Jakarta (7/3). Pondok Pesantren (Ponpes) Minhaajurrosyidiin Jakarta kembali menggelar Ujian Hafalan Al Quran (UHQ) memanfaatkan momen Ramadan. Bagi para santri, kegiatan itu untuk menguji dan menguatkan hafalan Al-Qur’an mereka selama ini.
Melalui kegiatan tersebut, pihak Ponpes berharap dapat terus mencetak generasi qurani yang berakhlak mulia, cerdas, berjiwa sosial tinggi, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Ketua Yayasan Ponpes Minhaajurrosyidiin, Marsma (Purn) Sukur, mengapresiasi kegiatan itu dan mengingatkan para santri agar menyeimbangkan ibadah dengan kehidupan bermasyarakat.
“Walaupun santriwan/santriwati disibukkan dalam hal kebaikan menghafal Al Quran yang memiliki keutamaan yang sangat besar, namun harus tetap memiliki jiwa sosial yang tinggi, memiliki rasa empati terhadap lingkungan yang tinggi,” tegas Sukur.
Ia juga mengingatkan penghafal Al Quran harus mampu menyeimbangkan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Ujian hafalan tersebut, menurutnya tak hanya menjaga kualitas hafalan (mutqin) para santri, namun juga mengevaluasi capaian program tahfidz di lingkungan pesantren, serta menumbuhkan motivasi kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an.
Tahun ini, ujian tersebut diikuti oleh sebanyak 253 santriwan dan santriwati terpilih yang telah berhasil menghafal lebih dari lima juz. Acara yang berlangsung pada Rabu (4/3/2026) itu, dihadiri Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Bodhi Atarva Thanaswara beserta jajarannya.
Bodhi Atarva yang saat itu turut mengapresiasi kegiatan itu juga menegaskan komitmen pemerintah terhadap pendidikan pesantren dan para penghafal Al Quran, “Pemerintah melalui Kementerian Agama selalu mendukung para generasi bangsa yang menghafalkan Al Quran, sebagai budaya pesantren yang harus selalu dijaga dan dilestarikan guna memperkuat karakter para santri. Pemerintah juga memfasilitasi dengan pemberian beasiswa jalur Tahfidz Al Quran pada beberapa PTN,” ujarnya yang disambut antusiasme para santri.
Sementara itu Pengasuh Ponpes Minhaajurrosyidiin, KH Sampurno yang menutup dengan tausiah, dengan mengingatkan agar di momen Ramadan itu para hadirin juga memahami hakikat ibadah puasa, “Puasa memiliki makna menahan, bukan hanya menahan makan dan minum saja namun juga menahan dari hawa nafsu, perbuatan jelek, dan menahan diri perbuatan yang tidak bermanfaat cenderung mudarat,” tuturnya.
Selama Ramadan, ia berharap tujuan utama puasa dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah dapat terwujud, salah satunya dengan mengulang hafalan Quran.











