Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

2026/01/19
in Opini
0
Ilustrasi kehangatan keluarga.

Ilustrasi kehangatan keluarga.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Siti Nurannisaa

Tantangan mendidik anak tidak lagi semata-mata berkaitan dengan fasilitas, akses pendidikan, atau kecanggihan teknologi, tapi bagaimana menanamkan nilai. Di sisi lain, orangtua dan pendidik mengharapkan anak tumbuh disiplin, mandiri, dan tangguh. Namun, kehidupan sehari-hari yang dipenuhi kenyamanan, hiburan tanpa jeda, serta solusi cepat — tanpa memperhatikan proses — menjadi masalah tersendiri dalam upaya menanamkan nilai-nilai luhur itu.

Lalu, bagaimana strategi menanamkan nilai-nilai luhur dalam dunia yang digital dan instan ini? Pembiasaan menjadi solusi. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, para pendidik termasuk orangtua harus konsisten melakukan pembiasaan-pembiasaan kecil yang terus diulang di rumah, di sekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari. Kedisiplinan dan konsistensi menjadi kata kunci.

Persoalannya, kedisiplinan kerap menjadi sumber kesalahpahaman, karena anggapan bahwa disiplin sebagai kepatuhan kaku pada aturan atau jadwal, seolah-olah perubahan hanya dapat dicapai melalui paksaan dan tekanan. Padahal, dalam keseharian keluarga dan ruang pendidikan, disiplin lebih sering hadir sebagai rangkaian pilihan kecil yang terus dihadapi: antara menunda atau menuntaskan, antara mencari kenyamanan sesaat atau memberi ruang bagi pertumbuhan.

Hal yang perlu diingat disiplin tidak bekerja semata-mata melalui niat atau kemauan, melainkan melalui cara seseorang merespons godaan, mengelola waktu, serta menjaga konsistensi dalam proses yang berulang. Salah satu contoh adalah bila ayah ibu ingin ingin memiliki rumah yang selalu rapi, maka keinginan itu tidak tercipta dari teknis proses pembersihan yang besar, namun konsistensi untuk membersihkan, walaupun hanya beberapa menit setiap harinya. Ketika dijalani secara sadar, disiplin tidak terasa sebagai beban.

Berbagai aktivitas yang menuntut disiplin, pada akhirnya melatih pikiran untuk terbiasa memilih jalur yang selaras dengan arah jangka panjang, meskipun jalur tersebut menuntut kesabaran dan ketekunan. Tujuan bukan sekadar rumah yang rapi hari ini, melainkan membentuk identitas hunian yang tetap. Untuk itu, jangan menyerah jika jadwal bersih-bersih terasa berat di minggu pertama, dalam beberapa waktu kemudian, disiplinlah yang bertransformasi menjadi rutinitas otomatis yang ringan dilaksanakan.

Hal yang perlu juga menjadi perhatian, kebiasaan baru yang mulai dilatih itu, selalu membangkitkan konflik batin. Setiap upaya untuk berubah menuntut tenaga lebih, seperti membuka jalan di wilayah yang belum pernah dilalui, sementara pola lama menawarkan jalur yang sudah dikenal dan terasa lebih ringan. Situasi ini kerap muncul dalam keseharian keluarga, misalnya saat orangtua berusaha membatasi waktu layar anak atau membangun rutinitas belajar yang lebih teratur. Niat sudah ada, tetapi rasa lelah setelah bekerja, keterbatasan waktu, serta godaan solusi instan sering kali membuat upaya tersebut terasa berat.

Dalam kondisi seperti itu, rasa enggan, lelah, atau ragu kerap muncul dan disalahpahami sebagai tanda kegagalan pribadi. Padahal, tarik-menarik antara keinginan untuk tetap nyaman dan dorongan untuk bertumbuh merupakan bagian wajar dari proses belajar. Disiplin hadir tepat di ruang ketegangan tersebut, misalnya ketika orang tua memilih untuk tetap mendampingi anak menyelesaikan satu tugas kecil, meskipun hasilnya belum rapi dan waktu terasa tidak ideal. Disiplin tidak menghapus rasa tidak nyaman, tetapi menjaga langkah agar tetap bergerak. Melalui kesetiaan pada langkah-langkah kecil inilah pembiasaan mulai bekerja secara perlahan.

