Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada masa ketika hati terasa gelap. Bukan karena dosa besar. Tetapi karena terlalu lama jauh dari cahaya.
Dan cahaya itu adalah Al-Qur’an.
Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Cermati kembali kata penyembuh. Yang disembuhkan bukan tubuh. Tetapi dada. Hati. Pikiran.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk acara tertentu. Ia bukan hanya untuk Ramadan. Ia bukan hanya untuk orang yang sudah “baik”. Ia untuk hati yang sedang mencari arah.
Sering kali kita berkata, “Aku belum pantas mendekati Al-Qur’an.” Padahal justru karena kita belum pantas, kita harus mendekat.
Utsman ibn Affan berkata, “ Seandainya hati kita bersih, niscaya ia tidak akan pernah kenyang dari firman Allah.”
Jika terasa berat membaca, mungkin bukan karena ayatnya sulit. Mungkin karena hati lama tidak diajak berbicara dengan-Nya.
Hubungan dengan Al-Qur’an tidak harus langsung banyak. Mulailah sedikit. Tetapi rutin. Satu halaman dengan tadabbur lebih kuat daripada banyak tanpa hadirnya hati.
Seorang Alim – Faqih menulis bahwa Al-Qur’an adalah kehidupan hati sebagaimana air adalah kehidupan bumi. Tanpa air, bumi kering. Tanpa Al-Qur’an, hati mudah rapuh.
Kadang kita mencari motivasi di banyak tempat. Padahal jawaban sudah lama ada di rak rumah kita.
Al-Qur’an tidak hanya memberi hukum. Ia memberi perspektif. Ia menenangkan. Ia mengingatkan bahwa dunia bukan segalanya.
Dan yang paling indah: Setiap huruf yang kita baca bernilai pahala. Bahkan ketika terbata-bata, itu tetap dicatat. Dapat dua.
Mendekatlah bukan karena ingin cepat khatam, tetapi karena ingin dekat.
Karena cahaya tidak perlu dipahami seluruhnya untuk bisa menerangi. Ia cukup didekati.










