Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Mati, Pencerahan yang Indah

2020/10/12
in Nasehat
2
Ilustrasi: Freepik.com

Ilustrasi: Freepik.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Oleh: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati lingkungan – Warga LDII Kabupaten Tangerang

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ »

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau ﷺ bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau ﷺ bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Menambah dalam dan luas lagi cakrawala pemahaman sabda indah di atas, rasanya kita perlu mengenal lebih dekat Bhutan. Apa hubungan Bhutan dengan hadits di atas? Begini ceritanya, Bhutan adalah negeri kecil di Himalaya yang terkenal karena kebijakan Kebahagiaan Nasionalnya yang inovatif. Kalau negara lain pada umumnya mengukur kemajuan ekonominya dengan GDP (Gross Domestic Product), di Bhutan dengan GNH (Gross National Happiness). Di kerajaan inilah, satu-satunya tempat di muka bumi di mana kebahagiaan berkuasa dan kesedihan dilarang masuk.

Satu hal yang membedakan dari kebanyakan manusia lainnya ialah, bahwa di Bhutan para penduduknya membiasakan mengingat mati dalam sehari minimal 5 kali. Ini adalah budaya, bukan ritual agama atau sembahyang. Sebab sebagian besar penduduknya beragama Budha. Linda Leaming, penulis buku: A Field Guide to Happiness: What I Learned in Bhutan About Living, Loving and Waking Up (Panduan Lapangan untuk Mencapai Kebahagiaan: Apa yang Saya Pelajari di Bhutan tentang Kehidupan, Cinta dan Bangun), mengatakan; “Saya menyadari memikirkan tentang kematian tidak membuat saya depresi. Hal ini malah membuat saya dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dan melihat hal-hal yang biasanya tidak saya lihat.” Di bagian lain ia tuliskan; “Di negara-negara Barat, jika kita sedih, kita ingin mengobatinya,” katanya. “Kita takut akan rasa sedih. Jika sedih, harus diatasi, diobati. Di Bhutan, orang lebih menerima bahwa itu bagian dari hidup.”

Dengan mengingat mati, ujungnya adalah sikap penerimaan (ikhlas) terhadap kehidupan ini bahwa tidak saja berisi hal-hal yang menyenangkan, kehidupan juga berisi hal-hal yang menyedihkan. Dan akhirnya sebuah kematian. Dan itu bisa terjadi kapan pun dimanapun. Karena tidak bisa dihindari, maka kewajiban kita untuk bisa menerimanya. Dalam bahasa sederhana Rasulullah ﷺ mengajarkan dengan sabdanya;

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

Dalam studi tahun 2007, psikolog dari Universitas Kentucky, Nathan DeWall dan Roy Baumesiter, membagi beberapa puluh murid mereka ke dalam dua kelompok. Satu kelompok disuruh memikirkan bagaimana mengalami rasa sakit ketika pergi ke dokter gigi, sementara kelompok lainnya diinstruksikan untuk berkontemplasi mengenai kematian mereka. Kedua kelompok kemudian diminta melengkapi kata-kata, seperti “jo”. Kelompok kedua – yang sudah memikirkan tentang kematian – lebih mungkin membuat kata yang positif, misalnya “jo” menjadi “joy” (bahagia).

Hal ini membuat kedua peneliti menyimpulkan bahwa “kematian merupakan fakta yang mengancam secara psikologis, tetapi ketika orang merenungkannya, kelihatannya sistem otomatis mulai mencari pikiran-pikiran yang membahagiakan”. Simaklah kata-kata indah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Aku tidaklah pernah melihat suatu yang yakin kecuali keyakinan akan kematian. Namun sangat disayangkan, sedikit yang mau mempersiapkan diri menghadapinya.” (Tafsir Al Qurthubi)

Serangkaian fakta di atas seperti mau memberi penjelasan yang indah ajaran Rasulullah ﷺ untuk banyak mengingat mati. Bukan kemalasan dan keputusasaan yang akan diperoleh, justru mengingat mati membuat kehidupan semakin bergairah, semakin cerdas dan berbuah kebahagiaan. Untuk itu, setiap kali berangkat ke tempat tidur di malam hari, ukurlah sebuah hari tidak saja dari banyaknya buah yang dipetik, tapi juga dari segi banyaknya benih yang ditanam. Maksudnya, uang, barang, pujian, kesenangan mirip dengan buah yang dipetik.