Ingat, pembiasaan tidak berlangsung cepat atau dramatis. Proses ini bekerja secara pelan dan konsisten, penuh tahapan, serta sering kali tidak langsung terlihat hasilnya. Dalam keseharian keluarga, perubahan semacam ini hadir melalui hal-hal sederhana, seperti kebiasaan menyiapkan tas sekolah pada malam hari atau menyepakati waktu tidur yang lebih teratur. Proses tersebut tidak selalu rapi dan sesuai harapan. Maju dan mundur, berhasil dan gagal, serta semangat yang naik turun merupakan bagian darinya. Setiap pengulangan kecil memberi ruang bagi diri untuk mengenali pola baru.

Disiplin Membangun Identitas

Ketika disiplin menjaga pengulangan tersebut, pembiasaan mulai terbentuk. Pada tahap ini, disiplin tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan hadir sebagai bagian dari ritme hidup sehari-hari. Ada orang tua yang pada awalnya harus mengingatkan anak berkali-kali untuk mematikan gawai dan bersiap tidur. Proses tersebut melelahkan dan kerap diwarnai emosi. Namun, setelah pengulangan yang panjang dan tidak selalu mulus, suatu malam anak justru menutup layar sendiri dan berkata, “Sudah waktunya tidur.” Tidak ada perayaan, tidak ada pencapaian besar. Hanya satu momen kecil yang menyadarkan bahwa sesuatu telah berubah. Pada saat itulah disiplin tidak lagi datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam diri.

Apabila pembiasaan dijalankan secara konsisten, dampaknya tidak berhenti pada perubahan perilaku, melainkan bergerak lebih jauh hingga membentuk identitas. Kebiasaan yang diulang perlahan menjadi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Seseorang yang terbiasa menjaga pola makan sesuai kebutuhan tubuh, misalnya, lambat laun mengenali dirinya sebagai pribadi yang peduli pada kesehatan. Anak yang dibiasakan menyelesaikan berbagai tanggung jawab kecil, mulai melihat dirinya sebagai pribadi yang dapat diandalkan. Hal serupa terjadi ketika seseorang terbiasa mengelola keuangan, secara sadar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, lalu memaknai dirinya sebagai pribadi yang cermat dan bertanggung jawab.

Pada lingkup yang lebih luas, keluarga yang membiasakan refleksi, pengelolaan emosi, serta kebiasaan saling mendengarkan secara perlahan membangun identitas bersama. Keluarga tidak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan ruang aman untuk belajar, bertumbuh, dan saling memahami. Identitas semacam ini tidak lahir dari target besar atau nasihat panjang, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga dengan setia setiap hari.

Pembiasaan membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat bertahan dan berkembang. Lingkungan yang mendukung tidak menyulitkan seseorang untuk melakukan kebiasaan baik, sekaligus membantu kebiasaan tersebut tetap berlangsung. Tantangan muncul ketika pesan yang disampaikan tidak sejalan dengan praktik keseharian. Anak diajak gemar membaca, tetapi rumah dipenuhi distraksi layar tanpa batas. Sekolah menekankan pentingnya disiplin, tetapi apresiasi lebih sering diberikan pada hasil cepat dan angka akhir, bukan pada proses yang dijalani. Dalam situasi seperti itu, pembiasaan sulit tumbuh secara utuh.

Sebaliknya, ketika orang dewasa memberi teladan, menjaga rutinitas tetap sederhana dan konsisten, serta membatasi distraksi secara wajar, anak berjumpa dengan lingkungan yang memberi arah tanpa banyak tekanan. Dalam suasana tersebut, kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari belajar, bukan sebagai kegagalan yang harus segera diperbaiki. Disiplin pun tidak lagi dialami sebagai beban dari luar, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan yang menyatu dengan keseharian.

