Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Masjid Rumah

2026/02/16
in Nasehat
0
Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Ilustrasi: AI-Generated, LINES.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

Masjid adalah cahaya. Di sanalah dahi bersujud tunduk, air mata jatuh tanpa keluh, dan doa-doa berbaris menuju langit. Namun rumah adalah taman. Di sanalah iman diuji dalam kesunyian, akhlak dipraktikkan dalam keseharian, dan zikir bergaung tanpa tepuk tangan. Jika masjid adalah tempat kita mengisi pelita, maka rumah adalah tempat kita menyalakan cahayanya.

Islam tidak mengajarkan bahwa ibadah hanya milik ruang publik. Justru ia menuntun agar rumah-rumah menjadi hidup dengan sujud dan bacaan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ bersabda:

“ Jadikanlah sebagian shalat kalian di rumah, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kuburan adalah tempat yang sunyi dari amal. Maka rumah yang tak pernah disentuh rakaat, tak pernah dibasahi doa, tak pernah dihiasi tilawah—ia perlahan menjadi ruang yang kering dari cahaya. Bukan dindingnya yang retak, melainkan suasana batinnya yang redup.

Allah ﷻ memuji rumah-rumah yang di dalamnya nama-Nya disebut:

“ Di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya; di situ bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. An-Nur: 36)

Ayat ini memang berbicara tentang masjid, tetapi para mufassir juga mengisyaratkan makna lebih luas: bahwa setiap rumah yang di dalamnya ditegakkan zikir dan ketaatan, ia pun menjadi mulia. Imam Al-Qurthubi menekankan bahwa keberkahan suatu tempat bergantung pada apa yang dihidupkan di dalamnya—jika zikir dan ilmu, maka ia menjadi taman; jika lalai dan maksiat, ia menjadi beban.

Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan. Shalat wajib beliau lakukan di masjid bersama para sahabat, tetapi shalat-shalat sunnah sering beliau kerjakan di rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat-shalat sunnah yang beliau jaga di rumahnya. Ini bukan tanpa hikmah. Di rumah, ibadah lebih tersembunyi dari riya’, lebih dekat pada keikhlasan, dan lebih mendidik keluarga untuk mencintai shalat.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa anjuran shalat sunnah di rumah bertujuan agar rumah tidak kosong dari ibadah, sekaligus agar keluarga melihat dan meneladani. Sebab anak-anak tidak belajar shalat dari ceramah, tetapi dari pemandangan: ayah yang bangun sebelum fajar, ibu yang melafalkan doa di sela pekerjaan, suara Al-Qur’an yang menjadi musik pagi mereka.

Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, jadikanlah rumahmu sebagai tempat salatmu; jangan engkau jadikan ia seperti kubur.” Nasihat ini lahir dari kesadaran bahwa iman bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga atmosfer keteduhan yang dibangun bersama.

Betapa banyak rumah megah yang sepi dari zikir, dan betapa banyak rumah sederhana yang langitnya lapang oleh doa. Keindahan rumah bukan pada marmer dan lampu gantungnya, tetapi pada rakaat yang ditegakkan di sudut malam. Dinding tak membutuhkan pujian, tetapi jiwa-jiwa di dalamnya membutuhkan cahaya.

Allah ﷻ juga berfirman:

“ Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)

Perintah ini menunjukkan bahwa ibadah di rumah adalah tanggung jawab kepemimpinan. Seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi penyalur cahaya. Seorang ibu bukan hanya penjaga dapur, tetapi penjaga ruhani. Rumah yang dihiasi ibadah akan melahirkan generasi yang akrab dengan sujud sebelum akrab dengan dunia.

Imam Malik rahimahullah dikenal sangat menjaga wibawa rumahnya sebagai tempat ilmu dan ibadah. Ia tidak berbicara hadits sembarangan di pasar, tetapi memuliakannya di ruang yang terjaga. Ini mengajarkan bahwa rumah bisa menjadi madrasah kecil—tempat ilmu dan ibadah bertemu.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“ Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang tidak disebut nama Allah adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim)

Hidup dan mati—itulah perbedaannya. Rumah yang hidup bukan yang ramai suara televisi, tetapi yang sesekali hening oleh doa. Rumah yang hidup bukan yang penuh perabot, tetapi yang penuh keberkahan.

