Jakarta (17/2). DPP LDII menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) sebagai forum konsolidasi organisasi untuk menyiapkan materi Musyawarah Nasional (Munas) sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program kerja. Rapimnas berlangsung di kantor DPP LDII, Jakarta, pada Senin (16/2/2026).
Agenda ini diarahkan untuk mempercepat akselerasi program agar selaras dengan kebijakan pembangunan nasional yang dirumuskan dalam Asta Cita. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pimpinan pusat dan daerah sebagai bagian dari proses penajaman strategi organisasi menjelang Munas yang dijadwalkan pada April mendatang.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menyampaikan Rapimnas merupakan forum tertinggi kedua dalam struktur organisasi setelah Munas. Ia menilai forum ini memiliki peran strategis dalam memastikan kesiapan seluruh perangkat organisasi menghadapi agenda nasional tersebut.
“Rapimnas ini diselenggarakan untuk menyukseskan pelaksanaan Munas pada April mendatang,” ujarnya.
Menurut KH Chriswanto, Rapimnas perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk memaksimalkan pengabdian pada akhir masa jabatan kepengurusan saat ini. Ia mengajak seluruh jajaran bekerja secara bertanggung jawab dan optimal dalam menyelesaikan program yang telah dirancang, “Kami menegaskan upaya terbaik tidak hanya menyangkut penyelesaian agenda kerja, tetapi juga memastikan setiap kebijakan memiliki dampak jangka panjang bagi organisasi.
Ia menambahkan, langkah yang diambil saat ini harus mampu menjadi fondasi bagi kepemimpinan berikutnya. “Orientasi utama konsolidasi diarahkan pada pembentukan sistem kerja yang tertata, budaya organisasi yang solid, serta kesinambungan kepengurusan yang terjaga,” tambahnya. KH Chriswanto menekankan pentingnya meninggalkan warisan positif dalam bentuk tata kelola organisasi yang berkelanjutan.
Dalam evaluasinya, ia mengakui masih terdapat tantangan pada aspek keberlanjutan kepengurusan, khususnya saat terjadi pergantian pengurus di tingkat wilayah. “Pergantian tersebut kerap menyebabkan proses adaptasi berjalan lambat akibat kurangnya kesinambungan dari kepengurusan sebelumnya. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian bersama agar tidak terulang,” tuturnya.
Ia mendorong perbaikan sistem regenerasi melalui pembinaan, pendampingan, serta transfer pengetahuan yang terstruktur. “Persiapan kader sejak dini dianggap penting agar kepengurusan selanjutnya dapat menjalankan tugas tanpa kendala adaptasi.,” dorongnya.
KH Chriswanto berharap Rapimnas menghasilkan komitmen bersama untuk memastikan proses transisi kepemimpinan berjalan terencana dan lancar, “Sehingga keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari capaian selama menjabat, tetapi juga dari kesiapan penerusnya,” harapnya.











