Jakarta (8/4). Menghadapi dampak perubahan geopolitik global, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, TB Ace Hasan Syadzily mengingatkan, ketahanan nasional adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Hal itu ia ungkapkan saat Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, pada Rabu (8/4/2026).
“Termasuk organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Sangat strategis dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, memperkuat kohesi sosial, serta membangun karakter bangsa yang tangguh dan berintegritas,” ujar Ace Hasan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk mewujudkan ketahanan nasional, bangsa Indonesia harus memiliki kedaulatan ideologi, “Kedaulatan ekonomi, kedaulatan digital dan ketangguhan kepemimpinan,” tutur Ace.
Untuk mengimplementasikan gagasan tersebut, ia menilai forum Munas X, penting untuk menegaskan peran LDII dalam membangun bangsa. “Serta memberikan kontribusi bagi pembangunan spiritual dan material, menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Ace berharap, LDII menjadi organisasi keagamaan yang berpartisipasi aktif membantu ketahanan nasional. “Mendukung kedaulatan bangsa, sebagai kemampuan suatu negara untuk bertahan dengan segala potensi yang dimiliki. Bangsa yang mampu mempertahankan ruang hidupnya, mulai dari daratan, lautan, udara, hingga ruang siber,” jelasnya.
Di sisi lain, Ace juga mengingatkan adanya tantangan perubahan iklim. “Akhir tahun lalu, bangsa Indonesia menyaksikan, bagaimana badai ekstrim terjadi di Sumatera. Tantangan lainnya adalah potensi terjadinya kemarau panjang, akibat La Nina. Kalau tidak diantisipasi, akan berhadapan pada tantangan kebutuhan pangan masyarakat,” katanya.
Tantangan lainnya, ia mengingatkan, disrupsi teknologi, bisa menjadi sebuah peluang dan ancaman. “Hal positifnya pada hari ini, saya berdiri di sini, bisa disaksikan warga LDII di seluruh Indonesia. Kemudian, kita juga bisa bertransaksi ekonomi, hanya dengan segenggam gawai,” imbuhnya.
Namun sisi negatifnya, Ace mengungkapkan, kemajuan teknologi yang tanpa filter, dapat mengganggu kesehatan mental. “Terutama di kalangan anak muda. Ketergantungan pada gadget luar biasa. Konsumsi digital yang tanpa filter, membuat mindset seseorang mudah sekali berubah,” tuturnya.
Bahkan, ia prihatin, saat ini generasi muda cenderung bergantung pada artificial intelligence (AI). “Menggunakan ChatGPT dan DeepSeek untuk mengerjakan tugas kuliah, bisa selesai dalam waktu yang singkat. Namun dampaknya, generasi muda cenderung berpikir instan, yang membuat tidak memiliki kemampuan analitis dan kritis. Hal terburuknya, secara psikologis, saat menghadapi berbagai persoalan, menjadi tidak tangguh,” kata Ace.
Menghadapi berbagai persoalan tersebut, Ace mengajak LDII untuk terus memperkuat sumberdaya manusia yang berkarakter kebangsaan. “Ketahanan nasional harus terus diperkuat. Suatu bangsa, harus memiliki keuletan, ketangguhan, dan kemampuan untuk mengembangkan berbagai kekuatan dan potensi yang dimiliki, untuk menghadapi ancaman, gangguan dan tantangan. Baik dari dalam, maupun dari luar negeri,” tegasnya.
Ace menegaskan, bangsa yang hebat, bukan bangsa yang tidak pernah menghadapi masalah. “Bukan yang tidak pernah goyah. Tetapi bangsa yang tau, bagaimana cara beradaptasi dan bertransformasi ketika menghadapi sebuah guncangan,” pungkasnya.
Untuk itu, menurut Ace, saat ini, adalah momentum yang tepat untuk memperkuat ketahanan nasional. “Dalam arus globalisasi yang penuh disrupsi, Indonesia perlu sumberdaya manusia yang tangguh dan berkarakter negarawan. Berlandaskan nilai moral dan spiritual, untuk memperkuat posisi bangsa di kancah internasional,” tutup Ace.










