Kediri (23/2). DPD LDII Kota Kediri menggelar Pengajian Akbar Pemuda LDII yang diikuti ribuan peserta dari kalangan generasi penerus (generus) LDII Kediri. Kegiatan tersebut berlangsung pada pada Minggu, (15/2/2026) di Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, Kota Kediri, Jawa Timur.
Kegiatan tersebut bertajuk “Mewujudkan generasi LDII Profesional Religius, Berkarakter Luhur Menuju Indonesia Emas 2045”. Pengajian itu menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda agar memiliki pondasi keimanan yang kuat, akhlak mulia, serta kesiapan profesional dalam menghadapi tantangan zaman.
“Generasi penerus penting untuk meningkatkan kepahaman agama melalui tiga pilar utama, yaitu berakhlakul karimah, alim faqih, dan mandiri. Akhlakul karimah kami tempatkan di urutan pertama karena ini sangat penting. Generasi penerus harus meneladani perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ustadz Naufal.
Ia menjelaskan peningkatan pemahaman agama tidak hanya melalui pembelajaran formal. Tetapi juga dengan membiasakan diri gemar mengaji, senang mendengarkan nasihat, dan memilih lingkungan pertemanan yang baik dan saleh.
“Lingkungan yang positif sangat berpengaruh dalam menjaga konsistensi ibadah dan membentuk karakter yang kuat. Di akhir zaman akan banyak fitnah. Bisa jadi seseorang pagi hari beriman, sorenya berubah. Begitu pula sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa iman itu bisa mudah terbolak-balik jika tidak dijaga,” ujarnya.
Ustadz Naufal menjelaskan bahwa tantangan generasi saat ini semakin kompleks, salah satunya melalui penggunaan handphone. Ia mengibaratkan teknologi sebagai pisau bermata dua yang dapat membawa kebaikan sekaligus keburukan, tergantung bagaimana penggunanya memanfaatkan, “HP bisa menjadi sarana kebaikan, belajar, dan berdakwah. Tapi juga bisa membawa pada kemaksiatan. Maka generasi penerus harus pintar dan bijak dalam menggunakannya,” tegasnya.
Sementara itu, Ustadz Semoga Jaya menyampaikan bahwa generasi penerus harus merasa bangga karena mendapatkan kesempatan dibina dalam kebaikan. Ia menyebut bahwa tidak semua orang terpilih untuk berada dalam lingkungan yang membimbing menuju jalan keselamatan, “Jadilah calon ahli surga. Karena ahli surga bisa dilihat dari amalnya di dunia. Seorang calon ahli surga pasti mengamalkan amalan-amalan ahli surga,” ungkapnya.
Ia menerangkan, perbuatan seseorang di dunia menjadi cerminan akhir kehidupannya. Mereka yang terbiasa melakukan kebaikan dan menjauhi maksiat akan terbentuk menjadi pribadi yang taat, sedangkan kebiasaan melanggar dan berbuat maksiat akan menyeret pada keburukan, “Pergaulan itu tergantung dengan siapa kita bersama. Lingkungan akan sangat memengaruhi karakter dan kebiasaan kita,” pesannya.
Ustadz Jaya menekankan bahwa generasi menuju Indonesia Emas 2045 harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan spiritual. Menurutnya keberhasilan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh akhlak dan integritas moral generasi mudanya, “Kalau sejak muda sudah terbiasa disiplin ibadah, menjaga akhlak, dan memilih pergaulan yang baik, insyaAllah ke depan akan menjadi pemimpin yang amanah dan profesional,” tutupnya.












