Oleh Siti Nurannisa P.B.*
Pagi yang sering dimulai dengan kalimat sama “Ayo cepat.” Cepat makan, cepat mandi, cepat pakai sepatu. Di sela menyiapkan sarapan, mengecek tas sekolah, dan memastikan tidak ada yang tertinggal, rumah bergerak dalam ritme siaga dan tergesa. Sementara itu, anak-anak bergerak dengan kecepatannya masing-masing, mencoba menjalani pagi dengan waktunya sendiri. Ada yang masih perlu waktu mengikat tali sepatu, ada yang masih perlu mencoba dua kali untuk memasukkan buku ke tas dengan benar, ada pula yang masih perlu memahami pertanyaan, berpikir lama sebelum menjawab.
Ketika anak membutuhkan lima menit untuk memakai sepatu, yang terlihat sering kali hanya keterlambatan. Ketika anak menumpahkan air saat mencoba membantu, yang tampak hanyalah kekacauan yang harus segera dibersihkan. Ketika seorang remaja tiba-tiba memilih diam di kamar atau menjawab singkat dengan nada yang terdengar keras, yang terlihat sering kali hanya sikap sulit diatur. Dalam keseharian yang serba cepat, momen-momen kecil seperti itu mudah sekali dianggap sebagai gangguan. Di balik kejadian-kejadian itu, sebenarnya sedang berlangsung proses yang jauh lebih penting. Mereka sedang belajar mengoordinasikan gerak tubuhnya, memahami tanggung jawab, dan mengumpulkan keberanian untuk mencoba. Banyak kemampuan hidup justru tumbuh dari percobaan yang tidak rapi, dari langkah-langkah kecil yang masih goyah.
Ketergesaan orang dewasa sering membuat proses itu terpotong. Jika setiap proses terburu diambil alih karena alasan waktu, yang selesai memang tugasnya, namun yang tertunda adalah kesempatan anak untuk membangun kemandiriannya. Di titik itulah perbedaan ritme mulai terasa. Waktu orang dewasa yang bergerak cepat, sementara waktu anak berjalan lebih perlahan, mengikuti irama pembelajaran dan penemuan yang baru dimulai. Di antara dua ritme berbeda itulah pengasuhan berlangsung: ritme orang tua yang membawa pengalaman dan harapan, serta ritme anak yang berjalan mengikuti rasa ingin tahu dan dunianya sendiri. Dalam pengasuhan, waktu sering kali bukan sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sesuatu yang perlu dipahami.
Di banyak keluarga di negeri ini, rumah sejak lama dipahami sebagai tempat pertama anak belajar tentang sikap dan adab. Namun tanpa disadari, rumah kerap berubah menjadi ruang koreksi. Teguran menjadi lebih cepat disampaikan daripada apresiasi. “Kenapa sih tidak hati-hati?” atau “Makanya, bicara!” kalimat yang lebih mudah terucap dibandingkan, “Terima kasih sudah mau membantu,” atau “Ibu akan menunggu kamu siap berbicara.” Jika diperhatikan dengan tenang dan penuh kesadaran, ada banyak kebaikan kecil sebenarnya sedang tumbuh, dari mencoba lagi setelah gagal, menawarkan diri membersihkan tumpahan air, atau memilih diam saat emosi sedang tinggi sambil menunggu hati lebih tenang untuk berbicara. Kebaikan-kebaikan seperti ini jarang diumumkan atau dibagikan ke ruang-ruang ramai yang dilihat banyak orang. Namun justru di sanalah fondasi karakter terbentuk, dari peristiwa-peristiwa kecil yang jarang dianggap penting, dalam keseharian, sedikit demi sedikit, melalui pembiasaan yang tampak sederhana.
Dinamika kecil di rumah sering kali tidak berdiri sendiri. Di luar rumah, tekanan zaman menambah lapisan tantangan. Saat melihat anak lain sudah lancar membaca, mengikuti berbagai kursus, atau memiliki pencapaian tertentu, tanpa sadar muncul pertanyaan dalam hati, “Apakah saya kurang serius ?”. Setiap keluarga memiliki ritme, tempo, irama, kapasitas, dan dinamika berbeda. Sering kali yang terlihat hanya hasilnya, anak yang rapi atau tidak, atau prestasi yang tercapai atau belum. Sering kali yang terlihat hanya hasilnya: anak tampak rapi atau tidak, prestasi sudah tercapai atau belum. Pengasuhan bukan perlombaan, melainkan perjalanan memperbaiki dan menumbuhkan diri. Hari ini mungkin belum tercapai tujuannya, tetapi bisa lebih sabar daripada kemarin, lebih mendengar sebelum menyimpulkan, lebih tenang saat menghadapi kesalahan. Kematangan anak tidak muncul tiba-tiba. Anak tumbuh dari konsistensi, dari perhatian yang berulang, dari doa-doa yang mungkin tidak pernah diumumkan, yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan kedalaman.
Ada pula kerja-kerja senyap yang jarang disadari. Bangun lebih awal untuk memastikan seragam sudah siap, mengingatkan jadwal tanpa terdengar memerintah, mengulang nasihat yang sama dengan cara berbeda, menahan lelah ketika tetap harus mendengarkan cerita panjang yang sebenarnya sudah pernah didengar kemarin. Ada pesan yang diketik lalu dihapus agar tidak melukai. Ada air mata yang ditahan di kamar mandi supaya suasana tetap stabil. Tidak ada laporan tertulis tentang itu. Tidak ada penghargaan resmi untuk kesabaran yang dipilih berkali-kali dalam sehari. Namun dari rutinitas itulah rumah menjadi tempat yang aman, sebuah ruang di mana anak belajar tentang kasih sayang, kesabaran, dan adab yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pengasuhan adalah jejak. Ia tidak selalu terlihat saat sedang dijalani, tetapi tampak ketika waktu berjalan. Jejak itu hidup dalam cara anak memperlakukan orang lain, dalam keputusan yang ia ambil saat tidak diawasi, dalam ketenangan yang ia miliki ketika menghadapi kegagalan. Tidak semua anak mengingat nasihat, tetapi mereka akan mengingat rasa yang tertinggal, apakah rumahnya dulu tempat yang aman untuk belajar menjadi manusia.
Waktu dan berbagai kejadian kelak akan mengingatkan kembali arti dan makna pengasuhan yang semakin dalam, sebuah bentuk amal yang akan terus mengalir. Setiap kesabaran yang ditahan saat ingin marah, setiap syukur yang diucapkan meski lelah, setiap doa yang dipanjatkan dalam diam setelah anak tertidur, semua itu tidak berhenti pada satu hari. Ia bergerak mengikuti pertumbuhan anak, bahkan mungkin terus hidup dalam kebaikan yang akan ia lakukan kelak.
Maka hari ini, yang bisa dilakukan mungkin sederhana. Melambat satu menit ketika ingin tergesa. Mengganti satu teguran dengan satu pertanyaan. Mengucapkan terima kasih atas satu kebaikan kecil. Bersabar lebih panjang sedikit dari biasanya. Bersyukur atas proses yang belum sempurna. Dan terus berdoa dengan keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Karena pengasuhan bukan hanya tentang menyelesaikan hari ini. Ia adalah jejak yang, dengan izin-Nya, akan melampaui waktu.
*) Dr. Siti Nurannisa P.B., S.Sn., M.Pd. adalah Koordinator Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPP LDII.










