Oleh Thonang Effendi*
Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025–2045 telah ditetapkan sebagai arah transformasi pendidikan nasional. Dokumen ini tidak sekadar memetakan tujuan jangka panjang, tetapi menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus bertumpu pada pembentukan manusia seutuhnya—cerdas, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.
Dalam konteks tersebut, pendidikan tidak dapat dipahami sebatas proses transfer pengetahuan. Ia merupakan ruang pembentukan nilai, watak, dan kesadaran kebangsaan. Tantangan global yang kian kompleks—mulai dari pangan, energi, air, hingga percepatan digitalisasi—menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas dan tangguh secara karakter.
Refleksi ini mengingatkan pada sebuah peristiwa di pengujung 2018. Dalam sebuah konferensi pers di Kantor Pusat DPP LDII, dipetakan sejumlah isu strategis yang dipandang akan menentukan perjalanan Indonesia ke depan: pangan, energi, air, era digitalisasi kehidupan, implikasi kondisi geografis, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta budaya berkelanjutan. Paparan tersebut bukan sekadar catatan akhir tahun, melainkan peringatan dini bahwa Indonesia sedang memasuki fase perubahan besar.
Tujuh tahun berselang, isu-isu tersebut justru semakin relevan. Perubahan global bergerak cepat, batas geografis kian cair, dan kompetisi antarbangsa berlangsung semakin ketat. Indonesia tidak lagi berada di pinggir arus perubahan, melainkan di dalam pusaran yang menuntut ketangguhan dan kecerdasan kolektif. Di titik inilah kualitas pendidikan dan karakter sumber daya manusia menjadi faktor penentu.
Menatap tahun 2026, pendidikan Indonesia berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, dunia menuntut generasi muda yang menguasai literasi digital, berpikir kritis, dan mampu berkompetisi secara global. Di sisi lain, bangsa ini ditantang untuk memastikan bahwa kemajuan tersebut tidak menggerus nilai, etika, dan karakter.
PJPI 2025–2045 memberi arah yang jelas, diperkuat oleh berbagai kebijakan seperti penguatan pembelajaran deep learning, pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta optimalisasi peran guru bimbingan dan konseling melalui 7 Jurus BK. Kebijakan-kebijakan ini menandai keseriusan negara dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Namun, pendidikan yang kuat tidak dapat berdiri hanya di atas regulasi. Ia membutuhkan ekosistem nilai yang hidup dan dibiasakan. Pendidikan karakter menjadi fondasi yang memastikan kemajuan tidak kehilangan arah. Tanpa karakter, keunggulan kompetensi berisiko rapuh di tengah godaan pragmatisme dan instanisme.
Sejak Munas 2021, LDII menegaskan delapan bidang pengabdian untuk bangsa: kebangsaan, dakwah, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan, teknologi, serta energi baru terbarukan. Delapan bidang ini merupakan ikhtiar kolektif membangun sumber daya manusia profesional religius—manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Di antara delapan bidang tersebut, pendidikan menjadi poros utama. Melalui pendidikan, nilai kebangsaan ditanamkan, etos kerja dibangun, dan karakter dibentuk. LDII mengembangkan pembinaan karakter berbasis 29 karakter luhur sebagai upaya membentuk pribadi yang berakhlakul karimah, alim-fakih, mandiri, jujur, amanah, mujhid-muzhid, rukun, kompak, dan mampu bekerja sama dengan baik dalam keberagaman.
Dalam praktiknya, perbaikan berkelanjutan membutuhkan contoh konkret. Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII masa bakti 2021–2026 berupaya menyelaraskan nilai dan kebijakan melalui penguatan satuan pendidikan. Salah satu langkah yang tengah diupayakan adalah kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya dalam penerapan 29 karakter luhur untuk mewujudkan Sekolah Aman, Nyaman, dan Menggembirakan (SNAM).
Upaya tersebut disinergikan dengan penguatan pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pengimbasan pembelajaran deep learning, serta pelibatan guru bimbingan dan konseling warga LDII sebagai fasilitator penguatan karakter. Pendekatan ini menempatkan sekolah bukan sekadar ruang belajar, melainkan ekosistem tumbuh yang aman secara psikologis dan bermakna secara nilai.
Langkah-langkah tersebut mungkin tampak sederhana, namun di situlah makna perbaikan berkelanjutan menemukan bentuknya. Pendidikan karakter tidak dibangun melalui lompatan besar, melainkan melalui konsistensi langkah kecil yang dilakukan bersama—oleh negara, masyarakat, dan keluarga.
Menatap Indonesia 2026 dan seterusnya, harapan itu bertumpu pada kesediaan semua pihak untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai. Dari ruang-ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan menggembirakan itulah, masa depan Indonesia perlahan dibentuk.
*) Thonang Effendi adalah Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII










