Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Masa depan selalu datang dengan dua wajah: harapan dan kecemasan. Kita merencanakan. Kita menghitung. Kita menyiapkan.
Namun, tetap saja ada ruang yang tak bisa kita kendalikan. Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika sakit? Bagaimana jika kehilangan?
Rasa takut sering bukan karena yang sudah terjadi, tetapi karena yang belum tentu terjadi. Allah berfirman: “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Jaminan itu sudah ada. Namun hati sering lebih percaya pada angka daripada pada janji Allah. Kita bekerja seakan semuanya bergantung pada usaha kita. Padahal usaha adalah kewajiban, hasil adalah ketetapan.
Nabi ﷺ bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikan indahnya burung itu. Ia tetap terbang. Ia tetap mencari. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah tenang setelah usaha.
Para Alim – Faqih menjelaskan bahwa tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, disertai dengan mengambil sebab. Artinya: Hati bersandar. Tubuh bergerak.
Kita cemas karena merasa sendirian menghadapi masa depan. Padahal Allah sudah ada di sana sebelum kita tiba.
Kita takut kehilangan pekerjaan. Padahal rezeki bukan nama perusahaan. Kita takut kehilangan orang. Padahal penjagaan bukan di tangan kita.
Umar ibn al-Khattab berkata, “Janganlah salah seorang dari kalian duduk dan tidak mencari rezeki, lalu berkata: Ya Allah berilah aku rezeki. Padahal ia tahu langit tidak menurunkan hujan emas dan perak.”
Ada keseimbangan: Berusaha tanpa panik. Merencanakan tanpa putus asa. Berikhtiar tanpa merasa berkuasa. Masa depan memang tidak pasti. Tetapi Allah pasti.
Dan sering kali yang membuat kita gelisah bukan takdir yang belum datang, melainkan pikiran yang terlalu jauh melompat. Kembalilah ke hari ini. Lakukan yang bisa dilakukan hari ini. Sisanya, serahkan.
Karena ketenangan bukan lahir dari kepastian masa depan, tetapi dari keyakinan kepada Yang Maha Menguasainya.













