Sumbawa Barat (18/2). DPD LDII Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berpartisipasi dalam kegiatan Aksi Bersih Masjid dan Pantai Sagena di Poto Tano, KSB, Nusa Tenggara Barat (NTB). DPD LDII KSB mendukung penuh gerakan kepedulian lingkungan tersebut.
Ketua DPD LDII KSB, Bambang Supriadi, mengapresiasi inisiatif Pengurus Cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Poto Tano dalam menggerakkan aksi kebersihan. “Kegiatan seperti ini sangat relevan di tengah tantangan krisis sampah yang terjadi secara nasional, termasuk di Kabupaten Sumbawa Barat,” ujar Bambang, pada Jumat (13/2/2026).
Ia menegaskan, gerakan kebersihan sejalan dengan komitmen nasional dalam penanganan sampah. Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan komitmen tegas dalam upaya penanganan persoalan sampah sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan, “Karena itu, kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan,” tandasnya. Aksi bersih pun tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, aksi bersih ini harus menjadi stimulan dan kampanye perubahan perilaku. Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. “Dengan tidak membakar sampah, tidak membuang sampah sembarangan, serta menerapkan pengelolaan sampah yang benar,” ujarnya.
Menjelang Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari, Bambang berharap kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor. Semua pihak didorong untuk bersinergi mewujudkan Kabupaten Sumbawa Barat yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
“DPD LDII Kabupaten Sumbawa Barat menyatakan kesiapan untuk terus berkolaborasi dalam program-program kepedulian lingkungan ke depan, sejalan dengan komitmen kontribusi organisasi dalam pembangunan karakter dan kepedulian sosial,” tutup Bambang.
Aksi Bersih Masjid dan Pantai Sagena digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan sekaligus sebagai bentuk kepedulian sosial dan penguatan nilai kebersamaan. Aksi bersih tersebut melibatkan unsur pemerintah tingkat kecamatan serta berbagai elemen masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan perubahan perilaku kolektif dan sistem pengelolaan yang konsisten. Momentum ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mendorong kebijakan lebih tegas, edukasi yang masif, serta partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan Indonesia Bersih Sampah 2029.












