Oleh Ust. Andika Faza
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berulang kali menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya, dari berbagai sisi kehidupan. Ust. Muhammad Andika Faza menjelaskan dalam Oase Hikmah LDII TV, bahwa nikmat itu bisa hadir baik dari faktor internal maupun eksternal.
Dari sisi internal, Allah masih memberikan kesehatan dan anggota tubuh yang berfungsi dengan baik. Dari sisi eksternal, kita diberi rasa aman, kesempatan untuk bekerja, menuntut ilmu, berdagang, dan menjalani aktivitas kehidupan dengan tenang.
Allah berfirman nikmat-Nya tidak akan mampu dihitung oleh manusia. Sebagaimana firman-Nya:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Lalu, apa kewajiban seorang hamba ketika menerima begitu banyak nikmat? Jawabannya adalah bersyukur. Allah berfirman:
وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: “Dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 144).
Tiga Bentuk Syukur
Para ulama menjelaskan bahwa praktik bersyukur dapat dilakukan melalui tiga cara.
Pertama, bersyukur dengan hati.
Yaitu menghadirkan rasa senang dan bangga atas hidayah yang Allah berikan. Seorang mukmin hendaknya merasa bangga menjadi orang beriman, tidak merasa berat atau terbebani dengan identitas keimanannya.
Kedua, bersyukur dengan lisan.
Yakni membiasakan ucapan yang baik dan kalimat thayyibah. Mengucapkan *alhamdulillah*, *subhanallah*, serta kalimat pujian kepada Allah. Ketika menerima kebaikan dari orang lain, kita mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut, dan kepada Allah kita ucapkan *alhamdulillah*.
Ketiga, bersyukur dengan perbuatan.
Bentuknya adalah kesungguhan dalam menertibkan ibadah wajib dan berupaya meningkatkan amalan-amalan sunnah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan terbaik dalam hal ini. Padahal beliau telah dijamin ampunan dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Namun, beliau tetap melaksanakan shalat malam hingga kedua kakinya bengkak. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya: “Apakah tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2819).
Hadis ini menunjukkan bahwa syukur sejati diwujudkan melalui perbuatan nyata, dengan meningkatkan kualitas ibadah dan ketaatan kepada Allah.
Syukur dalam Setiap Peran Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap posisi yang Allah tetapkan adalah nikmat yang patut disyukuri. Baik sebagai pelajar, mahasiswa, santri, pedagang, maupun pekerja.
Bagi yang sedang bersekolah, diterima di suatu sekolah adalah nikmat besar. Wujud syukurnya adalah bersungguh-sungguh dalam belajar, tertib kehadiran, dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Bagi yang berdagang, diberi kesempatan untuk berjualan merupakan nikmat. Rasa syukurnya diwujudkan dengan terus memperbaiki kualitas, berinovasi, dan memberikan yang terbaik bagi konsumen.
Bagi yang kuliah, kesempatan menuntut ilmu di perguruan tinggi adalah nikmat luar biasa. Maka hendaknya fokus, serius, dan berusaha meraih hasil yang terbaik.
Bagi yang mondok di pesantren, rasa syukur ditunjukkan dengan menyelesaikan target-target pendidikan dan pembinaan dengan penuh kesungguhan.
Begitu pula bagi yang bekerja, syukur diwujudkan dengan bekerja secara maksimal, profesional, dan penuh tanggung jawab.
Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Sebagaimana firman-Nya:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7).
Jika seseorang bersyukur dalam pendidikannya, pekerjaannya, maupun usahanya, maka Allah akan meningkatkan keberkahan dan hasilnya. Perlu disadari pula bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Bahkan bisa jadi ada orang lain yang menginginkan posisi yang saat ini kita jalani.
Oleh sebab itu, agar nikmat yang ada tetap terjaga dan Allah menambahkan nikmat-nikmat lainnya, sudah sepatutnya setiap hamba membiasakan diri untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan. Karena syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kewajiban yang harus diwujudkan sepanjang kehidupan. (Inggri)












