Jombang (17/3). Pondok Pesantren Gadingmangu menghadiri sarasehan bertajuk “Kemandirian Finansial Organisasi dan Lembaga: Kunci Terwujudnya Kesejahteraan Sosial”. Acara yang dihelat pada Senin (16/02/2026) ini mempertemukan sekitar 100 perwakilan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dari seluruh Kabupaten di Jawa Timur.
Kehadiran mereka untuk merumuskan strategi penguatan ekonomi lembaga yang berkelanjutan. Dalam sambutannya, Ketua LKKS Dinas Sosial Jawa Timur, Nadhir, menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendanaan bagi lembaga sosial. Ia memaparkan bahwa sumber dana tidak hanya bergantung pada aspek filantropis konvensional seperti kotak amal, tetapi harus mulai merambah ke dunia socialpreneur, “Melalui pendekatan ini, lembaga diharapkan mampu menghasilkan pendapatan secara mandiri yang seluruh hasilnya didedikasikan kembali untuk kepentingan sosial umat,” ujarnya.
Acara itu dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jombang, Sudiro Setiono, yang hadir mewakili Bupati Jombang. Sudiro menilai sarasehan ini merupakan langkah strategis dalam mengedukasi lembaga agar memiliki ketahanan finansial. Menurutnya, pemahaman mengenai strategi finansial yang mandiri sangat krusial, agar organisasi tidak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bantuan dari sumber eksternal yang seringkali bersifat fluktuatif.
Sementara dari sisi teknis, Silvia Andiani selaku pemateri menekankan pentingnya pergeseran paradigma atau mindset bagi pengelola lembaga. Ia menegaskan bahwa LKS masa kini harus mampu mengombinasikan antara program sosial dan usaha sosial. Dengan memiliki unit usaha yang dikelola secara profesional, lembaga dapat menghasilkan laba secara mandiri untuk membiayai operasionalnya, sehingga martabat lembaga tetap terjaga tanpa harus terus-menerus mengandalkan sumbangan.
Deni Zarkasyi, delegasi dari Pondok Pesantren Gadingmangu, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, materi yang didapat sangat relevan dengan kebutuhan lembaga keagamaan dan sosial saat ini. Deni mengakui bahwa manajemen dana yang sehat adalah tulang punggung organisasi, karena tanpa ketersediaan dana yang memadai, program-program pemberdayaan masyarakat tidak akan dapat berjalan secara optimal.
Melalui partisipasi aktif dalam forum ini, Pondok Pesantren Gadingmangu berharap dapat mengimplementasikan ilmu manajemen finansial tersebut di lingkungan pesantren. Langkah ini dipandang sebagai upaya nyata dalam mendukung terciptanya ekosistem lembaga sosial yang berdaya, transparan, dan mampu memberikan dampak kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat Jawa Timur melalui kemandirian ekonomi.

