Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada cinta yang hanya menyala ketika lampu dinyalakan bersama.
Ada pula cinta yang tetap hidup ketika ruangan menjadi sunyi.
Ramadhan adalah musim. Ia datang membawa angin lembut, membangunkan yang lalai, menggerakkan yang beku. Masjid ramai. Al-Qur’an akrab di tangan. Air mata mudah jatuh.
Tetapi Allah bukan Tuhan musim. Ia adalah Rabb seluruh waktu.
Allah berfirman: “Maka tetaplah engkau pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)
Ayat ini tidak turun untuk Ramadhan saja. Ia turun untuk kehidupan.
Istiqamah bukanlah perasaan. Ia keputusan.
Ia bukan puncak emosi, tetapi disiplin sunyi. Seorang Alim-Faqih pernah berkata, “Bukanlah amal itu dinilai dari banyaknya, tetapi dari ketetapannya.”
Kita sering mencintai suasana ibadah, bukan ibadah itu sendiri. Kita menyukai keramaian takbir, bukan kesunyian tahajud di hari biasa. Kita menikmati lantunan tartil berjamaah, tetapi Al-Qur’an terasa berat ketika hanya kita dan mushaf. Padahal, di situlah kualitas cinta diuji.
Bayangkan seorang sahabat Nabi ﷺ yang hidup jauh setelah wafatnya Rasulullah. Tidak ada lagi suara wahyu turun. Tidak ada lagi sosok Nabi di tengah mereka. Tapi mereka tetap shalat, tetap menangis, tetap berjuang.
Mengapa?
Karena yang mereka cintai bukan suasana, tetapi Allah. Sahabat Abdullah ibn Masud berkata, “Janganlah kalian menjadi pengikut yang berkata: jika orang berbuat baik kami ikut baik, jika mereka zalim kami ikut zalim. Tetapi kokohkanlah diri kalian.”
Kesetiaan kepada Allah tidak bergantung pada ramai atau sepi. Hari-hari biasa adalah ladang kejujuran. Tidak ada pujian. Tidak ada sorotan. Tidak ada target khatam bersama. Hanya engkau. Dan catatan malaikat.
Di luar Ramadhan, dosa terasa biasa. Lalai terasa ringan. Menunda terasa wajar. Dan di situlah setan bekerja dengan tenang—bukan dengan badai, tetapi dengan angin kecil yang terus-menerus.
Istiqamah adalah melawan angin kecil itu. Membaca satu halaman ketika malas. Shalat tepat waktu ketika sibuk.
Menahan lisan ketika emosi. Tidak heroik. Tidak dramatis. Tapi dicintai Allah.
Nabi ﷺ bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meskipun sedikit.” (HR. Muslim)
Mengapa sedikit tapi terus-menerus lebih dicintai? Karena ia tanda cinta yang stabil. Karena ia bukti hubungan yang hidup. Karena ia menunjukkan bahwa engkau menyembah Allah, bukan momentum.
Seorang Guru Bijak menulis bahwa hati memiliki musim semangat dan musim lemah. Orang bijak bukan yang tidak pernah lemah, tetapi yang tetap menjaga jalur ketika lemah.
Hari ini mungkin tidak istimewa. Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada tangisan panjang. Tapi mungkin justru hari ini yang paling jujur. Karena engkau beribadah tanpa sorotan. Cobalah tanya pada dirimu malam ini:
Jika tidak ada yang tahu, apakah aku tetap akan melakukannya? Jika tidak ada Ramadan, apakah aku tetap akan menjaga Al-Qur’an? Jika tidak ada pujian, apakah aku tetap akan bersedekah?
Kesetiaan diuji dalam kesunyian. Dan Allah Maha Melihat kesunyian itu. Sepanjang waktu.

