Jakarta (9/4). Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-X Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Menteri yang akrab disapa Gus Irfan itu menyampaikan salam dari Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh peserta Munas. Ia juga mengungkapkan apresiasinya terhadap suasana kegiatan yang dinilai tertib, sejuk, dan harmonis.
“Suasana yang tercipta dalam pembukaan Munas ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pelaksanaan agenda besar organisasi kemasyarakatan lainnya ke depan,” ujarnya.
Gus Irfan turut mengapresiasi tema Munas X, yakni “Mengokohkan Peran LDII dalam Membangun Indonesia yang Berdaulat, Harmonis, dan Berkeadaban untuk Perdamaian Dunia.” Menurutnya, tema tersebut selaras dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.
Ia menegaskan bahwa tantangan global saat ini menuntut kemandirian di berbagai sektor strategis, seperti pangan, air, dan energi. Dalam konteks tersebut, peran organisasi kemasyarakatan dinilai penting dalam mendukung program pemerintah.
Terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, Gus Irfan memastikan pemerintah terus melakukan langkah antisipatif di tengah dinamika global.
“Meski terdapat tantangan kenaikan harga dan logistik, kami memastikan jadwal tetap berjalan sesuai rencana, yakni masuk asrama haji mulai 21 April dan pemberangkatan perdana pada 22 April 2026,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan keselamatan jamaah, sejalan dengan arahan Presiden. Kenaikan biaya operasional akibat tekanan global, lanjutnya, diupayakan tidak membebani jamaah haji.
“Pemerintah berkomitmen menjaga kelancaran ibadah haji tanpa membebani jamaah, meskipun ada tekanan biaya dari kondisi global,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gus Irfan menekankan bahwa pembangunan nasional membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga dunia pendidikan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, moderasi beragama dinilai menjadi kunci dalam menjaga persatuan.
Ia juga mengapresiasi kontribusi LDII yang selama ini aktif dalam dakwah yang menyejukkan serta penguatan karakter sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, peran LDII sangat strategis dalam menjembatani kebijakan pemerintah dengan implementasi di lapangan.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Pondok Pesantren Gadingmangu, Nurul Firdaus, menyatakan kesiapan pihaknya untuk mendukung visi pemerintah, khususnya dalam memperkuat moderasi beragama dan kemandirian nasional.
“Kami mengapresiasi langkah pemerintah yang mengedepankan keselamatan jamaah haji. Pesantren juga berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam memperkuat moderasi beragama serta mendukung program swasembada nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan serta kepedulian terhadap isu-isu nasional.
Dengan komitmen tersebut, Ponpes Gadingmangu optimistis dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan sosial dan mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.












