Bandung (25/3). DPW LDII Jawa Barat melaksanakan rukyatul hilal untuk penentuan awal 1 Syawal 1447 H di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari pemantauan hilal secara nasional yang dilakukan di berbagai titik di Indonesia.
Ketua Biro Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (Lisdal) LDII Jawa Barat, Yurinaldi, menjelaskan bahwa berdasarkan data awal, posisi hilal pada saat pengamatan tergolong rendah, “Umur hilal sekitar 9 jam, elongasi kurang lebih 5,6 derajat, dan ketinggian sekitar 1,9 derajat. Kondisi ini menjadi tantangan dalam proses pengamatan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan ketinggian yang rendah, peluang hilal untuk terlihat sangat kecil. Meski demikian, upaya pengamatan tetap dilakukan secara maksimal oleh tim rukyat, “Dalam kondisi seperti ini, jika hilal dapat terlihat tentu menjadi hal yang luar biasa bagi para perukyat,” tambahnya.
Namun, pelaksanaan pengamatan di lokasi tersebut terkendala kondisi cuaca. Sejak sore hari, langit di kawasan Lembang tertutup awan tebal yang menghambat visibilitas, “Cuaca mendung menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil pengamatan. Hingga akhir waktu rukyat, hilal tidak berhasil terlihat,” jelasnya.
Secara nasional, Kementerian Agama melaksanakan rukyatul hilal di 172 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan oleh MABIMS.
Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dengan demikian, umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri secara serentak pada tanggal tersebut.