Maka jangan habiskan seluruh ibadah di masjid. Masjid memang pusat cahaya, tetapi rumah adalah ladang penanaman. Apa gunanya hati khusyuk di saf pertama, jika di rumah kita kasar dan lalai? Apa artinya panjangnya doa di masjid, jika anak-anak tak pernah melihat kita bersujud di ruang keluarga?

Sisakan rakaat untuk rumah. Sisakan tilawah untuk sudut kamar. Sisakan doa untuk ruang makan. Biarkan rumah kita mengenal suara tasbih, sebagaimana ia mengenal suara tawa.

Karena kelak, ketika kita telah tiada, mungkin bukan karpet masjid yang paling mengingat kita—tetapi dinding rumah yang pernah menyaksikan sujud kita dalam sunyi. Dan di sanalah, iman menemukan keindahannya: bukan hanya di hadapan jamaah, tetapi di hadapan keluarga; bukan hanya di ruang umum, tetapi di ruang paling pribadi.

Semoga rumah-rumah kita bukan sekadar tempat beristirahat dari dunia, tetapi tempat kembali kepada Allah.

Tags: CahayamasjidnasehatRumah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Sudarmanto on Cegah Penyalahgunaan Obat, LDII Soroti Peran Apoteker
  • amel on Catatan Ramadhan (14): Doa Abu Dzarr
  • sahrudin udin on Ketua Umum LDII: Pers Harus Bebas dari Kepentingan Politik dan Framing Kekuasaan
  • Sudarmanto on Ketua Umum LDII: Pers Harus Bebas dari Kepentingan Politik dan Framing Kekuasaan
  • Nanang Naswito on Pemuda LDII Kota Malang Berbagi 2.400 Botol Air Mineral dalam Harlah Satu Abad NU
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ponpes Al Ubaidah Kertosono Kunjungi Bupati Nganjuk Bahas Program Ramadan dan Lingkungan

Ponpes Al Ubaidah Kertosono Kunjungi Bupati Nganjuk Bahas Program Ramadan dan Lingkungan

February 10, 2026
Ikhlas Hina

Ikhlas Hina

February 9, 2026
Riset Peran Dakwah dan Nasionalisme, LDII dan Cendekiawan NU Kunjungi STAIN Majene

Riset Peran Dakwah dan Nasionalisme, LDII dan Cendekiawan NU Kunjungi STAIN Majene

February 8, 2026
pengajian ldii wanita

Pengajian Wanita LDII Padang Angkat Tema Siklus Haid Normal

February 10, 2026
Ketua Umum LDII: Pers Harus Bebas dari Kepentingan Politik dan Framing Kekuasaan

Ketua Umum LDII: Pers Harus Bebas dari Kepentingan Politik dan Framing Kekuasaan

3
Cegah Penyalahgunaan Obat, LDII Soroti Peran Apoteker

Cegah Penyalahgunaan Obat, LDII Soroti Peran Apoteker

1
Ponpes Al Ubaidah Kertosono Kunjungi Bupati Nganjuk Bahas Program Ramadan dan Lingkungan

Ponpes Al Ubaidah Kertosono Kunjungi Bupati Nganjuk Bahas Program Ramadan dan Lingkungan

1
Pemuda LDII Kota Malang Berbagi 2.400 Botol Air Mineral dalam Harlah Satu Abad NU

Pemuda LDII Kota Malang Berbagi 2.400 Botol Air Mineral dalam Harlah Satu Abad NU

1
Masjid Rumah

Masjid Rumah

February 16, 2026
LDII Magetan Bekali Santri Tangkal Radikalisme Digital

LDII Magetan Bekali Santri Tangkal Radikalisme Digital

February 16, 2026
Sinergi LDII Kalbar dan Polsek Mempawah Timur Wujudkan Pekarangan Produktif

Sinergi LDII Kalbar dan Polsek Mempawah Timur Wujudkan Pekarangan Produktif

February 16, 2026
Penentuan Awal Bulan Hijriyah

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

February 16, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Masjid Rumah February 16, 2026
  • LDII Magetan Bekali Santri Tangkal Radikalisme Digital February 16, 2026
  • Sinergi LDII Kalbar dan Polsek Mempawah Timur Wujudkan Pekarangan Produktif February 16, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.