Jakarta (23/1). Mantan Kepala Satuan Operasional Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Kasatops Armuzna) Laksamana Pertama (Laksma) Harun Ar-Rasyid menekankan petugas haji, khususnya dari unsur Perlindungan Jemaah (Linjam) dan bidang lainnya yang sudah berhaji, tidak akan diarahkan ke Arafah, melainkan langsung diterjunkan ke Mina. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan materi Pendidikan dan Latihan (Diklat) PPIH Arab Saudi di Asrama Haji, Rabu (21/1/2026).
“Iya betul, rencana tahun ini agar pelayanan di Mina maksimal. Petugas, baik dari unsur Linjam maupun lainnya yang sudah berhaji, akan langsung kita drop dari pemondokan di Makkah menuju Mina. Pergerakannya berbarengan dengan saat jemaah bergerak menuju Arafah,” ujar Harun.
Menurut Harun, kebijakan ini bertujuan untuk mengefektifkan penyambutan dan pemantauan jemaah yang bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah, hingga sampai di Mina. Ia menekankan, malam pertama di Mina (10 Dzulhijjah) merupakan fase paling krusial.
“Malam 10 Dzulhijjah adalah waktu yang sangat kritis. Semua jemaah bergerak menuju titik yang sama sehingga berpotensi terjadi kepadatan luar biasa dan kelelahan. Di situlah petugas yang sudah siaga di pos-pos Mina akan memberikan bantuan maksimal, terutama bagi jemaah yang akan melakukan lontar Jamarat,” lanjutnya.
Secara khusus, lanjutnya, personel TNI/Polri yang tergabung dalam tim Linjam akan difokuskan mengisi pos-pos di rute Mina serta memperkuat Mobile Crisis Rescue (MCR) yang berada di lantai tiga area Jamarat.
“Jarak antara tenda di Mina dengan pos-pos di lantai atas itu cukup jauh. Dengan langsung menempatkan petugas yang sudah berhaji di sana, tenaga mereka tidak terkuras dan bisa lebih efektif melakukan peninjauan serta pertolongan darurat,” tegas Harun.
Terkait upaya mengurai kepadatan, Harun menyatakan bahwa operasional Armuzna tahun ini akan mendukung penuh kebijakan kementerian mengenai skema Murur (melintas di Muzdalifah) dan Tanazul.
“Skema ini sangat efektif untuk mengontrol kepadatan, baik di Muzdalifah maupun di Mina nantinya. Saat ini konsepnya sedang kita matangkan, termasuk pendataan jumlah jemaah yang akan mengikuti skema tersebut,” ungkapnya.
Mengenai pelaksanaan Diklat PPIH tahun ini yang berlangsung lebih lama, yakni 20 hari tatap muka dan dilanjutkan satu minggu secara virtual, ia mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, durasi ini sangat ideal untuk membangun sinergi dan mental 1.600 petugas yang akan diberangkatkan.
“Tugas di Armuzna itu berat. Dengan latihan yang fokus dan cukup lama, petugas akan lebih bersinergi dan siap mental. Insya Allah, dengan ikhtiar dan doa, pelaksanaan haji tahun ini akan diberikan kemudahan oleh Allah,” tutupnya optimis.













