Manokwari (4/3). Ketua DPW LDII Papua Barat, Suroto dan Wakil Ketua DPW LDII Papua Barat, Jati Winasis mendapat kesempatan mengisi dialog interaktif. Dialog disiarkan melalui PRO 1 FM 94,3 MHz dan Channnel YouTube RRINETManokwari pada Rabu (18/2).
Dialog interaktif juga menghadirkan Kasi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Manokwari, Salem Mandara dan Ketua MUI Kabupaten Manokwari, Baharuddin Sabollah dengan presenter Selviana T. Langoday. Keempat narasumber tersebut mendapat kesempatan untuk menjelaskan keutamaan ibadah di bulan suci Ramadan.
“Bulan Ramadan berbeda dengan bulan-bulan lainnya, ini menjadi kesemangatan jamaah untuk bisa memaksimalkan amal ibadahnya. Selain itu, puasa Ramadan wajib hukumnya bagi umat Islam sebagaimana diwajibkan pada umat-umat terdahulu,” ujar Suroto.
Yang diwajibkan puasa tersebut adalah orang Islam yang berakal, sudah akil baligh, sehat dan bermukim (tidak dalam bepergian). “Jika sakit dan atau dalam bepergian maka dapat diganti pada hari selain bulan Ramadan,” tambah Suroto. Ia menandaskan, dalam upaya meningkatkan keimanan bulan suci Ramadan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan ahli famili.
Jati Winasis menambahkan, dalam bulan Ramadan yang penuh lipatan pahala ini supaya meningkatkan ibadah dengan meraih lima sukses. “Yaitu sukses melaksanakan puasa, sukses mengerjakan salat tarawih, sukses tadarus Al Quran, sukses mengejar malam lailatul qodar dan sukses membayar zakaf fitrah juga zakat maal,” jelasnya.
Jati menambahkan, pada Selasa (17/2) LDII telah melakukan pengamatan rukyatul hilal dengan hasil hilal tidak terlihat. Hal ini menjadi salah satu kencala cuaca di Papua Barat yang tidak menentu.
“Adanya gerak semu matahari yang terbenam di sebelah selatan bumi maka matahari tidak terbenam di ufuk/cakrawala. Untuk itu LDII memberi masukan kepada Kanwil Kemenag untuk lebih fokus melakukan pengamatan di Kabupaten Fakfak atau Kaimana, karena dua kabupaten tersebut terletak di sebelah selatan wilayah Papua Barat,” ujarnya.
Dalam dialog interaktif ini, keempat narasumber sepakat bahwa apabila terdapat perbedaan dalam penentuan awal Ramadan disikapi dengan bijaksana dan saling menghormati. Oleh karena metode yang dipakai berbeda-beda namun semua ada dasarnya.