Namun menatap orang dengan mata yang penuh penerimaan, ketulusan untuk mendengarkan, ikhlas memaafkan adalah sebagian benih yang ditanam di hari itu. Persoalan waktu, ia akan berbuah di masa depan. Bangunlah di pagi hari dengan hati yang penuh rasa syukur, lakukan sesuatu yang indah untuk orang-orang yang Anda kasihi. Selebihnya, dekap semuanya dengan senyuman yang penuh keikhlasan.

Comments 2

  1. Fauzi Achmadi says:
    5 years ago

    Ajkh. Perkeling yg bermanfaat. Teruslah berkarya.

    Reply
  2. Ana dwi rofiq says:
    5 years ago

    Mugi allah paring sehat buat semua tim,,terus berkarya niat karena allah,,barokalloh

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Sudibyo on Kapolres Silaturahim dengan LDII untuk Tingkatkan Kamtibmas Waykanan
  • Fauzi Achmadi on Renungan Hari 7
  • Muhammad Iqbal on Renungan Hari 6
  • Ipa on Ponpes Wali Barokah Gelar Rakor Matangkan Program Santunan Duafa
  • Dedi Century Kenya on Renungan Hari 6
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketum MUI Pusat Terima Kunjungan Silaturahim Ponpes Wali Barokah dan LDII Kota Kediri

Ketum MUI Pusat Terima Kunjungan Silaturahim Ponpes Wali Barokah dan LDII Kota Kediri

February 23, 2026
LDII Kabupaten Bekasi Laksanakan Rukyatul Hilal di Pantai Bungin

LDII Kabupaten Bekasi Laksanakan Rukyatul Hilal di Pantai Bungin

February 21, 2026
ldii ponde

Perkuat Kemandirian Generasi Muda, LDII Pondok Gede Gelar Pelatihan Sablon

February 20, 2026
Sampah Tak Seharusnya Jadi Jejak Acara

Sampah Tak Seharusnya Jadi Jejak Acara

February 17, 2026
Renungan Hari 1

Renungan Hari 1

8
Mensyukuri Nikmat Allah dengan Hati, Lisan, dan Perbuatan

Mensyukuri Nikmat Allah dengan Hati, Lisan, dan Perbuatan

7
Renungan Hari 3

Renungan Hari 3

3
ldii ponde

Perkuat Kemandirian Generasi Muda, LDII Pondok Gede Gelar Pelatihan Sablon

3
Renungan Hari 7

Renungan Hari 7

February 25, 2026
Peran Sentral Orang Tua, Jadi Poin Utama Terbentuknya Generus ‘Qurrata A’yun

Peran Sentral Orang Tua, Jadi Poin Utama Terbentuknya Generus ‘Qurrata A’yun

February 24, 2026
LDII Temon Siapkan Pembangunan Kamar Tamu Antisipasi Ramainya Bandara YIA

LDII Temon Siapkan Pembangunan Kamar Tamu Antisipasi Ramainya Bandara YIA

February 24, 2026
Warga LDII Dalangan Berpartisipasi dengan Warga dalam Pembuatan Jalan

Warga LDII Dalangan Berpartisipasi dengan Warga dalam Pembuatan Jalan

February 24, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Renungan Hari 7 February 25, 2026
  • Peran Sentral Orang Tua, Jadi Poin Utama Terbentuknya Generus ‘Qurrata A’yun February 24, 2026
  • LDII Temon Siapkan Pembangunan Kamar Tamu Antisipasi Ramainya Bandara YIA February 24, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Rapimnas LDII 2026
    • Ramadan 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.