Mempersungguh dalam Kondisi Tidak Ideal

Di tengah proses pembiasaan dan lingkungan yang tidak selalu ideal, diperlukan karakter yang menjaga arah perubahan. Karakter tersebut kerap disebut sebagai “mempersungguh”. Mempersungguh tidak berarti memaksa diri tanpa henti, melainkan kesediaan untuk tetap hadir dan berupaya meskipun kondisi tidak sepenuhnya mendukung. Dalam hal ini, para orangtua harus tetap menjaga rutinitas sederhana bersama anak, meskipun pulang dalam keadaan lelah atau waktu terasa sempit. Ada kalanya proses berlangsung seadanya dan jauh dari ideal.

Namun, dalam situasi seperti itu, mempersungguh hadir sebagai keberanian untuk tetap melangkah, meski dengan cara yang sederhana: tidak kuat, dikuat-kuatkan; tidak sempat, disempat-sempatkan; tidak bisa, dibisa-bisakan. Tujuannya bukan kesempurnaan, melainkan keberlanjutan. Mempersungguh inilah yang menjaga disiplin tetap hidup ketika rasa lelah, jenuh, atau ragu muncul di sepanjang proses.

Agar kesungguhan tidak berubah menjadi tekanan, diperlukan karakter lain yang menyeimbangkan proses, yaitu bersyukur. Bersyukur membantu seseorang memandang perjalanan perubahan secara lebih utuh. Proses tidak selalu rapi. Ada jeda, ketidaksesuaian, bahkan saat-saat ketika langkah perlu diulang dari awal. Kendala dan masalah hampir pasti muncul dalam setiap upaya mencapai tujuan. Bersyukur dihadirkan dalam berbagai situasi sederhana antara orangtua dan anak. Ada orangtua yang berusaha membangun kebiasaan belajar rutin setiap sore, tetapi mendapati anak sering lelah dan sulit fokus. Beberapa hari berjalan lancar, beberapa hari lainnya berantakan.

Dalam kondisi seperti itu, bersyukur membantu orang tua menghargai proses yang sedang berlangsung. Hari ketika anak hanya mampu bertahan 10 menit tetap dipandang sebagai bagian dari upaya, bukan sebagai kegagalan. Dari cara pandang inilah ketenangan tumbuh. Disiplin tidak dijalani dengan rasa berat yang berlebihan, dan mempersungguh tidak menjelma menjadi paksaan tanpa empati. Proses belajar pun tetap berjalan, meski perlahan, dengan ruang yang lebih nyaman bagi orang tua dan anak.

Dalam pembiasaan, karakter seperti mempersungguh dan bersyukur menjaga cara seseorang memandang proses agar tetap manusiawi. Namun, proses pembiasaan tetap memerlukan dorongan untuk bergerak, terutama pada tahap-tahap awal. Pada titik inilah motivasi memiliki peran. Motivasi sering hadir sebagai pemantik yang mendorong seseorang untuk memulai, akan tetapi, sifatnya emosional dan situasional. Motivasi dapat muncul dengan kuat, lalu melemah ketika pengulangan terasa membosankan atau hasil belum terlihat. Karena itu, dalam proses pembiasaan, motivasi perlu ditempatkan secara proporsional.

Perubahan yang bertahan tidak disangga oleh motivasi semata, melainkan oleh disiplin, pembiasaan itu sendiri, dan karakter mempersungguh yang dijaga dari hari ke hari. Motivasi membantu melangkah pertama, tetapi kesungguhanlah yang memastikan langkah tersebut terus berlanjut.

Dalam proses pembiasaan, langkah konkret sering kali justru berangkat dari hal-hal kecil yang dilakukan secara sadar dan berulang. Di dalam keluarga, upaya ini dapat dimulai dengan menyepakati waktu tanpa gawai, menjaga rutinitas pagi dan malam yang sederhana, atau menuntaskan satu tanggung jawab kecil setiap hari. Ada pula keluarga yang menutup hari dengan refleksi singkat tentang apa yang telah diupayakan dan disyukuri, tanpa penilaian berlebihan.

