di podium—melainkan ditempa dari kegagalan, kesabaran, dan waktu yang panjang.
Dan pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah saat berdiri di atas podium, melainkan saat seseorang memilih untuk tetap melangkah, bahkan ketika jalannya belum terlihat. (Nisa)












