Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Entah mengapa, ada saatnya kita lelah berbuat baik. Kita sudah menahan diri. Sudah membantu. Sudah mengalah. Tetapi balasannya tidak selalu setimpal.
Justru sebaliknya. Kadang malah disalahpahami. Kadang dilupakan. Kadang dibalas dengan dingin. Lalu hati bertanya: Untuk apa terus berbuat baik?
Di sinilah niat diuji.
Allah berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan, (seraya berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.’” (QS. Al-Insan: 8–9)
Mari belajr bersama dengan memperhatikan kalimat di atas: Tidak menghendaki balasan. Bahkan tidak menghendaki terima kasih.
Itulah kebebasan hati.
Selama kita menunggu balasan manusia, kita akan sering kecewa. Karena manusia terbatas. Lupa. Berubah.
Tetapi ketika orientasi kita adalah “mengharap wajah Allah”, tidak menghendaki balasan, tidak menghendaki terima kasih, kebaikan tidak lagi bergantung pada respons.
Nabi ﷺ bersabda: “Sambunglah silaturahim kepada orang yang memutusmu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan maafkanlah orang yang menzalimimu.” (HR. Ahmad)
Itu bukan standar biasa. Itu standar langit.
Sang Guru Bijak pernah berpesan indah, “Orang mulia tetap mulia meski diperlakukan buruk. Orang hina tetap hina meski diperlakukan baik.”
Artinya, kualitas kita tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain. Berbuat baik bukan transaksi. Ia adalah karakter.
Jika kebaikan kita berhenti ketika balasan tidak datang, mungkin sejak awal ia memang sedang berdagang.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Berbuat baiklah kepada siapa pun yang kau kehendaki, niscaya engkau menjadi tuannya.” Bukan tuan atas orang itu, tetapi tuan atas dirimu sendiri. Kebaikan yang tidak bergantung pada balasan membuat hati merdeka.
Allah melihat setiap kebaikan yang tak terlihat manusia. “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Tidak ada yang hilang.
Tidak ada yang sia-sia.
Tidak ada yang terlewat.
Mungkin bukan hari ini. Mungkin bukan dari orang yang sama. Tetapi Allah menyimpan catatan yang tidak pernah keliru.
Jika hari ini engkau merasa tidak dihargai, tetaplah baik. Jika engkau merasa diabaikan, tetaplah lembut. Jika engkau merasa disakiti, tetaplah jujur. Karena engkau tidak sedang menanam di tanah manusia. Engkau sedang menanam di ladang akhirat.
Dan di sana, tidak ada yang terbuang percuma.