Di lingkungan pendidikan, kebiasaan serupa dapat hadir melalui rutinitas kelas yang ajeg, penggunaan bahasa yang menghargai proses, serta keteladanan orang dewasa dalam bersikap dan bertindak. Perubahan tidak menuntut kesempurnaan. Kesediaan untuk memulai dan mengulang, meskipun sederhana, sering kali sudah cukup untuk menjaga arah perubahan tetap berjalan.

Pada akhirnya, disiplin bukan tentang bersikap keras pada diri sendiri, melainkan tentang kesetiaan pada arah yang ingin dituju. Pembiasaan memberi jalan, mempersungguh menjaga langkah, dan rasa syukur memastikan proses tetap manusiawi di sepanjang perjalanan. Identitas tidak dibentuk oleh momen-momen besar yang sesekali terjadi, tetapi oleh jalur-jalur kecil yang dipilih dan dijaga secara berulang.

Dari sanalah cara seseorang memandang diri, keluarga, dan proses hidupnya perlahan terbentuk. Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa besar perubahan yang ingin dicapai, melainkan kebiasaan kecil apa yang hari ini bersedia kita jaga agar esok, keluarga dan generasi yang tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan.

*) Dr. Siti Nurannisaa P.B., S.Sn., M.Pd. adalah psikolog sekaligus Ketua Korbid Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga

Tags: Kebiasaan sehari-hariMembentuk Identitas Diripemberdayaan perempuanPembiasaan KeluargaSiti Nurannisaa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Angka DH on Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam
  • Angka DH on Bersama Babinsa dan Warga Desa, LDII Pamenang Selatan Bangun Masjid Baitul Ghofur
  • Pri Adhi Joko Purnomo on Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam
  • Pri Adhi Joko Purnomo on LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib
  • Angka DH on LDII Rungkut Gelar Pengajian Akhir Tahun, Bentuk 29 Karakter Luhur Remaja
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam

Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam

January 15, 2026
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak

Pimpin Apel Malam, Wamenhaj Dahnil: Presiden Pasti Bangga Lihat Diklat Ini

January 16, 2026
LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib

LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib

January 15, 2026
Itjen Kemenhaj: Tak Ada Ruang Bagi Pelaku Pelecehan Seksual Haji 2026

Itjen Kemenhaj: Tak Ada Ruang Bagi Pelaku Pelecehan Seksual Haji 2026

January 17, 2026
LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib

LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib

28
Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam

Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam

6
LDII Rungkut Gelar Pengajian Akhir Tahun, Bentuk 29 Karakter Luhur Remaja

LDII Rungkut Gelar Pengajian Akhir Tahun, Bentuk 29 Karakter Luhur Remaja

4
LDII Berau Gelar Ngaji Khusus Wanita, Ingatkan Pentingnya Meningkatkan Ilmu Agama

LDII Berau Gelar Ngaji Khusus Wanita, Ingatkan Pentingnya Meningkatkan Ilmu Agama

2
Petunjuk

Petunjuk

January 19, 2026
Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri

January 19, 2026
FLO Audiensi dengan DPRD untuk Perkuat Nilai Strategis Ormas

FLO Audiensi dengan DPRD untuk Perkuat Nilai Strategis Ormas

January 19, 2026
LDII Kalbar dan STAI Mempawah Kerja Sama Wujudkan Kampus Hijau dan Pelopor Peduli Lingkungan

LDII Kalbar dan STAI Mempawah Kerja Sama Wujudkan Kampus Hijau dan Pelopor Peduli Lingkungan

January 19, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Petunjuk January 19, 2026
  • Pembiasaan dalam Keseharian yang Membentuk Identitas Diri January 19, 2026
  • FLO Audiensi dengan DPRD untuk Perkuat Nilai Strategis Ormas January 19, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.