Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Masjid adalah cahaya. Di sanalah dahi bersujud tunduk, air mata jatuh tanpa keluh, dan doa-doa berbaris menuju langit. Namun rumah adalah taman. Di sanalah iman diuji dalam kesunyian, akhlak dipraktikkan dalam keseharian, dan zikir bergaung tanpa tepuk tangan. Jika masjid adalah tempat kita mengisi pelita, maka rumah adalah tempat kita menyalakan cahayanya.
Islam tidak mengajarkan bahwa ibadah hanya milik ruang publik. Justru ia menuntun agar rumah-rumah menjadi hidup dengan sujud dan bacaan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda:
“ Jadikanlah sebagian shalat kalian di rumah, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kuburan adalah tempat yang sunyi dari amal. Maka rumah yang tak pernah disentuh rakaat, tak pernah dibasahi doa, tak pernah dihiasi tilawah—ia perlahan menjadi ruang yang kering dari cahaya. Bukan dindingnya yang retak, melainkan suasana batinnya yang redup.
Allah ﷻ memuji rumah-rumah yang di dalamnya nama-Nya disebut:
“ Di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya; di situ bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. An-Nur: 36)
Ayat ini memang berbicara tentang masjid, tetapi para mufassir juga mengisyaratkan makna lebih luas: bahwa setiap rumah yang di dalamnya ditegakkan zikir dan ketaatan, ia pun menjadi mulia. Imam Al-Qurthubi menekankan bahwa keberkahan suatu tempat bergantung pada apa yang dihidupkan di dalamnya—jika zikir dan ilmu, maka ia menjadi taman; jika lalai dan maksiat, ia menjadi beban.
Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan. Shalat wajib beliau lakukan di masjid bersama para sahabat, tetapi shalat-shalat sunnah sering beliau kerjakan di rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat-shalat sunnah yang beliau jaga di rumahnya. Ini bukan tanpa hikmah. Di rumah, ibadah lebih tersembunyi dari riya’, lebih dekat pada keikhlasan, dan lebih mendidik keluarga untuk mencintai shalat.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa anjuran shalat sunnah di rumah bertujuan agar rumah tidak kosong dari ibadah, sekaligus agar keluarga melihat dan meneladani. Sebab anak-anak tidak belajar shalat dari ceramah, tetapi dari pemandangan: ayah yang bangun sebelum fajar, ibu yang melafalkan doa di sela pekerjaan, suara Al-Qur’an yang menjadi musik pagi mereka.
Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, jadikanlah rumahmu sebagai tempat salatmu; jangan engkau jadikan ia seperti kubur.” Nasihat ini lahir dari kesadaran bahwa iman bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga atmosfer keteduhan yang dibangun bersama.
Betapa banyak rumah megah yang sepi dari zikir, dan betapa banyak rumah sederhana yang langitnya lapang oleh doa. Keindahan rumah bukan pada marmer dan lampu gantungnya, tetapi pada rakaat yang ditegakkan di sudut malam. Dinding tak membutuhkan pujian, tetapi jiwa-jiwa di dalamnya membutuhkan cahaya.
Allah ﷻ juga berfirman:
“ Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)
Perintah ini menunjukkan bahwa ibadah di rumah adalah tanggung jawab kepemimpinan. Seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi penyalur cahaya. Seorang ibu bukan hanya penjaga dapur, tetapi penjaga ruhani. Rumah yang dihiasi ibadah akan melahirkan generasi yang akrab dengan sujud sebelum akrab dengan dunia.
Imam Malik rahimahullah dikenal sangat menjaga wibawa rumahnya sebagai tempat ilmu dan ibadah. Ia tidak berbicara hadits sembarangan di pasar, tetapi memuliakannya di ruang yang terjaga. Ini mengajarkan bahwa rumah bisa menjadi madrasah kecil—tempat ilmu dan ibadah bertemu.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“ Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang tidak disebut nama Allah adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim)
Hidup dan mati—itulah perbedaannya. Rumah yang hidup bukan yang ramai suara televisi, tetapi yang sesekali hening oleh doa. Rumah yang hidup bukan yang penuh perabot, tetapi yang penuh keberkahan.
Maka jangan habiskan seluruh ibadah di masjid. Masjid memang pusat cahaya, tetapi rumah adalah ladang penanaman. Apa gunanya hati khusyuk di saf pertama, jika di rumah kita kasar dan lalai? Apa artinya panjangnya doa di masjid, jika anak-anak tak pernah melihat kita bersujud di ruang keluarga?
Sisakan rakaat untuk rumah. Sisakan tilawah untuk sudut kamar. Sisakan doa untuk ruang makan. Biarkan rumah kita mengenal suara tasbih, sebagaimana ia mengenal suara tawa.
Karena kelak, ketika kita telah tiada, mungkin bukan karpet masjid yang paling mengingat kita—tetapi dinding rumah yang pernah menyaksikan sujud kita dalam sunyi. Dan di sanalah, iman menemukan keindahannya: bukan hanya di hadapan jamaah, tetapi di hadapan keluarga; bukan hanya di ruang umum, tetapi di ruang paling pribadi.
Semoga rumah-rumah kita bukan sekadar tempat beristirahat dari dunia, tetapi tempat kembali kepada Allah.












