Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Setelah sekian waktu menunggu. Setelah sekian lama mencari. Melewati riak gelombang kehidupan dengan asam dan pahitnya. Seolah menggiring pemahaman seperti apa yang disampaikan oleh Sang Guru Bijak di waktu lampau. Seolah waktu melambat dan terhambat. Namun, tidak ada sesuatu yang sia-sia jika itu menyangkut sebuah pemahaman dan pendewasaan. Apalagi kalau itu sebuah pencerahan batin. Sungguh tak ternilai harganya. Dan tidak bisa dibandingkan. Hanya rasa syukur dan syukur yang terus menyusul menggema. Itu adalah terkait ayat indah ini.
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا ۢ بَعْدَ اِذْ هَدٰىهُمْ حَتّٰى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَّا يَتَّقُوْنَۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“ Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah Dia memberi mereka petunjuk, hingga Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 115)
Ayat ini hadir sebagai penenang bagi hati yang gelisah. Ia menjawab kegundahan manusia tentang hidayah: apakah petunjuk bisa hilang begitu saja? Apakah Allah menyesatkan tanpa sebab? Surah At-Taubah ayat 115 menegaskan sebuah prinsip agung dalam Islam: kesesatan tidak datang secara tiba-tiba, dan hidayah tidak dicabut tanpa penjelasan.
Allah menutup segala pintu prasangka. Ia menyatakan bahwa Dia tidak menyesatkan suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk, hingga terlebih dahulu dijelaskan kepada mereka batas-batas yang harus dijaga. Artinya, kesesatan lahir bukan dari ketidaktahuan, melainkan dari pengabaian yang disengaja.
Hidayah dan Tanggung Jawab Moral
Para salaf memahami ayat ini sebagai pengikat antara ilmu dan tanggung jawab. Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما menafsirkan: “Allah tidak menghukum suatu kaum karena kesalahan, hingga Dia menjelaskan kepada mereka mana yang halal dan mana yang haram.” Dengan demikian, hidayah bukan sekadar anugerah pasif, tetapi amanah aktif. Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran, maka sikapnya terhadap kebenaran itulah yang menentukan arah hidupnya.
Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata: “Sesungguhnya manusia binasa bukan karena tidak tahu, tetapi karena mengetahui lalu menyelisihi.” Ayat ini seakan menggemakan peringatan tersebut: menyimpang setelah tahu adalah awal kegelapan.
Penjelasan Mendahului Hukuman
Salah satu ciri keadilan Allah, sebagaimana dipahami oleh salafus-shalih, adalah bahwa penjelasan selalu mendahului konsekuensi. Imam Mujahid رحمه الله menyatakan:
“Allah tidak menyesatkan setelah memberi petunjuk kecuali setelah hujjah ditegakkan.”
Inilah rahmat dalam hukum Ilahi. Allah tidak memerangkap hamba-Nya. Ia mengutus rasul, menurunkan kitab, menjelaskan larangan dan perintah, serta membuka pintu taubat. Bahkan kesalahan yang lahir dari ketidaktahuan masih berada dalam naungan ampunan.
Ilmu sebagai Cahaya atau Beban
Namun ayat ini juga menyimpan peringatan yang halus: ilmu bisa menjadi cahaya, bisa pula menjadi beban. Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: “Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang berilmu yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya.” Ketika seseorang mengetahui apa yang harus dijauhi, tetapi memilih untuk mendekatinya, maka ia tidak sedang tersesat—ia sedang menolak petunjuk. Inilah yang membuat dosa setelah ilmu terasa lebih berat, bukan karena Allah kejam, tetapi karena manusia telah melukai nuraninya sendiri.
Hidayah yang Dijaga
Salaf memandang hidayah sebagai sesuatu yang perlu dipelihara. Ia tidak hilang karena lemahnya iman sesaat, tetapi karena kebiasaan meremehkan peringatan. Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: “Hidayah itu seperti tanaman; ia hidup dengan penjagaan dan mati karena kelalaian.” Surah At-Taubah ayat 115 mengajarkan bahwa menjaga hidayah berarti menjaga sikap terhadap peringatan: mendengar nasihat, menghormati batas, dan segera kembali ketika tergelincir.
Maha Mengetahui, Maha Menyayangi
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Para ulama salaf memahami penutup ini sebagai penghibur dan peringatan sekaligus: Allah mengetahui niat terdalam manusia, apakah ia tersesat karena lemah atau karena angkuh.
Ibn al-Qayyim رحمه الله menulis: “Hidayah bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat, sebagaimana iman bertambah dan berkurang.” Maka ayat ini bukan ancaman dingin, melainkan undangan hangat untuk terus menjaga diri dalam terang penjelasan Allah.
Surah At-Taubah ayat 115 mengajarkan bahwa selama manusia masih mau mendengar, memahami, dan berhati-hati terhadap larangan-Nya, hidayah tidak akan dicabut. Sebab Allah tidak menyesatkan hamba yang jujur mencari jalan-Nya. Ia hanya membiarkan tersesat mereka yang telah jelas jalannya, namun memilih untuk berpaling. Menyimpang dari kebenaran itu sendiri. Walau awalnya hanya coba-coba dan tidak sengaja.

