Jakarta (10/3). Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII menggelar media gathering untuk menyampaikan agenda Musyawarah Nasional (Munas) X LDII. Rencananya, munas tersebut bakal digelar pada 7–9 April 2026.
Ketua Umum DPP LDII Chriswanto Santoso menegaskan, Munas X akan menyoroti dampak dinamika geopolitik global terhadap ketahanan nasional, termasuk sektor ekonomi, pangan, dan energi, “Perkembangan situasi global, termasuk konflik di Timur Tengah, membuat LDII menilai pentingnya memasukkan isu geopolitik sebagai salah satu pembahasan utama. Namun, Munas X tetap dirancang untuk memperkuat agenda penyiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045,” papar KH Chriswanto pada Senin (9/3/2026) di hadapan pewarta media nasional.
Ia menambahkan, perang yang terjadi di suatu kawasan bisa berdampak global. Karena itu bangsa Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional, bukan hanya dari sisi pertahanan, tetapi juga ekonomi, pangan, kesehatan, dan kualitas sumberdaya manusia.
Ketua Umum DPP LDII itu juga menanggapi isu keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP). Termasuk, terkait rencana pengiriman 8.000 pasukan Indonesia untuk misi perdamaian di Gaza, “Kami menghargai sikap pemerintah. Tentu pemerintah karena itu juga berlandaskan kepada pembukaan undang-undang yang memerintahkan untuk ikut serta menjaga kesehatan dunia. Yaitu menjaga, ikut serta menjaga perdamaian dunia,” ujarnya.
Ia menilai pengiriman tentara Indonesia tidak menjadi persoalan, selama berada dalam kerangka misi penjaga perdamaian dan mewujudkan stabilitas kawasan, “Indonesia sudah lama mengirim pasukan perdamaian melalui Pasukan Garuda di berbagai negara. Selama tugasnya memang untuk menjaga perdamaian dan melindungi masyarakat sipil, itu tidak masalah,” ujarnya.
KH Chriswanto berharap, pasukan Indonesia dipastikan tidak terlibat dalam konflik bersenjata secara langsung. Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi kembali keikutsertaan pasukan Indonesia jika mandatnya berubah, “Kalau fungsinya benar-benar sebagai pasukan penjaga perdamaian, itu baik. Tapi kalau sampai dijadikan tameng atau justru terlibat dalam konflik, tentu harus dipertimbangkan kembali,” katanya.
Selain isu geopolitik, Munas X juga akan tetap berpegang pada delapan program prioritas LDII. Antara lain bidang kebangsaan, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.
KH Chriswanto berharap, melalui Munas X, LDII berharap dapat merumuskan langkah strategis organisasi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Hasil Munas diharapkan juga dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan nasional.
“Kami berharap Munas ini melahirkan rekomendasi yang bermanfaat bagi negara dan masyarakat Indonesia, terutama dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak menentu,” pungkas KH Chriswanto.

