Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang tidak berdarah, tetapi setiap kali diingat, ia kembali perih.
Kata-kata yang merendahkan. Pengkhianatan. Kehilangan. Harapan yang runtuh.
Kita sering berkata, “Aku sudah baik-baik saja.” Padahal sebenarnya kita hanya belajar mengalihkan.
Luka yang tidak diproses tidak hilang. Ia hanya bersembunyi. Dan kadang ia muncul dalam bentuk: emosi yang mudah meledak, ketidakpercayaan, atau hati yang sulit mencintai lagi.
Allah tidak pernah meminta kita berpura-pura kuat. Dalam Al-Qur’an, bahkan para nabi pun mengadu. Ya’qub berkata: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesedihan dan dukacitaku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)
Seorang nabi. Seorang ayah. Tetap menangis.
Artinya, kesedihan bukan tanda lemah. Ia tanda manusia. Masalahnya bukan pada luka itu sendiri. Masalahnya ketika kita membiarkannya menjadi identitas.
“Kamu orang yang pernah disakiti” bukan identitasmu.
“Kamu orang yang gagal” bukan identitasmu.
“Kamu orang yang ditinggalkan” bukan identitasmu.
Identitasmu adalah hamba Allah.
Sang Guru Bijak sering mengingatkan bahwa musibah bisa menjadi rahmat jika ia mendekatkan hati kepada Allah. Luka bisa menjadi jalan. Jika ia membuatmu lebih lembut. Lebih bijak. Lebih sadar bahwa dunia bukan tempat sempurna.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Ia membebaskan dirimu dari beban.
Karena membawa dendam terlalu lama seperti meminum racun dan berharap orang lain yang sakit.
Berdamai bukan berarti lupa. Ia berarti menerima bahwa itu bagian dari takdir yang membentukmu.
Dan mungkin, tanpa luka itu, kamu tidak akan sedalam sekarang.
Allah Maha Mengetahui. Termasuk air mata yang tidak pernah dilihat manusia.
Dan setiap rasa sakit yang kau tahan dengan sabar, tidak pernah sia-sia di sisi-Nya.











